TEMUAN SPESIES BARU DALAM LIMA TAHUN TERAKHIR

 
 
Di kalangan peneliti internasional, Djoko Tjahjono Iskandar dan katak tak dapat dipisahkan. Di tangannya, selalu muncul katak-katak jenis langka. Seperti saat ia menemukan katak yang melahirkan kecebong. Istimewa? Sangat! Katak jenis baru dari Sulawesi itu berkembang biak dengan cara melahirkan. Padahal, katak biasanya bertelur.

DJOKO yang ahli herpetologi di Sekolah Teknologi Ilmu Hayati ITB bersama rekannya, Ben J Evans, dari McMaster University di Kanada, dan Jimmy A McGuire dari University of California, Berkeley mempublikasikan temuannya itu ke PLOS ONE akhir 2014. Spesies katak baru itu dinamai Limnonectes larvaepartus, sesuai dengan sifatnya, mampu melahirkan larva (larvae: larva atau kecebong, partus: melahirkan). "Sebetulnya katak jenis ini sudah lama saya temukan ketika survei ke Sulawesi. Tapi saat itu, saya belum fokus menelitinya," katanya kepada wartawan "PR", Januari 2015.

Pertemuan dengan Limnonectes larvaepartus pada 1996 itu, belum menunjukkan keistimewaan tersebut. Djoko melihat katak itu "belum ada apa-apanya". Keistimewaannya baru tampak saat ia kembali ke Sulawesi awal 2014. Kesempatan menyaksikan langsung katak melahirkan di genggaman tangannya membuat Djoko yakin spesies itu memang langka, bahkan satu-satunya di dunia.

Limnonectes larvaepartus disebut sebagai satu-satunya jenis katak yang mampu melahirkan kecebong dan 1 dari 12 jenis katak yang mengalami evolusi fertilisasi internal. Djoko dan tim menjumpai adanya kecebong hidup dalam bagian sistem reproduksi bernama oviduk serta dalam tas plastik tempat tim mengoleksi katak.

Meskipun demikian, Djoko masih penasaran dengan misteri penyatuan sel sperma dan telur di dalam tubuh sehingga katak dapat melahirkan kecebong. "Katak itu tidak memiliki alat kelamin sehingga bagaimana bisa sel sperma bisa masuk ke dalam tubuh," ucap lelaki kelahiran 23 Agustus 1950 itu.

Katak kerap dianggap tidak besar nilainya. Namun, riset Djoko membuktikan bahwa Indonesia memiliki banyak spesies langka, membuat banyak orang mengubah cara berpikirnya. Apalagi di dunia, menurut dia, 25% jenis katak hampir punah. Hal itu disebabkan perubahan ekosistem oleh manusia. Perusakan ekosistem itu mengubah rantai makanan.

Djoko menyebutkan, penebangan pohon secara membabi-buta menyebabkan hutan menghilang. Hewan-hewan yang tadinya mengandalkan hutan sebagai sumber makanan, beralih ke sumber lain. Hewan yang tadinya tidak mengonsumsi katak karena sumber makanannya hilang terpaksa menyantap katak untuk bertahan hidup.

Djoko memulai karier sebagai her-petolog pada tahun 1978. Pilihannya menekuni katak dan reptil sangat tidak populer. "Waktu itu belum ada ahli katak di Indonesia. Saya satu-satunya. Bisa dibilang saya pionir," katanya.

Ia juga menemukan Barbourula kalimantanensis, katak famili Discoglossidae pertama yang ditemukan di Borneo. Tahun 2008 hasil penelitiannya mengungkap fakta baru. Katak kepala pipih itu ternyata tidak punya paru-paru. "Waktu itu geger juga. Jenis itu adalah satu-satunya katak di dunia yang tidak memiliki paru-paru, bernapasnya dengan kulit," ucapnya.

Studi kemudian mengungkap bahwa populasi Barbourula kalimantanensis sangat minim. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan bahwa spesies tersebut terancam punah pada 3 Juni 2013.

Sepanjang kariernya, ia telah menemukan 30 spesies katak dan reptil. Beberapa spesies menggunakan namanya, seperti Luperosaurus iskandari, Fejervarya iskandari, Collocasiomya iskandari, dan Draco iskandari.

