Terdesak, ISIS Siap Luaskan Jaringan ke Turki dan Arab

 
 
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Kajian Timur Tengah dan Dunia Islam, Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI, Muhammad Fakhry Ghafur mengatakan, ISIS terdesak di Kota Raqqa, Suriah dan Kota Mosul, Irak. Meski demikian, ISIS akan tetap melakukan perlawanan dalam bentuk lain. 

"ISIS akan meluaskan jaringannya ke daerah-daerah perbatasan di Suriah maupun Irak. Mereka akan memperluas jaringannya ke Turki dan Arab Saudi," katanya kepada Republika, Selasa (12/9).

Militan ISIS yang terdesak di Raqqa saat ini beralih ke Kobane suatu daerah dekat perbatasan Turki. Maka ada kemungkinan militan ISIS menyeberang ke Turki atau balik ke Suriah melaui wilayah di utara ini.

Pemerintah Turki, terang Fakhry, harus mengamankan perbatasannya dengan Suriah. Sebab masuknya teroris ke Turki kebanyakan lewat jalur perbatasan baik Kurdish di utara maupun kelompok radikal dari Suriah.

Para militan ISIS yang terdesak di Raqqa maupun Mosul juga ada kemungkinan menyeberang ke selatan ke wilayah Arab Saudi. "Mereka masuk atau melintas melalui perbatasan di selatan."

Militan ISIS ini keluar masuk Saudi. Motif yang dari Saudi ini beragam bisa karena kunjungan atau sebagainya. Saudi selama ini terlihat dengan longgar membiarkan para militan ISIS masuk ke Suriah untuk melawan Presiden Suriah Bashar Assad. Tak bisa diingkari kalau selama ini Saudi gencar mendukung kelompok pemberontak di Suriah.

Pascaterdesaknya ISIS di Raqqa dan Mosul, negara-negara Teluk seharusnya dalam kondisi siap siaga menghadapi meluasnya jejaring ISIS. Sebab negara-negara Teluk yang paling signifikan akan terkena dampaknya.

Saudi dan negara-negara Teluk sudah membangun koalisi antiterorisme untuk melawan jaringan ISIS dan gerakan Syiah Houti di kawasan Timur Tengah.

Meluasnya jaringan ISIS akan menjadi masalah bagi negara-negara Teluk. Untuk itu mereka harus mengatasinya sejak dini. "Ketika berganti daerah, ISIS juga berganti kepemimpinan. Mereka akan membuat strategi baru agar mereka tetap eksis di Timur Tengah sebab mereka ingin tetap menguasai sumber ekonomi seperti minyak dan gas," ujar Fakhry.

Jaringan ISIS tak hanya meluas di Timur Tengah. Namun mereka meluas hingga ke Asia Tenggara seperti Indonesia maupun di Kota Marawi, Filipina.

Militan ISIS dari Indonesia yang terdesak di Mosul maupun Raqqa ada kemungkinan kembali ke Indonesia. Hal yang paling cepat dan bisa dilakukan oleh pihak berwenang adalah melakukan pendekatan individu maupun kelompok untuk meluruskan pemahaman tentang jihad dan khilafah yang salah.

Kemudian, ujar Fakhry, melakukan pendekatan ekonomi kultural. Ini dilakukan dengan memberikan mereka yang kekurangan berupa modal usaha dan beasiswa. Pendekatan moral juga perlu dilakukan pemerintah. Jadi bukan hanya pengawasan karena sebenarnya mereka Muslim yang taat, hanya saja berbeda pemahaman jadi perlu dirangkul dan diperhatikan.

"Pendekatan yang diberikan kepada mantan militan ISIS antara lain pendekatan moral, ekonomi, kultural," katanya. Sebenarnya jihad tidak hanya dipandang sebagai perang saja, jihad maknanya luas. Untuk meluruskan pemahaman keagaaman yang keliru ini bisa jadi tugas Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sedangkan tugas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) antara lain melakukan apa yang telah dilakukan Saudi dalam pencegahan terorisme. Salah satunya membatasi ruang media ISIS.

Ini bisa dilakukan dengan membatasi penyebaran ideologi lewat media sosial maupun internet agar ideologi ISIS tak menyebar luas. "Doktrin-doktrin pendirian khilafah memang sangat menarik. Maka MUI, BNPT perlu meluruskan ideologi yang salah terkait jihad dan khilafah," ujar Fakhry.

Peneliti Politik Internasional LIPI Sandy Nur Ikfal Raharjo menambahkan, jaringan ISIS sulit masuk dari Filipina ke Indonesia melalui Sangihe dan Talaud. Sebab dari sisi ideologi susah karena kebanyakan penduduk di Sangihe dan Talaud yang berbatasan dengan Filipina beragama protestan.

"Mereka tak terlalu peduli dengan perbedaan agama sebab kebanyakan mereka bersaudara. Misalnya kakak, adik beda agama sudah biasa."

Meskipun di sana tingkat kemiskinan tinggi dan tingkat pendidikan juga rendah. Namun dari sisi ideologi, ISIS susah nyambung.

"Saya justru khawatir jaringan ISIS masuk Indonesia dari perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Saat saya dan tim saya ke Nunukan, kami melihat di perbatasan warga dapat dengan mudah naik bus menuju Malaysia hanya dengan visa kunjungan namun bisa melenggang masuk berbulan-bulan di Malaysia, termasuk Sandakan," ujar Sandy.

 

Sumber : republika.co.id, 12 September 2017

Sivitas Terkait : Muhammad Fakhry Ghafur Lc. M.Ag
Diakses : 26    Dibagikan :