Perubahan Iklim Pengaruhi Siklus Hidup Tumbuhan di Kebun Raya Cibodas

 
 
Jakarta, GATRAnews - Kebun Raya Cibodas masih menjadi primadona bagi Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kebun raya yang berada dalam pengelolaan Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu menarik hampir satu juta kunjungan per tahunnya. Namun, siapa sangka keindahan kebun yang ditumbuhi ribuan jenis tumbuhan khas hutan tropis itu terkena dampak dari pemanasan global. 

Kepala Balai Konservasi Kebun Raya Cibodas, Agus Suhatman mengatakan suhu di wilayah Cibodas mengalami peningkatan. Peningkatan suhu ini rupanya menimbulkan anomali pada siklus hidup tanaman di Kebun Raya Cibodas. 

"Dalam lima puluh tahun terakhir, suhu di Cibodas meningkat dari 19 celcius, menjadi 21 celcius. Bahkan, ada tanaman yang tumbuh di dataran rendah

sekarang bisa tumbuh di sini. Misalnya jengkol, dulu enggak bisa survive di sini, sekarang bisa tumbuh," jelas Agus, saat ditemui GATRAnews di areal Kebun Raya Cibodas, Cianjur, beberapa waktu lalu. 

Sementara itu, peneliti LIPI yang menjabat sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) Kebun Raya Cibodas, Imam Surya mengatakan, fenomena pemanasan global yang menjadi isu internasional tersebut memang berdampak pada keanekaragaman hayati yang ada di kebun raya Cibodas. 

Namun, Surya tak bisa menjelaskan apa penyebab peningkatan suhu yang terjadi di kebun raya. "Ya, perubahan suhu memang terjadi, tapi kami belum bisa mengambil kesimpulan tentang apa yang menjadi penyebab peningkatan suhu ini. Apa karena pembangunan yang semakin marak, atau perubahan iklim. Perlu penilitian khusus untuk ini," ungkap Imam. 

Mengenai dampak perubahan iklim ini terhadap tumbuhan, Imam mengungkapkan, dalam berdasarkan catatan LIPI dalam 50 tahun terakhir, terjadi pergeseran siklus hidup tumbuhan yang terlihat dari proses pembungaan. "Misalnya bunga sakura, tahun lalu kami mengalami hujan terus menerus sepanjang tahun, tidak ada pembungaan sama sekali," jelasnya. 

Pada tahun 1950 an sampai 1990 an, kata Surya, pembungaan terjadi pada periode Januari dan Februari. Pada saat itu, bunga-bunga sakura juga tumbuhan bunga yang lainnya bermekaran. Mulai masuk tahun 2000 an, sampai sekarang, proses pembunggan terjadi pada periode Maret sampai April.  

"(Proses pembungaan) itu pun tidak full, artinya tidak berbunga lebat, hanya beberapa saja yang berbunga. Namun, saat hujan turun, bunga-bunga itu pun rontok, tidak kuat menahan terpaan angin dan hujan. Paling lama bisa bertahan seminggu," urainya. 

Saat ini, UPT BKT Kebun Raya Cibodas tengah melakukan penelitian tentang kajian stok karbon. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui stok karbon dari berbagai jenis lahan, dari kebun raya, lahan persawahan, dan hutan. 

"Tujuannya untuk mengecek karbon dari masing-masing lahan. Kami tidak bisa melawan perubahan iklim, tapi setidaknya bisa menjaga keselamatan keanekaragaman tumbuhan yang kami koleksi," tukas Surya.

 

Sumber : Gatra.com, 20 April 2017

Sivitas Terkait : Agus Suhatman M.P.
Diakses : 223    Dibagikan :