Peneliti LIPI Temukan Metode Atasi Longsor, Begini Kerjanya

 
 

TEMPO.CO, Bandung - Adrin Tohari tahu betul kapan tanah longsor akan terjadi. Pergerakan tanah di lereng akan terjadi bila muka air tanah di daerah itu naik melampaui bidang gelincirnya.

Berangkat dari fakta tersebut, Adrin dan sejumlah peneliti lain dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung membuat mekanisme menstabilkan lereng dengan metode siphon. Inovasi itu dinamakan Teknologi Gravitasi Ekstraksi Air Tanah untuk Kestabilan Lereng atau disingkat ThE GREATeSt.

Adrin mengklaim teknologi penanganan air tanah tersebut paling efektif dan ekonomis dibanding metode penguatan lereng dengan tiang pancang, bor, atau bronjong. Alat itu bisa diterapkan di lereng yang curam dan landai.

"Teknologi ini sangat sederhana karena hanya memerlukan lubang bor, filter isap, slang isap, dan sistem pengontrol ketinggian muka air tanah," katanya kepada Tempo, dua pekan lalu.

Rekayasa lain untuk menurunkan muka air tanah yang dalam pada kondisi lereng terjal juga bisa dilakukan dengan pengeboran sumur ukuran besar disertai pemboran horizontal untuk pemasangan pipa. Namun, biaya pembuatan konstruksinya terhitung mahal dan cara itu sulit dilakukan pada lereng dengan kemiringan landai.

Pada lereng terjal dengan muka air tanah yang dangkal, penurunan airnya bisa dilakukan dengan memasang pipa horizontal. "Tapi kinerja pipa penyalur ini mudah tersumbat akar tumbuhan serta material tanah yang terbawa oleh aliran air," ujarnya.

ThE GREATeST telah diuji coba di lereng kantor UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. Di lokasi itu, kemiringan lereng bergerak cukup landai, yaitu 15 derajat. "Terbukti alat itu bisa bekerja," ujar Adrin.

Pada musim hujan, tinggi muka air tanah di lereng tersebut berkisar 40-50 sentimeter di bawah permukaan tanah. Itu berarti lereng tersebut rawan tanah longsor.

Mereka harus menekan ketinggian air itu sampai 2,5-3 meter sesuai dengan pengukuran kedalaman bidang gelincir tanah. Menurut Adrin, ketinggian air tanah harus berada di bawah bidang gelincir untuk mencegah terjadinya tanah longsor.

Untuk menguji ThE GREATeSt, mereka menggali lubang sumur berdiameter 10 sentimeter sedalam 4 meter, lalu memasukkan pipa PVC berdiameter 7,6 sentimeter.

Pipa berpori itu akan memudahkan air tanah masuk. Filter pengisap air juga dimasukkan dalam pipa pada kedalaman 3 meter. "Fungsinya untuk menyaring kotoran yang terbawa air," ujar Adrin.

Pipa filter disambung ke slang pneumatik. Slang yang biasa dipakai untuk kompresor itu menjulur ke atas lubang lalu direntangkan di bawah permukaan tanah sepanjang lereng.

Slang pneumatik berfungsi menyalurkan air tanah yang masuk filter. Air tanah yang masuk lubang sumur dan filter akan menekan air ke atas lewat slang pneumatik.

Slang itu disambungkan ke sistem pengontrol muka air dan dibuang lewat pipa flushing. Tim peneliti masih perlu menyempurnakan sistem flushing secara otomatis untuk membuang gelembung udara, sehingga air dapat lancar keluar.

Dari uji lapangan, pipa berkatup terbukti kurang ampuh karena klepnya bisa gagal terbuka akibat kotoran dan material yang terbawa air. Pipa filter tanpa katup dan slang isap diameter 8 milimeter menunjukkan hasil terbaik.

"Muka air tanah turun dari 0,4 meter menjadi 3 meter dari permukaan tanah, dengan debit air maksimum yang terukur sebesar 87,6 liter per jam," kata Adrin.

Teknologi itu mereka nilai cocok untuk lereng tanpa hunian yang bisa longsor, seperti lereng di sisi rel kereta api, jalan raya, serta jalan tol. Di lereng dengan hunian penduduk, teknologi ini juga bisa diterapkan, tapi akan berdampak pada turunnya muka air sumur warga. Masalah itu bisa diatasi dengan cara membangun bak penampungan air di pipa pengeluaran, sehingga air tanah tetap dapat dipakai warga.

Adrin mengatakan, lereng rawan tanah longsor terdapat pada daerah yang susunan tanahnya berasal dari letusan gunung api muda, sehingga kekuatannya masih rendah karena belum terpadatkan.

Selain material tanahnya masih mudah lepas, tanahnya mudah jenuh air. Lereng tanah sedimen yang mudah mengembang dan menyusut akibat cuaca juga rawan tanah longsor.

"Saat musim kemarau tanahnya pecah-pecah, pada musim hujan menjadi bubur," ujarnya. Tanah seperti itu, misalnya, ada di sisi jalan tol Cipularang kilometer 91-92.

ANWAR SISWADI


Sumber : Tempo.co, 18 April 2016

Sivitas Terkait : Dr. Adrin Tohari