Potensi Pasar Alkes Nasional Tinggi

 
 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar alat kesehatan (alkes) di Indonesia hingga saat ini masih dipenuhi produsen luar negeri. Hal tersebut menunjukkan kebutuhan dan potensi pasar peralatan medis merek lokal terbilang tinggi.

Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan 95,13 persen produk alat kesehatan yang beredar di Indonesia merupakan impor. Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Bambang Subiyanto mengatakan dominasi ini bisa dipecah dengan sinergi antara akademisi, dunia bisnis, dan pemerintah.

"Kolaborasi antara periset alat kesehatan dengan pihak pengguna, yaitu rumah sakit dan dokter masih minim," kata Bambang, Senin (18/4).

Keikutsertaan praktisi medis dalam berbagai kegiatan penelitian sangat diperlukan. Ini karena peralatan elektromedik merupakan domain dari ilmu pengetahuan medik.  

Penerimaan hasil penelitian dan pengembangan produk peralatan elektromedik oleh konsumen, menurut Bambang ditentukan sejumlah kriteria. Beberapa di antaranya adalah kriteria keselatan dan peforma esensial yang menentukan kelayakan. Keterlibatan laboratorium pengujian sangat penting.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rudy Salahuddin mengatakan pemerintah terus mendorong inovasi untuk pengembangan industri alat kesehatan nasional. Sayangnya, inovasi tersebut jarang yang berasal dari dalam negeri.

"Strategi perencanaan pengembangan industri alat kesehatan yang baik dan kompetitif sangat penting untuk mendukung produk lokal," ujarnya.

Sinergi akademisi, dunia bisnis, dan pemerintah, menurut Rudy bisa dijembatani lewat pengembangan riset terpadu di sebuah pusat dan taman riset (science techno park). Ini bisa juga berfungsi sebagai laboratorium eksplorasi riset nasional.

Obat dan alat kesehatan merupakan dua komponen terbesar dari total biaya kesehatan. Fakta menunjukkan alat-alat kesehatan, seperti mesin X-Ray (Roetgen), CT-Scan, MRI, Cathlab, USG, dan beragam alat media lainnya untuk pemeriksaan laboratorium di Indonesia hampir seluruhnya diimpor plus dikenakan bea masuk dan pajak penjualan. Jika alat-alat ini bisa diproduksi mandiri, biaya pengobatan masyarakat bisa lebih murah.


Sumber : Republika.co.id, 18 April 2016

Sivitas Terkait : Prof.Dr.Ir. Bambang Subiyanto M.Agr.
Diakses : 1728    Dibagikan :