Save Sempu, Surga yang Tersembunyi Tetap Cagar Alam

 
 

TIMESINDONESIA, JAKARTA – SEMPU identik dengan cagar alam. Ketika mendengar Sempu maka yang terlintas adalah keindahan pulau Sempu. Indahnya pulau kecil di selatan provinsi Jawa Timur ini membuatnya sering disebut sebagai Surga yang tersembunyi. 

Namun, kini beredar kecemasan akan semakin terdegradasinya keaslian pulau Sempu. Cagar alam yang memiliki keanekaragaman hayati yang khas ini mengalami banyak tekanan perubahan. Perubahan yang secara alami terjadi adalah pemanasan global. 

Besarnya tekanan perubahan alami ini akan jauh lebih menerpa pulau sekecil pulau Sempu dibandingkan di kawasan pulau yang lebih besar. Sebagai habitat yang rentan terdegradasi penyelamatan keanekargaman hayati di Pulau Sempu perlu diprioritaskan. Sedangkan perubahan yang lain yang sedang dihadapi adalah adanya perubahan fungsi dari cagar alam menjadi obyek wisata alam. 

Pro dan kontra pulau seluas 877 hektare ini akhir-akhir ini mencuat ketika spot yang indah dan menarik akan dijadikan objek wisata alam. Kondisi itu sebagaimana banyak diberitakan media akhir-akhir ini, telah membuat sebagian wilayah di dalam kawasan rusak. 

Meskipun baru wacana kawasan terlarang ini sudah dijadikan tujuan wisata. Bahkan sebagaimana dikutip salah satu media online telah ada retribusi berdasarkan peraturan desa setempat yang telah mengumpulkan pemasukan sebesar Rp 1,2 miliar dalam satu tahun. 

Anehnya perdes yang diberlakukan sejak tahun 2013 ini ternyata tidak masuk ke kas Desa. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)¸ sebagaimana disampaikan Kepala BKSDA Jawa Timur¸ Ayu Dewi Utari¸ mengaku tidak mengetahui perihal pengenaan retribusi itu. (detik.com, 13/9).

Seharusnya cagar alam terlarang untuk aktivitas wisata. Kawasan ini hanya diperbolehkan untuk aktivitas penelitian dan pendidikan. 

Dalam acara "Sosialisasi Kawasan Konservasi Cagar Alam Pulau Sempu" di Hotel Harris kemarin¸ telah Kepala BKSDA Jawa Timur telah menjelaskan status Sempu masih sebagai cagar alam. Sebagai cagar alam, Sempu hanya boleh digunakan untuk penelitian dan pendidikan dan tidak boleh digunakan sebagai wisata. (timesindonesia.co.id ¸13/9). 

Pulau Sempu mempunyai kekayaan alam yang khas dan unik. Sebagai sebuah laboratorium alam yang menyimpan kekuatan untuk menjadi tameng pemanasan global. Para Peneliti Kebun Raya Purwodadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah melakukan ekspedisi flora pulau Sempu. 

Ekspedisi ini telah menjangkau berbagai jalur mata angin di pulau surga ini. Masing-masing jalur dan titik lokasi eksplorasi flora memiliki karakteristik lingkungan yang unik dengan tipe flora spesifik. Lia Hapsari¸ salah satu peneliti LIPI mengungkapkan perjalanan ekspedisi di pulau sempu ini sebagai pengalaman yang menakjubkan.  

Setiap harinya, seluruh anggota tim seperti mendapatkan surga yang tersembunyi. Jalur Segoro Anakan, menurut tim ekspedisi masih cukup terjaga. Sebagai kawasan berstatus cagar alam tentunya keaslian Sempu sebagai sebuah ekosistem yang unik di Malang harus dijaga bersama. 

Melalui ekpedisinya¸ sebagaimana rilis yang dimuat di lipi.go.id ini LIPI melalui Kebun Raya Purwodadi sampai pada September 2016 lalu, telah mengkoleksi 926 spesies hidup yang berasal dari jenis pepohonan, semak, bambu, tumbuhan merambat, herba, dan epifit. 

Apriyono Rahadiantoro, peneliti Kebun Raya Purwodadi LIPI lainnya menjelaskan dalam rilis tersebut¸ kegiatan penelitan yang dilakukan ini dalam bentuk ekplorasi, inventarisasi dan dokumentasi keanekaragaman flora yang dilakukan adalah sebagai kiprah LIPI untuk menjaga kelestarian flora di pulau-pulau kecil¸ seperti Sempu. 

Kegiatan tim Kebun Raya Purwodadi LIPI ini telah mendapatkan apresiasi dari BKSDA Jawa Timur (sumber : lipi.go.id dan krpurwodadi.lipi.go.id).

Adapun kegiatan pendidikan¸ dapat dilakukan dengan menggunakan pemandu yang telah dibina oleh BKSDA dan dapat berkerjasam lembaga konservasi tentang pengetahuan koleksinya. Pengetahuan tentang taksonomi tumbuhan menjadi penting. 

Tak kalah pentingnya dengan ketegasan para pemandu nanti dalam mengimbau para peserta pendidikan lingkungan untuk tidak merusak lingkungan di pulau surga ini. Jumlah pemandu pengunjung cagar alam dapat ditambah melalui perekrutan tenaga muda dari para pecinta lingkungan. 

Fungsi penelitian dan pendidikan ini sebenarnya dapat menjadi celah bagi sekolah dan perguruan tinggi untuk berkunjung ke pulau sempu. Tak perlu perubahan status. 

Tentang retribusi atau sejenisnya¸ apakah dengan tetap berstatus sebagai cagar alam masyarakat tidak dapat penghasilan?! tentu saja bisa¸ jangan sampai status cagar alam membuat masyarakat kehilangan pendapatannya. 

Tinggal bagaimana kebijakan ini dikemas oleh para pemangku kebijakan. Bijak tentunya ketika kebijakan yang akan melegalkan masyarakat setempat mendapatkan bayaran dari jasa transportasi ke Pulau Sempu dibuat dan diberlakukan. Dengan catatan kunjungan yang diperbolehkan hanya untuk penelitian dan pendidikan. Mungkin ini jalan tengah yang dapat penulis tawarkan. 

Sangat disayangkan jika pulau surga ini berubah fungsi menjadi tempat wisata. Kekhawatiran pihak yang kontra terhadap wacana pengalihan fungsi pulau Sempu sangatlah beralasan. Terlebih jika wisata dimaksud selalu diidentikan dengan penumpukan sampah dan vandalisme. #saveSempu (*)

Penulis adalah Sanusi, Humas LIPI Kebunraya Purwodadi
 


Sumber : timesindonesia.co.id, 15 September 2017

Sivitas Terkait : Sanusi S.Si.
Diakses : 586    Dibagikan :