Riset Dasar dan Terapan Minim

 
 
YOGYAKARTA, KOMPAS -Penelitian terbaru menunjukkan gempa bumi berkekuatan di atas Mw 9 bisa terjadi di zona subduksi mana pun di dunia, termasuk selatan Jawa dan kawasan Indonesia timur. Namun, riset dasar dan terapan gempa dan tsunami Indonesia masih sangat terbatas sehingga rentan salah dalam penyusunan kebijakan.

"Banyak anggapan Sumatera Barat sebagai kawasan paling rawan gempa dan tsunami besar sehingga menjadi prioritas mitigasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Dari mana tahu di sana paling rentan Padahal, daerah-daerah lain belum diteliti, " kata Eko Yulianto, ahli paleo-tsunami Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dalam lokakarya di Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Yogyakarta. Jumat (29/5).

"Jangankan daerah seperti Maluku, yang di selatan Jawa saja amat minim data penelitiannya, " kata Eko. Padahal, gempa dan tsunami raksasa sangat mungkin terjadi di kawasan itu.

Sebelum tsunami Aceh tahun 2004, para ahli geologi dan geofisika meyakini, jalur subduksi Megathrust Sunda tak mungkin menghasilkan gempa bumi raksasa. Hal itu karena karakteristik umur lempeng relatif tua dan laju konvergensi lambat Namun, lalu terbukti gempa di atas 9 Mw terjadi di zona subduksi itu.

Setelah kejadian itu, McCaffrey (2008) mengusulkan hipotesis baru potensi gempa bumi besar (Mw 9,0) di seluruh zona subduksi di dunia. Hipotesis itu diperkuat tsunami pasca gempa Mw 9,1 di Sendai, Jepang.

"McCaffrey (2008) membuat penghitungan matematis, perulangan gempa besar di selatan Jawa per 675 tahun. Di Sumatera 512 tahun, " kata Eko. "Dari data itu. kami melacak jejak tsunami di selatan Jawa di masa lalu. "

Namun, data teks sejarah di Indonesia minim. Jepang punya data tertulis hingga 1.000 tahun silam. "Kita harus menggunakan metode lain mencari riwayat gempa dan tsunami besar. Salah satunya mencari deposit tsunami di lapisan tanah, " katanya.

Riset tsunami

Meskipun sejak tsunami Aceh 2004 penelitian gempa dan tsunami di Indonesia meningkat, menurut ahli tsunami BPDP BPPT, Widjokongko, upaya itu masih sporadis dan sangat terbatas. Salah satu penyebab, minimnya jumlah SDM yang terlibat.

Lokakarya kerja sama LIPI, BPDP. dan UGM itu diharapkan menarik lebih banyak pihak memahami karakteristik ancaman tsunami, khususnya di selatan Jawa "Tanpa riset kuat, pembangunan penanggulangan kebencanaan rentan salah, " katanya.

Soebagyo Pramumidjojo, Guru Besar Teknik Geologi UGM, menyatakan, Indonesia di lempeng tektonik sangat aktif. Namun, ahli Indonesia kurang. "Padahal, banyak faktor tak diketahui terkait kegempaan dan tsunami, misalnya apakah ada kaitan gempa tektonik di Bantul 2006 dengan aktivitas Merapi tahun 2010, " ujarnya. (MK)


Sumber : Kompas, edisi 30 Mei 2015. Hal: 13

Sivitas Terkait : Eko Yulianto

Diakses : 692    Dibagikan : 0