SUDAH GAMPANG BUNTING, TINGGAL DIBIKIN GAMPANG GEMUK

 
 
KOMPLEKS Badan Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (BP3-Iptek) Pemprov Jawa Barat di Cijeungjing, Ciamis, Selasa lalu (19/4) seperti pasar hewan. Aneka hewan apa saja, pokoknya bisa dimakan, dipajang di pusat penelitian yang ditumbuhi banyak rumput gajah itu.

Mulai sapi, ayam, hingga bebek dijajar rapi. Dilengkapi pula banner keunggulan setiap hewan hasil pemuliaan (istilah untuk pembibitan unggul) tersebut. Salah satu yang menjadi primadona siang itu adalah sapi pasundan.

Event yang dihadiri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe tersebut menjadi awal mula riset pemuliaan sapi pasundan.

Sosok di balik riset sapi keturunan banteng jawa itu adalah Syahruddin Said. Dia adalah peneliti spesialis sapi di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. Dari tangan pria kelahiran Makassar, 2 Februari 1968, tersebut, lahir sapi-sapi unggul yang sudah masai dikembangbiakan.

Ditemui di ruang VIP BP3-Iptek Pemprov Jawa Barat, Syahruddin bercerita, riset sapi pasundan dimulai pada Mei tahun lalu. "Jadi, saat ini masih pengenalan riset. Kami belum menemukan varietas atau jenis sapi pasundan unggulan," katanya.

Meski begitu, dalam gelaran yang diselingi kegiatan inseminasi buatan (IB/kawin suntik) itu, Syahruddin tidak membawa tangan hampa

PENELITI: Syahrudin bersama sapi pasundan di BP#-Iptek Pemprov Jawa Barat di Ciamis (19/4). Dalam kesempatan tersebut, dia membawa inovasi kawin suntik sekaligus menentukan jenis kelamin bayi sapi yang akan dihasilkan.

"Ini tidak berarti kami mendahului kehendak Tuhan' jelasnya, lantas tersenyum. Dengan rekayasa kromosom X dan Y pada sperma yang dilakukan, Syahruddin bisa menentukan jenis kelamin kelahiran sapi. Dalam perhitungannya, tingkat keakuratan penentuan jenis kelamin itu mendekati sempurna.

Menurut peneliti lulusan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar itu, banyak sekali manfaat ketika masyarakat bisa menentukan jenis kelamin sapi. Khususnya sapi pasundan yang terkenal dengan tingkat produktivitas kawin yang sangat besar.

Melalui penentuan jenis kelamin itu, pembiakan untuk kepentingan ekonomi dan regenerasi bisa terjaga dengan baik. Jika berniat mendapatkan manfaat ekonomi yang besar, masyarakat akan mengupayakan kelahiran sapi pasundan jantan. Sebaliknya, jika niatnya adalah menjaga regenerasi, kelahiran sapi betina menjadi prioritas.

Peneliti lulusan program S-2 dan S-3 dari Okayama University, Jepang, itu mengatakan, tantangan besar riset sapi pasundan sekarang sedang dihadapi. Yakni, bagaimana membuat sapi pasundan tersebut menarik untuk diternak kalangan industri skala besar. Sebab, selama ini sapi pasundan hanya diternak perseorangan. Dengan demikian, kontribusi sapi pasundan untuk menggapai mimpi swasembada daging belum begitu besar.

Bekerja sama dengan PT Karya Anu-grah Rumpin (KAR) di Bogor, Syahruddin menemukan masalah besar yang dihadapi sapi pasundan. Yakni, bobotnya tidak bisa besar meski diberi makan yang sama dengan sapi-sapi lainnya. Bobot sapi pasundan jantan hanya bertambah 0,75 kg per hari. Sapi betina naik 0,55 kg per hari.

"Tingkat kenaikan bobot sapi pasundan itu belum menggiurkan dunia industri," kata pemilik PT KAR Karnadi Winaga. Siang itu Karnadi juga hadir di kompleks BP3-Iptek bersama Syahruddin. Selama ini PT KAR.dan LIPI sudah klik untuk urusan pembibitan sapi unggul Indonesia.

