Sistem Persinyalan KRL Jabodetabek Dinilai Miliki Persoalan Kompleks

 
 
JAKARTA, (PRLM).-Sistem persinyalan Kereta Rel Listrik (KRL) di wilayah Jabodetabek dinilai memiliki serangkaian persoalan yang kompleks.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim mengatakan, sistem persinyalan KRL di wilayah Jabodetabek umumnya sudah berumur tua. Selain itu, prasarana vital bagi perjalanan KRL kerap dicuri atau dirusak orang.

Salah satu alat yang sering hilang adalah penangkal petir, sehingga perjalanan KRL sering mengalami gangguan, ujarnya saat memberikan sambutan pada sela-sela seminar di Widya Graha LIPI, Jakarta, Kamis (5/7). Seminar itu bertajuk Peningkatan Keandalan Sistem Persinyalan Perkeretaapian di Jabodetabek .

Lukman menuturkan, prasarana perkeretaapian yang terdiri dari jalur, stasiun, dan fasilitas operasi kereta api (peralatan persinyalan, telekomunikasi dan instalasi listrik) harus mempunyai tingkat keandalan yang tinggi agar kereta dapat beroperasi prima.

Disebutkan, sesuai dengan amanat UU No. 23/2007 tentang Perkeretaapian, penyelenggara prasarana perkeretaapian wajib merawat prasarana perkeretaapian agar tetap layak operasi.

Hal ini memang perlu karena jasa transportasi kereta api hanya dapat memberikan layanan yang prima kepada para penggunanya jika seluruh prasarana perkeretaapian memiliki keandalan yang tinggi, katanya.

Lukman menambahkan, salah satu syarat utama keandalan sistem persinyalan yang harus dipenuhi adalah azas keselamatan (fail-safe). Jika terjadi kerusakan pada salah satu sistem persinyalan, maka kerusakan tersebut tidak boleh menimbulkan bahaya bagi perjalanan kereta api.

Peneliti Perkeretaapian dari Unit Pelaksana teknis (UPT) Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI Taufik Hidayat menuturkan, sistem persinyalan adalah suatu perangkat yang berfungsi menjaga keselamatan dan mengatur operasi kereta api yang efisien dan efektif.

Menurut Taufik, untuk menjamin kelaikan prasarana perkeretaapian, wajib dilakukan pula pengujian dan pemeriksaan. Artinya, prasarana yang lulus uji pertama diberi sertifikat uji pertama dan yang lulus uji berkala diberikan sertifikat uji berkala.

Taufik mengungkapkan, secara umum kondisi sistem persinyalan kereta api di Indonesia sekitar 60 persen masih berupa sistem persinyalan mekanik, dan sisanya 40 persen merupakan sistem persinyalan elektrik.

Dia menyebutkan, dari 529 stasiun, sistem persinyalan pada 316 stasiun masih berupa sistem mekanik dan 213 stasiun berupa sistem elektrik. Seminar ini digelar oleh LIPI bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero), Indonesian Railway Watch, dan Majalah Kereta Api.

Tampil menjadi pembicara antara lain Direktur Utama PT KAI (Persero) Ignasius Jonan, Direktur Pemasaran PT KAI (Persero) Sulistyo Wimbo Hardjito, dan pakar transportasi dari Universitas Indonesia (UI) Suyono Dikun.(A-94/A-89)
Sumber : Pikiran Rakyat Online (Kamis, 5 Mei 2012)

Diakses : 874    Dibagikan : 0