Tepung Tapioka Impor Melimpah, Petani Singkong Merugi

 
 
JAKARTA - Petani singkong di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung wajar menjerit. Sebab harga singkong terjun bebas.

Catatan Kementerian Pertanian, pada 2015 harga singkong masih Rp2.400/kg. Tetapi dalam dua tahun terakhir, harga cassava itu jatuh hingga di kisaran Rp674/kg.

Kenapa harga komunitas pangan nasional itu sampai jatuh dan bagaimana solusi pemerintah, menjadi topik dalam seminar soal singkong di LIPI Cibinong Science Center (CSC), Kabupaten Bogor kemarin (7/9). Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember Ahmad Subagio, salah satu pembicara, mengungkapkan kronologi sampai harga singkong jatuh cukup dalam.

Dia menceritakan pada April/Mei tahun lalu harga singkong sudah menunjukkan penurunan tajam. Yakni dari Rp2.000an/kg menjadi Rp1.250/kg. Lalu harga singkong terus merosot sampai saat ini di kisaran Rp600/kg. Ahmad menjelaskan pemicunya adalah melimpahnya impor tepung tapioka dari Thailand dan Vietnam.

Selama ini harga singkong di pasaran nasional stabil di kisaran Rp2.000/kg karena tepung tapioka dari Thailand dan Vietnam dikirim ke Tiongkok. Tetapi tahun lalu Tiongkok menghentikan kiriman tepung tapioka karena pertimbangan ekonomi.

’’Karena sudah terlanjur diproduksi, tepung tapioka itu masuk ke Indonesia. Dan merusak harga,’’ jelasnya.

Ahmad meluruskan bahwa impor singkong yang sempat heboh itu bukan singkong dalam wujud masih utuh atau batangan. Tetapi impor singkong dalam bentuk olahan tepung tapioka. Menurut informasi yang dia terima, harga tepung tapioka dari Thailand dan Vietnam itu sekitar Rp4.000/kg.

Dengan harga tepung tapioka yang hanya Rp4.000/kg, industri tanah air lebih memilih produk impor. Dari pada repot-repot membeli singkong dari petani nasional. Apalagi ketika membeli singkong dari petani lokal, masih butuh ongkos pengolahan sampai menjadi tepung tapioka.

Menurut Ahmad tepung tapioka merupakan komuditas menggiurkan. Diantaranya untuk industri agrokimia seperti pembuatan MSG, lalu industri makanan seperti untuk mi, dan industri kimia lain seperti kosmetik. Bahkan tepung tapioka juga digunakan oleh industri kayu.

’’Nilai perdagangan singkong dan produk turunannya itu mencapai Rp100 triliun. Mengalahkan kedelai yang hanya Rp20 triliun,’’ tuturnya. Sayangnya pemerintah belum memanikan kebijakan strategis di industri pangan singkong ini. Celakanya produk tepung tapioka impor dibebaskan dari bea masuk.

Kepala Bidang Cadangan Pangan, Badan Ketahanan Pangan, Kementan Komarudin menuturkan harga jual singkong harus menguntungkan bagi petani. Menurutnya harga jual singkong yang di kisaran Rp600–700/kg itu sangat jatuh dan membuat petani rugi.

Untuk itu saat ini Kementan sedang mengkaji penetapan harga acuan penjualan singkong. Namun penetapannya nanti dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan. Menurut Komarudin kajiannya masih butuh waktu. Sehingga belum bisa ditetapkan dalam waktu dekat.

’’Perlu kajian dan sejumlah pertimbangan,’’ tuturnya.

Saat ini ada tiga skenario terkait rencana penetapan harga acuan singkong. Skenario pertama adalah menetapkan harga acuan nasional. Harga break even point (BEP) usaha tani singkong dalam skenario pertama ini ditetapkan Rp968/kg. Dengan acuan ini, harga acuan nasional ditetapkan Rp1.040 sehingga petani untung 7,39 persen. Atau harga acuan dimaksimalkan lagi mencapai Rp1.120, sehingga petani untung 15,65 persen.

Skenario kedua adalah menetapkan harga acuan untuk Provinsi Lampung saja. Sebab Lampung adalah salah satu sentra petani singkong. Di skenario kedua ini, patokan BEP usaha tani singkong adalah Rp886/kg. Pemerintah berencana menetapkan harga acuan Rp910/kg, sehingga petani untung 2,67 persen. Atau maksimal Rp980/kg, sehingga petani untung 10,57 persen.

Skenario ketiga adalah menetapkan harga acuan di Provinsi Jawa Tengah, dimana salah satu sentranya adalah daerah Pati. Komarudin mengatakan patokan BEP usaha tani singkong di Jawa Tengah Rp1.116/kg. Sementara harga di pasaran Rp800/kg. Sehingga petani singkong di Jawa Tengah saat ini merugi sekitar 28,33 persen.

Pemerintah menyiapkan harga acuan singkong di Provinsi Jawa Tengah Rp1.040/kg. Tetapi dengan harga ini, petani masih merugi 6,83 persen. Sedangkan ketika harga acuannya dinaikkan jadi Rp1.120/kg, petani hanya untung tipis sebesar 0,33 persen.

’’Jawa Tengah dilematis. Mau ditingkatkan lagi, apakah nanti industri mau membelinya,’’ tutur Komarudin.

Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Suharyo Husen menyambut baik rencana penetapan harga acuan singkong itu. Namun menurutnya harga yang dipaparkan oleh Kementan itu belum mempertimbangkan suara dari kalangan industri.

’’Sekilas harganya tinggi-tinggi. Di atas Rp1.000 semua. Pertanyaan apakah industri mau membeli singkong dengan harga itu,’’ tuturnya.

Menurut Suharyo, dengan harga tepung tapioka impor yang hanya Rp4.000/kg sementara harga singkong lokal Rp1.000-an/kg, industri jelas memilih tepung yang sudah jadi. Sebab tidak perlu proses pengolahan lagi.

Dia berharap pendekatan pemerintah tidak sebatas menetapkan harga acuan saja. Lebih dari itu membuat klaster petani singkong. Di dalamnya singkong diolah dahulu sebelum dijual. Sehingga produk yang dijual petani lebih memiliki harga tinggi. (wan/agf/jpg)

 

Sumber : radartegal.com, 8 September 2017

Sivitas Terkait : Yani Ruhyani
Diakses : 2069    Dibagikan :