Tangkal ISIS, LIPI Sarankan Pemerintah Tingkatkan Kerjasama di Perbatasan

 
 

Jakarta – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyarankan pemerintah Indonesia meningkatkan keamanan di perbatasan, dengan menggandeng negara-negara tetangga, demi mencegah masuknya kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Di samping itu, upaya-upaya penanganan terorisme dan penegakan hukum yang masih bergantung pada legislasi nasional, juga dianggap sebagai biang rentannya aksi-aksi terorisme global di Asia Tenggara.

“Persoalan instabilitas domestik dan celah pengamanan di wilayah perbatasan, khususnya antara Indonesia, Malaysia dan Filipina, seringkali menghambat efektivitas kerja sama penanganan terorisme di tingkat regional,” kata Plt Kepala Pusat Penelitian LIPI Siswanto, di Jakarta, Senin (11/9).

Berdasarkan laporan PBB, diperkirakan terdapat 25.000 militan asing dari lebih 100 negara di dunia, yang telah bergabung dengan ISIS di Suriah.

Jumlah simpatisan yang cukup besar dan berasal dari berbagai kawasan di dunia ini pada akhirnya, menurut dia, menjadi kekuatan baru bagi ISISketika pusat kekuasaan de facto mereka di Raqqa mengalami pukulan telak.

Kembalinya militan asing ke wilayah asal mereka menjadi ancaman baru bagi kawasan, tidak terkecuali Asia Tenggara. Indonesia dan Filipina adalah dua negara di Asia Tenggara yang mengalami serangkaian aksi teror bom oleh jaringan teroris ISIS di 2017.

Sedangkan serangan di Marawi, Filipina, pada Mei 2017, ia mengatakan menjadi contoh nyata bagaimana ISIS menggunakan jaringan ekstremis lokal di Filipina Selatan, seperti kelompok Maute dan Abu Sayyaf yang sebelumnya memang telah menyatakan afiliasinya kepada ISIS.

Selain itu, lanjutnya, krisis Marawi juga membuka fakta adanya kerja sama antara jaringan ekstremis lokal di kawasan ini. Dalam serangan di Marawi ini terungkap, terdapat tiga orang warga negara Indonesia dan satu orang warga negara Malaysia yang dipercaya merupakan anggota Jemaah Islamiyah yang berbasis di Indonesia.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di sela-sela pelaksanaan ASEAN Ministerial Meeting di Filipina pada Agustus 2017 menyebut kejadian di Marawi sebagai "wake-up call" bahwa regionalisasi dari pengaruh ISIS di kawasan Asia Tenggara telah dimulai.

Serangan ISIS di Asia Tenggara tidak berakhir di Marawi. Ancaman serangan serupa di wilayah Asia Tenggara lainnya tidak bisa diabaikan, mengingat banyaknya simpatisan ISIS yang berasal dari kawasan ini dan kelompok militan lokal yang menyatakan afiliasinya ke ISIS.

Oleh karena itu, Menlu mengatakan penanganan jaringan teroris ISISmembutuhkan kerja sama yang efektif pada level regional dan global.

 


Sumber : jurnas.com, 11 September 2017

Sivitas Terkait : Dr. Siswanto M.Si
Diakses : 152    Dibagikan :