STANDAR MUTU KAPAL RISET TERKAIT AKURASI

 
 
Memastikan produksi kapal riset mematuhi standar mutu tinggi adalah harga mati. Salah satunya menjaga agar tidak ada getaran dan kebisingan berlebih. Jika tidak, akurasi hasil riset dipertaruhkan.

Itu alasan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendorong pemerintah mengontrak industri galangan kapal asing yang terbukti menghasilkan kapal berkualifikasi kapal riset serba guna. LIPI mengajukan pembelian dua kapal riset baru kepada pemerintah karena dua kapal LIPI, yakni KR Baruna Jaya (BJ) VII dan BJ VIII, sudah tidak memadai.

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Dirhamsyah mengatakan, industri dalam negeri terbukti mampu membuat kapal riset, yaitu Geomarine III produksi PT PAL Indonesia untuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Namun, kapal itu hanya cocok untuk penelitian geologi kelautan, sedangkan cakupan riset LIPI juga terkait kolom laut. "Geomarine III belum teruji untuk riset serba guna seperti kebutuhan kami," ujarnya, Selasa (26/4), di Jakarta.

Jika tetap diwajibkan menggunakan sumber daya lokal, LIPI butuh jaminan industri dalam negeri mampu memenuhi kualifikasi kapal riset seperti dibuat industri negara maju. "Jika tidak memenuhi syarat, tetapi tetap dipaksa membeli dari industri dalam negeri, lebih baik batal," kata Dirhamsyah. Harga dua kapal baru sepanjang 74 meter itu diperkirakan Rp 1 triliun.

70 desibel

Salah satu perhatian utama LIPI adalah tingkat getaran dan kebisingan kapal riset tak melebihi 70 desibel. Getaran dan kebisingan dipengaruhi konstruksi kapal, sistem pemipaan, kualitas bahan (terutama plat logam badan kapal), karet dudukan mesin, dan vibrasi udara. Dirhamsyah belum tahu ada atau tidak galangan kapal nasional yang mampu memenuhi syarat itu.

Dirhamsyah mencontohkan, untuk pemetaan kumpulan ikan di dalam laut, kapal riset menggunakan echo sounder. Alat di dasar kapal menembakkan sinyal suara ke dasar laut lalu menerima pantulan gema sehingga jarak bisa dihitung. Kepadatan ikan juga dihitung dengan cara itu. Bising berlebih kapal bisa bercampur suara yang ditangkap alat sehingga hasil tak akurat.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang memiliki empat kapal riset (BJ I hingga BJ IV) sewaktu-waktu harus menangani getaran atau kebisingan kapal saat riset. Direktur Pusat Teknologi Rekayasa Industri Maritim BPPT Wahyu Pandoe, mantan Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT, mengatakan, mereka sering memasang sensor di dasar laut, seperti ocean bottom seismometer (OBS), ocean bottom unit (OBU) tsunami sensor, atau mooring untuk observasi kolom laut.

Untuk berkomunikasi dengan sensor di dasar laut, diturunkan acoustic deck unit ke permukaan air. Alat itu sangat sensitif getaran kapal yang merambat ke kolom air laut. "Getaran dan kebisingan sebaiknya diminimalkan sejak awal dengan rancangan kapal yang tepat," kata Wahyu.

Selain faktor teknis kapal, layanan purnajual juga sangat penting. Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI Augy Syahailatua mengatakan, pada 2011 pihaknya mengundang PT PAL Indonesia (produsen BJ VII) ke Ambon untuk mengevaluasi kelayakan BJ VII. Namun, tidak ada tindak lanjut dari PT PAL.

Sebelumnya, Manajer Humas PT PAL Bayu Witjaksono mengatakan, pihaknya mampu memproduksi kapal riset yang lebih canggih. Mereka siap membicarakannya dengan LIPI.

(JOG)

Sumber : Kompas, edisi 27 April 2016. Hal: 14

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Ir. Iskandar Zulkarnain
Diakses : 859    Dibagikan :