Kepiting Kenari (Seri Metode Survei dan Pemantauan Populasi Satwa) Buku VIII

 
 
Penulis: Dra. Rianta Pratiwi M.Sc.,Heryanto, Daisy Wowor
Kepiting kenari (Birgus latro) merupakan salah satu binatang liar (wildlife) yang hidup di laut pada saat stadia larva dan juvenil, sedangkan pada saat stadia muda dan dewasa lebih banyak menghabiskan hidupnya di daratan, sehingga binatang ini lebih dikenal sebagai kepiting darat yang aktif mencari makan pada malam hari. Kepiting kenari atau ketam kenari dikenal juga sebagai kepiting pencuri (robber crab) karena sering mencuri kelapa sebagai makanannya. Kepiting ini termasuk kelompok dekapoda darat yang paling besar dan bahkan sebagai Arthropoda daratan terbesar di dunia.Rentangan kakinya dari ujung capit kaki yang satu sampai dengan ujung capit kaki lainnya dapat mencapai 1 (satu) meter dengan berat maksimum 4 (empat) kilogram (Jahidin, 2011; Pandiangan dkk., 2015). Masyarakat Indonesia dan juga masyarakat internasional belum banyak yang mengetahui mengenai Kepiting kenari (nama ilmiah: Birgus latro). Selain itu Kepiting kenari juga dikenal sebagai hewan yang memiliki kekuatan yang besar dalam mengangkat beban, karena menurut Rahman dkk. (2017) kepiting ini dapat mengangkat beban hingga 29 kg. Lifespan (rentang hidup) kepiting ini juga besar, bila Kepiting kenari dibiarkan hidup maka ia dapat mencapai usia hingga 30 tahun. Hal ini sangat berbeda dengan kepiting-kepiting jenis lainnya yang berusia lebih pendek. Banyak nama yang diberikan kepada Kepiting kenari. Menurut Pratiwi (1989), kepiting ini dikenal dengan nama “Sipay, Krab koko, Bef koko” di Kepulauan Seychelles. Sedangkan di Papua Nugini penduduk pulau Jungafsa menyebutnya dengan "Tinggau" (dialek Demta); penduduk Pulau Jamna menyebutnya "Tingkau Tankadi" (bahasa Sobei) dan penduduk Pulau Sarmi menyebutnya "Asodma" (bahasa Sobei) (Holthuis, 1963). Di Filipina dikenal dengan nama "Alimangong lupa" (bahasa Tagalog), "Tatus" (bahasa Cebuano), dan "Umang" (bahasa Cebuano dan Ilongo). Di Inggris penduduk setempat menyebutnya dengan nama "Coconut Crab" dan atau "Robber Crab" (Motoh, 1980). Di pulau Salibabu, Sangir Talaud (Sangihe), Sulawesi Utara penduduk menyebutnya dengan nama “Arungu, Ketang Kelapa”. Di kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara dikenal dengan nama “Tigasu” (pulau Kadatua dan Wawonii) atau “Langkobabu” (pulau Siompu) dan “Wutatu” (pulau Wakatobi) (Sulistiono dkk., 2009a, b) dan “Kepiting kenari” (Maluku) dan “Ketam Kelapa” (Papua) (Pratiwi, 1989). Ketam kenari ditemukan di wilayah Indonesia timur dengan batas Selat Makassar di bagian barat dan Papua di bagian timur. Kepiting jenis ini ditemukan di pulau-pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Di wilayah kepulauan Talaud (Sulawesi Utara) (Pratiwi, 1988; Rondo & Limbong, 1990), pulau Siompu, Tongali, Kaimbulawa dan Liwutongkidi (Sulawesi Tenggara) (Ramli dalam Rafiani, 2005; Heryanto & Wowor, 2017), pulau Pasoso (Sulawesi Tengah) (Sulistiono, 2005; Heryanto & Wowor, 2017), Pulau Yoi (Maluku Utara) (Sulistiono dkk., 2009a,b), sedangkan di Nusa Tenggara terdapat di pantai berbatu pulau Yamdena (Monk dalam Suari dkk., 2015) dan di Kalimantan terdapat di pulau Derawan (Suari dkk., 2015). Menurut Heryanto & Wowor (2017), Kepiting kenari di Sulawesi juga ditemukan di kepulauan Togean, pulau Kadatua dan kepulauan Kabaena sedangkan di Maluku Utara ditemukan di pulau Ternate dan pulau Kayoa serta di Papua. Dengan ukurannya yang raksasa dan dagingnya yang lezat, maka banyak orang ingin menikmatinya sebagai hidangan. Permintaan akan menu masakan Kepiting kenari di restoran tertentu meningkat sehingga berimbas pada meningkatnya permintaan pada perdagangan Kepiting kenari. Oleh karena itu, penangkapan kepiting ini berjalan dengan intensif yang akhirnya diikuti dengan menurunnya populasi kepiting ini. Populasi Kepiting kenari di dunia dianggap telah menurun dengan drastis sehingga Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (International Union for Conservation of Nature = IUCN) telah menetapkan bahwa Kepiting kenari adalah binatang langka dan perlu dilindungi walaupun termasuk dalam kategori “kurang data” (Eldredge, 1996). Negara-negara pemilik populasi Kepiting kenari seperti Vanuatu, Guam, Negara Federasi Micronesia, dan Kepulauan Mariana Utara telah mengatur pemanenannya.Walaupun begitu, populasi kepiting ini tetap berkurang dengan cepat (Brown & Fielder 1991, Schiller 1992, Lavery dkk. 1996).

Buku Kepiting Kenari (Seri Metode Survei dan Pemantauan Populasi Satwa) Buku VIII, 65 halaman

ISSN / ISBN / IBSN : ISBN ISBN 978-979-579-105-8

No. Arsip : LIPI-20190211
Download Disini