Ia masih setia meneliti katak. Temuan terbaru yang masih dalam penelitiannya adalah 12 jenis katak dari Kalimantan dan Sulawesi. Beberapa yang unik adalah katak berukuran besar sekitar 20 cm, atau katak yang menaruh telurnya di daun dan dijaga oleh katak jantan.


Bagi Djoko, herpetologi memiliki peran penting bagi kehidupan di bumi. Terlebih di Indonesia yang memiliki keistimewaan iklimnya yang tropis membuat segala ke-mungkinan akan keragaman spesies sangat mungkin teijadi. Banyak katak jenis baru yang ditemukan Djoko yang merupakan hasil evolusi. Meski sudah malang melintang sebagai herpetolog, namun Djoko amat yakin jika masih banyak jenis lain yang belum terkuak apalagi teridentifikasi.

Banyak spesies baru dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Salah satunya hasil temuan para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Salah seorang pakar mamalia darat LIPI Anang Setiawan Achmadi bersama rekannya, Dr Jake Esselstyn dan Dr Kevin Rowe menemukan empat genus baru tikus dari Sulawesi. Keempatnya, tikus ompong (Paucidentomys vermidax) yang ditemukan 2012, tikus air sulawesi (Waiomys mamasae) 2014, tikus hidung babi (Ilyorhinomys stuempkei), tikus akar (Gracilimus radix) 2015.

'Yang terunik adalah tikus ompongkarena tidak mempunyai gigi geraham, hanya sepasang gigi seri di depan. Ini merupakan bentuk novelty dari evolusi ecomorphology terkait dengan perilaku makan atau foraging behaviour. Tingkat endemisitas paling tinggi ada di Pulau Sulawesi," tutur Anang via surel.

Dalam setiap penelitian eksplorasi kekayaan hayati Indonesia, ia mengatakan, waktu normal di lapangan antara 14-21 hari, sedangkan untuk analisis morfologi dan molekuler 3-6 bulan, penulisan naskah ilmiah bisa sampai 1 tahun, serta proses submission ke jurnal bisa mencapai antara 6 bulan hingga 1 tahun.

Revisi jenis tumbuhan

Di ranah dunia tumbuhan, paratak-sonom dan juga dosen taksonomi di Jurusan Biologi Universitas Padjadjaran Budi Irawan termasuk salah seorang yang merevisi jenis tumbuhan. Demi kepentingan tesisnya, ia mengambil tema revisi spesies takson baru, baik dari klasifikasi spesiesnya, marga, atau famili.

"Tahun 2003 saya merevisi marga Fissistigma dari keluarga Anonaceae (sirsak-sirsakan). Hasil temuan saya menyebutkan ada tiga jenis baru yang berasal dari Sumatra dan Kalimantan," ujarnya kepada wartawan "PR", Jumat (27/5/2016).

Marga Fissistigma sangat luas dan memiliki kemiripan dengan beberapa marga lain seperti mitrella, thyramidanthe, dan melodorum. Pilihannya jatuh pada penelitian ini disebabkan ketika itu taksonom dunia tengah berupaya menyelesaikan revisi Annonaceae.

Budi mengatakan, CGGJ van Steenis, ahli botani Belanda dan juga penulis buku "Flora Indonesia", pada 1949 sempat mengatakan jika penelitian mengenai tumbuhan (flora) di Indonesia tidak akan rampung dalam waktu singkat. Dibutuhkan waktu seratus tahun untuk bisa mengidentifikasinya.

Sementara itu, taksonomi yang merupakan ilmu tetang penamaan, pencirian, dan pengelompokan tumbuhan menjadi penting. Sebagai ilmu dasar, taksonomi akan menjadi jalan pembuka bagi penelitian lain.

Keija keras Budi membuahkan hasil. Setelah berkutat setahun di Herbarium Bogoriensis, tiga spesies baru Fissistigma ia temukan dan bahkan namanya ditambahkan dalam nama latin sebagai author (penemu).

Ketiga spesies itu adalah Fissistigma sumatrana Irawan dari Sumatra, serta Fissistigma magnisepala Irawan dan Fissistigma cordifolia Irawan dari Kalimantan. (Dewiyatini, Eva Fahas)

Sumber : Pikiran Rakyat, edisi 10 Juli 2016. Hal: 12

Diakses : 1971    Dibagikan :