UBAH LIMBAH BATU BARA JADI BAHAN BAKU BETON

 
 
Saat hujan deras, ditambah lagi dengan buruknya sistem drainase, dapat dipastikan sejumlah jalan nasional akan tergenang air. Akibatnya jalanan tersebut tidak hanya menghambat kelancaran lalu lintas, tapi menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

Untuk menjawab kebutuhan dan persoalan tersebut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Inovasi bekerja sama dengan Japan International Coopera-tion Agency (JICA) dan Hakko Industry Co.Ltd, melakukan inovasi dengan memanfaatkan limbah batu bara menjadi bahan baku pembuatan beton ramah lingkungan.

Beton yang ramah lingkungan ini bisa dimanfaatkan untuk membangun jalan-jalan nasional dan berbagai macam infrastruktur, baik gedung, taman serta infrastruktur lain yang menggunakan bahan dasar beton. Beton ini ramah lingkungan dan bisa menyerap air. Sehingga, tidak lagi ada genangan-genangan air yang berdampak pada kelancaran lalu lintas, kecelakaan, bahkan kerusakan jalan.

Tidak hanya itu, beton ini sangat cocok dengan wilayah Indonesia yang sering menjadi langganan bencana alam, baik gempa bumi maupun tsunami. Indonesia termasuk dalam lingkungan cincin api (ring of fire) yang memiliki potensi bencana alam cukup tinggi. Indonesia memiliki sekitar 240 gunung merapi, 70 di antaranya masih aktif.

Menurut Kepala Pusat Inovasi LIPI, Nurul Taufiq Rochman, bangunan dengan beton ramah lingkungan ini jika terjadi gempa tidak akan menelan korban jiwa selayaknya beton-beton pada umumnya ketika jatuh/menimpa manusia yang ada di bawahnya.

Beton ini sudah diterapkan untuk membangun beberapa infrastruktur di Jepang yang rawan akan terjadinya gempa bumi. "Jika di Jepang, beton ini biasa dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur beton penahan ombak karena kekuatannya sangat terjamin dan membangun taman-taman karena beton ini tidak panas jika diinjak dengan kaki telanjang," ujar Nurul.

Simbiosis Mutualisme

Kelebihan lain beton ini terlihat dari tingkat kerapihan dan bentuknya. Dengan kata lain, dari setiap paving block dari beton-beton ini sangat diperhatikan. Jika dimanfaatkan dalam pembangunan taman, setiap paving block dari beton ini bisa diwarnai sesuai dengan keinginan.

Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Bambang Subiyanto, mengatakan untuk membuat beton yang ramah lingkungan tersebut, bahan bakunya semuanya ada di Indonesia.

Dengan memanfaatkan limbah dari produksi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di seluruh wilayah Indonesia. "Artinya, beton ini menjadi semacam solusi dalam penanganan limbah batu bara yang ada dan bisa dimanfaatkan dalam pembangunan infrastruktur," imbuhnya.

Lebih lanjut Bambang menuturkan dalam waktu dekat ini LIPI akan menjajaki peluang-peluang kerja sama dengan sejumah PLTU, seperti PLTU di Pacitan, Pangandaran, Suka Bumi, dan produksi-produksi yang ada di daerah lain yang memakai batu bara sebagai bahan bakunya. Saat ini, PLTU di Pacitan sudah mengundang LIPI untuk membuat pabrik beton ramah lingkungan di dalam lingkungan pabrik PLTU-nya.

"Dalam sehari limbah abu dasar (bottom ash) yang mereka keluarkan sebanyak 250 ton limbah. Limbah abu terbang [fly ash) 200-1000 ton per hari. Bayangkan limbah dari hasil pembakaran batu bara itu mau dibuang ke mana kalau tidak kita manfaatkan," ungkapnya.

Direktur Penelitian dan Pengembangan Hakko Co. Ltd., Yoshihide Wada menjelaskan proyek yang dilakukan JICA dan LIPI telah berjalan dalam memproduksi beton ramah lingkungan dari bahan baku asal Indonesia dengan menggunakan teknologi Hakko Industry Co. Ltd. "Kami sangat berharap kegiatan ini dapat membantu menyebarluaskan produk ramah lingkungan kepada masyarakat Indonesia melalui pengenalan terhadap karakteristik produk yang diproduksi di Indonesia," katanya.

Proses Pembuatannya

Soal bahan baku dan proses pembuatannya, Karunia Mita Sekar Cahyani, Project Manager PT Nano Tech Inovasi Indonesia (tenan LIPI) mengatakan kalau dari namanya saja sudah jelas diketahui bahwa beton ramah lingkungan ini terbuat dari hasil pemanfaatan limbah batu bara dari produksi pembangkit listrik tenaga uap, yaitu abu dasar (bottom ash), kemudian semen, air tawar, zat adiktif (YHR) dan pewarna jika diperlukan. "Biasanya, kalau kami pesan bottom ash, juga terkandung fly ash. Jadi, untuk kandungan airnya, disesuaikan dengan kebutuhannya," ujarnya.

Untuk proses pembuatanyan, dari total keseluruhan campuran, dibutuhkan 40-60 persen bottom ash, sedangkan zat adiktifnya 2-5 persen, dan komposisi airnya disesuaikan dengan kebutuhan produksi. Biasanya, untuk mengetahui komposisi airnya, kurang atau lebih, maka bahan yang telah dicampur tersebut kami genggam pakai tangan. "Untuk 36 kg bottom ash dibutuhkan 1,5-10 liter air. Intinya tergantung kondisi, tidak ada patokan," terangnya.

Untuk proses pembuatannya, semua bahan tadi dicampur dengan mixer beton atau truk molen. Setelah dipastikan semua tercampur dengan merata, maka dimasukkan ke dalam proses cetakan sesuai dengan ukuran dan bentuk "Tak lama setelah itu, barulah beton tersebut bisa dipergunakan dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia," pungkasnya.

Sumber : Koran Jakarta, edisi 23 Juli 2016. Hal: 2

Sivitas Terkait : Dr. Nurul Taufiqu Rochman M.Eng.
Diakses : 2075    Dibagikan :