Abalon: Teknologi Pembesaran

 
 
Penulis:
Abalon merupakan salah satu jenis siput laut kelompok gastropoda atau moluska bercangkang tunggal, filum Mollusca, famili Haliotidae dan genus Haliotis. Abalon memiliki nilai ekonomi penting sebagai komoditas ekspor. Daging abalon yang terkenal kelezatannya mengandung nutrisi yang baik untuk kesehatan. Daging abalon terasa manis bercampur asin, mengandung protein yang tinggi, memiliki zat yang bisa meningkatkan libido atau gairah seksual, menjaga stamina, meningkatkan ketajaman penglihatan, menetralkan sistem pencernaan, mencegah dan menyembuhkan diabetes, menghaluskan kulit, meremajakan sel-sel tubuh dan anti kanker. Di dunia diketahui lebih dari 150 jenis abalon, namun hanya sekitar 10% dari semua jenis abalon di dunia yang bernilai ekonomis penting untuk dibudidayakan. Di Indonesia dilaporkan ada 7 jenis abalon, dan mungkin masih ada jenis-jenis baru yang belum teridentifikasi. Ketujuh jenis abalon tersebut yaitu: Haliotis asinina, H. varia, H. squamosa, H. ovina, H. glabra, H. planata, dan H. crebrisculpta. Dari ketujuh jenis abalon yang dilaporkan dijumpai di Indonesia tersebut, abalon mata tujuh (H. asinina) dan abalon kaki kuning (H. squamata), telah diteliti dan dikembangkan teknologi pembenihan dan budidayanya Abalon ditemukan hampir di semua perairan dunia, hidup pada perairan pantai berbatu, paparan karang, bersembunyi di celah-celah karang dan lobang batu, ditemukan pada perairan pantai yang dangkal sampai ke perairan laut yang dalam hingga kedalaman 80-90 m. Abalon dijumpai di perairan bersuhu sangat dingin (2oC) hingga di perairan tropis (30oC). Jenis-jenis abalon yang berukuran besar ditemukan hidup di daerah sub-tropis, sedangkan jenis-jenis yang berukuran kecil ditemukan di daerah tropis. Kelangsungan hidup abalon sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Masing-masing jenis abalon mempunyai daya toleransi yang berbeda terhadap suhu air. Abalon tropis hidup pada perairan dengan suhu air 27-30 oC; kadar garam atau salinitas 29-33 ppt, tingkat keasaman atau pH 7-8 dan kandungan oksigen terlarut di atas 3 ppm Pergerakan abalon sangat terbatas, jarang berpindah ke tempat yang jauh, dan biasanya mereka menempati area (nice) yang tetap. Abalon aktif bergerak pada malam hari untuk mencari makan (nocturnal feeding). Periode aktifitas aktif makan terjadi dari jam 18:00 sampai 02:00, dan menurun beberapa jam sebelum matahari terbit. Makanan utama juvenil abalon adalah jenis-jenis mikro-algae bentik seperti Thalassiosira, Navicula, Cocconeis, Amphora, Platymonas, Melosira, Nitzschia dan Chaetoceros, serta beberapa jenis cyanobacteria. Selain mikro-algae (diatom), abalon dewasa juga memakan jenis-jenis rumput laut (makro-algae) lunak seperti Laurencia, Ulva, Hypnea, Kappaphycus, dan Gracilaria untuk abalon tropis dan Hymenocladia, Macrocystis, Ecklonia, Nereocystis, Laminaria, serta Eisenia untuk abalon sub-tropis. Pakan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha budidaya abalon. Jenis dan kualitas pakan akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan abalon. Peningkatan jumlah penduduk dunia dan perubahan pola makan dari mengkonsumsi daging hewan darat berganti ke menu ikan termasuk abalon merupakan faktor pendorong perkembangan budidaya abalon di dunia termasuk di Indonesia. Kebutuhan konsumen akan produk abalon cenderung terus meningkat, baik kebutuhan di pasar lokal (domestik) maupun di pasar internasional (ekspor). Peran produksi abalon hasil budidaya telah mendongkrak total produksi abalon dunia. Budidaya abalon dimulai pada akhir tahun 1950-an di Jepang dan akhir tahun 1960-an di Cina. Budidaya abalon berkembang pesat pada tahun 1990-an, dan sekarang telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Amerika Serikat, Meksiko, Kanada, Ireland, Iceland, Perancis, Afrika Selatan, Australia, New Zealand, Jepang, Cina, Taiwan, Korea, India, Filipina, dan juga Indonesia. Sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk mengembangkan usaha budidaya abalon tropis, khususnya abalon mata tujuh (H. asinina) yang mempunyai ukuran besar dan prosentase daging yang tinggi dan abalon kaki kuning (H. squamata) yang mirip dengan jenis abalon di Jepang (tokobhushi, H. diversicolor), dagingnya berwarna kekuningan. Masa depan budidaya abalon di Indonesia sangat baik mengingat lahan yang cocok untuk membuka usaha budidaya abalon sangat luas, makanan abalon (rumput laut) berlimpah, bahan untuk membuat pakan buatan (tepung ikan, tepung kedelai, tepung jagung, minyak ikan) cukup tersedia dengan harga yang relatif murah. Selain itu, tenaga kerja berpendidikan ilmu perikanan dan budidaya tersedia, dan jaringan pemasaran abalon (baik pasar domestik maupun ekspor) sudah ada. Usaha budidaya abalon tidak terlepas dari kebutuhan air sebagai media hidup. Kualitas air akan sangat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan abalon. Secara umum kualitas air laut alami yang baik untuk budidaya abalon tropis yaitu: salinitas > 30 ppt, tingkat keasaman atau pH sekitar 8,0 + 0,5, kandungan oksigen terlarut > 5 mg/l, dan tidak ada kandungan bahan beracun seperti logam berat, pestisida dan sebagainya, serta temperatur air laut tidak fluktuatif dengan kisaran 27 - 29 °C. Selain persyaratan kualitas air laut sebagai media budidaya, pada buku ini dibahas secara detail mengenai aspek dasar budidaya abalon, meliputi: benih dan penangannya, kebutuhan pakan, laju pertumbuhan, serta hama dan penyakit yang biasa muncul pada proses budidaya abalon. Informasi mengenai persyaratan pemilihan lokasi untuk keberhasilan budidaya abalon, baik dari aspek ekologis, teknis, sosial-ekonomi, dan perundang-undangan disajikan pada buku ini. Pada bab-bab berikutnya dibahas secara rinci teknik budidaya abalon yang biasa dilakukan di dunia, dan bahasan khusus mengenai budidaya pembesaran abalon tropis, meliputi: persiapan sarana budidaya, penebaran benih, pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, grading (pemilahan ukuran), monitoring pertumbuhan dan kesehatan, serta panen dan penanganan pasca panen.

Buku, 2022, I, 102

ISSN / ISBN / IBSN : ISBN 978-623-02-4340-0

No. Arsip : LIPI-20220421