Saatnya Berpaling dari Air Tanah

 
 
LEMBAGA Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengimbau agar masyarakat mulai mengurangi penggunaan air tanah, terutama untuk masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan. Pasalnya, kondisi pemukiman yang masif di perkotaan membuat kandungan air tanah berpotensi berkurang, sehingga peluang untuk terjadinya land subsidience atau penurunan muka tanah menjadi lebih besar.

"Yang lebih parah, kalau yang dikonsumsi ialah air tanah dalam, yang kedalamannya lebih dari 100 meter. Itu membuat air sulit masuk lagi ke sana," terang Kepala Pusat Penelitian Limnologi LIPI Tri Widianto saat dihubungi Media Indonesia, Senin (21/3).

Konsumsi air di wilayah perkotaan tidak hanya dilakukan oleh perorangan, tapi juga oleh industri maupun gedung-gedung yang biasanya rakus air. Berbeda halnya dengan daerah perdesaan yang konsumsi air tanahnya dilakukan masyarakat setempat hanya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci.

Sementara itu, kawasan perdesaan yang memiliki wilayah pertanian, konsumsi air menggunakan air permukaan yang berasal dari sungai setempat.

Oleh karena itu, bermigrasi menggunakan air permukaan yang dialirkan ke rumah-rumah oleh pemerintah lewat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) menjadi salah satu solusi tepat untuk mengatasi kebutuhan air masyarakat perkotaan, tidak terkecuali gedung perkantoran maupun industri.

Kebijakan pemerintah untuk menyediakan air lewat PDAM sudah tertanam dalam target millenium development goals (MDGs) yang menargetkan 68% masyarakat pada 2015 terjamah pipa-pipa air PDAM. Oleh karena itu, Tri berpendapat se-harunya pemerintah juga memberikan subsidi di sektor air, mengingat air merupakan kebutuhan pokok dari setiap orang.

Dalam kesempatan berbeda, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Ke-menterian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) MR Karliansyah menyatakan tren status mutu air kelas 2 atau air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana atau sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, dan air untuk mengairi pertanaman secara umum di Indonesia mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut bahkan melebihi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. (Ric/H-2)

Sumber : Media Indonesia, edisi 23 Maret 2016. Hal: 12

Diakses : 589    Dibagikan :