Karnadi lantas membandingkan sapi pasundan itu dengan sapi lokal keturunan belgian blue. Sapi turunan belgian blue itu bisa mencapai bobot 500 kg di usia dua tahun. Dan bisa terus berkembang sampai bobotnya mencapai 700 kg. Saat ini sapi hasil riset bersama antara LIPI, PT KAR, dan pemerintah itu sudah dibiakkan secara masai di Enrekang, Sulawesi Selatan.

"Saya berupaya menghasilkan bibit sapi pasundan yang bobotnya bisa besar," katanya. Dengan demikian, ke depan hal tersebut bisa berdampak besar terhadap ekonomi masyarakat Jawa Barat yang terbiasa memelihara sapi pasundan.

Menurut Syahruddin, sapi pasundan memiliki banyak keunggulan. Di antaranya adalah mudah dipelihara, tidak rewel urusan makanan, dan gampang hamil alias tingkat produktivitasnya tinggi.

Peneliti yang sudah menghasilkan 12 publikasi ilmiah itu mengatakan, upayanya menghasilkan benih sapi unggul tidak melalui rekayasa genetika. Tetapi, dengan pemuliaan benih. Salah satu caranya adalah memilih sperma dari sapi jantan yang berkualitas. Dengan demikian, keturunan berikutnya bisa lebih berkualitas.

Dalam rekayasa perkawinan sapi itu, Syahruddin mengupayakan menghilangkan kecenderungan yang bisa menghambat pertumbuhan daging. Sementara itu, faktor bawaan yang bisa menghambat pertumbuhan daging disingkirkan. Dengan demikian, pertumbuhan daging pada sapi keturunan selanjutnya bisa lebih cepat.

Syahruddin mencontohkah, dalam menghasilkan benih unggul sapi keturunan belgian blue, dirinya menggunakan benih unggul dari sapi-sapi lokal. Yakni, percampuran dari sapi jenis sumba ongole (SO), sapi madura, dan sapi bali.

Menurut Syahruddin, tantangan lain dalam pemuliaan sapi adalah menjaga keberadaan sperma yang membawa sifat benih unggulan. Dia mengatakan, sperma sapi diawetkan dengan dibekukan. Dibantu nitrogen cair, sperma sapi bisa dibekukan dalam kondisi suhu minus 160 derajat Celsius.

Ketika akan disuntikkan, sperma sapi unggul tersebut dicairkan dengan direndam di air bersuhu normal. Setelah itu, sperma sapi dimasukkan ke alat suntik dan disuntikkan ke sapi betina. Sebagaimana proses kawin suntik sapi pada umumnya, sapi betina harus dipantau terus-menerus untuk memastikan terjadi pembuahan dengan baik.

Dia mengatakan, riset sapi sampai ketemu bibit unggul tidak bisa berjalan cepat. Dia mencontohkan riset sapi japanese black cattle (wagyu) yang membutuhkan waktu sampai 120 tahun. "Meskipun tidak sebentar, riset sapi tetap harus dimulai secepatnya,", ungkap dia.

Bupati Ciamis Iing Syam Arifin yang hadir di BP3-Iptek menyambut baik riset sapi pasundan itu. Dia mengatakan, sapi pasundan harus dipertahankan untuk tetap menjadi ikon masyarakat Jawa Barat. "Khususnya warga Ciamis," jelasnya.

Walaupun benih sapi pasundan yang unggul belum dihasilkan, Iing Syam mengapresiasi inovasi mengatur jenis kelamin kelahiran sapi pasundan. "Selama ini warga bersuka-cita jika yang lahir itu sapi pasundan jantan," katanya. Sebaliknya, warga agak merasa kecewa jika yang lahir adalah sapi pasundan betina.

Padahal, menurut  Syam, sapi pasundan jantan maupun betina sama-sama penting. Hanya, kelahirannya perlu diatur. Dengan begitu, efek ekonomi dan kelangsungan regenerasi sapi pasundan bisa berjalan beriringan. 

(*/cl0/sof)

Sumber : Indopos, edisi 29 April 2016. Hal: 1

Sivitas Terkait : Dr. Ir. Syahruddin