Widyakarya Pangan Nasional XI: Percepatan Penanganan Stunting Disorot

 
 

Bisnis.com, JAKARTA – Percepatan penanganan stunting akan menjadi sorotan utama gelaran Widyakarya Pangan Nasional (WNPG) XI pada tahun ini.

Berdasarkan informasi dari laman resmi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), WNPG XI akan digelar pada 3-4 Juli 2018. Plt. Kepala LIPI Bambang Subiyanto mengatakan persoalan stunting sangat berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Hal ini juga berhubungan dengan masalah pemilihan pangan yang berkualitas serta gizi yang seimbang. Aspek inilah, lanjutnya, yang akan menjadi salah satu pembahasan WNPG XI agar menjadi rekomendasi strategis.

Menurutnya, peran SDM Indonesia di masa mendatang akan semakin signifikan ketika ada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta telekomunikasi yang pesat. Pasalnya, perkembangan itu membuat dunia semakin tanpa batas.

“Negara yang mampu berkompetisi dengan SDM berdaya saing akan mampu mengambil posisi dan beradaptasi dalam menghadapi era global,” ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi LIPI, Jumat (2/2/2018).

Persoalan stunting, lanjutnya, telah memperburuk kondisi yang ada. Ini dikarenakan masih ada tantangan lama yakni sekitar 60% tenaga kerja Tanah Air yang berpendidikan SD dan SMP. Selain itu, hanya 20% yang memiliki latar belekang pendidikan tinggi.

Saat ini, Indonesia masuk dalam negara ke-5 dengan jumlah angka stunting tertinggi di dunia. Padahal. Sambung Bambang, Indonesia masuk dalam negara G20. Sekitar 26% dari total stunting berada pada anak kelahiran antara 2007 hingga 2013.

Kurang berhasilnya negara ini mengurangi angka stunting, menurut dia, karena banyak faktor. Pasalnya, banyak kebijakan dan program yang dilakukan, tapi belum memperlihatkan hasil yang signifikan.

“Karena masalah multidimensional yang tidak bisa dilihat dari aspek gizi saja. Aspek lingkungan dan pendidikan juga memiliki pengaruh penting,” imbuhnya.

Persoalan stunting, papar Bambang, tidak hanya terjadi pada keluarga dengan pendapatan mini, melainkan juga menengah ke atas. Hal ini karena pola perilaku asuh dan makanan anak yang diserahkan kepada asisten rumah tangga, sehingga kurang terkontrol dengan baik.

Editor : Martin Sihombing

Sumber : kabar24.bisnis.com, 2 Februari 2018

Sivitas Terkait : Prof.Dr.Ir. Bambang Subiyanto M.Agr.
Diakses : 142    Dibagikan :