Bentuk Diplomat Sains, LIPI Bekali Peneliti dengan Ilmu Diplomasi dan Negosiasi

 
 
Tantangan riset global menuntut para peneliti dan akademisi untuk ikut terlibat dalam memperjuangkan kepentingan nasional pada berbagai perundingan dan negosiasi internasional. Mereka pun dituntut untuk berperan layaknya diplomat di bidang sains. Apalagi, sains menjadi alat yang memudahkan hubungan antar bangsa karena tidak diwarnai oleh ras atau budaya. Oleh karena itu, para peneliti juga harus menguasai kemampuan berdiplomasi dan bernegosiasi untuk menawarkan solusi pemecahan untuk berbagai masalah global. Untuk meningkatkan kapasitas diplomasi bagi para peneliti, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menggelar Workshop on Science Diplomacy pada 12-13 Maret 2018.
 
Jakarta, 9 Maret 2018. Selain melalui praktik diplomasi tradisional, kapasitas sains mempunyai peran penting dalam membangun kepercayaan dan hubungan antar negara saat ini. Banyak isu-isu global yang dihadapi abad ini seperti masalah keanekaragaman hayati, perubahan iklim, kekurangan air, kemiskinan, serta masalah energi, memerlukan kolaborasi ilmuwan, pembuat kebijakan, akademisi, dan pemangku kepentingan dalam menghubungkan dunia sains dan politik untuk menemukan solusi terbaik bersama.
 
“Pengaruh sains dan teknologi sangat mempengaruhi kehidupan global dan juga membawa perubahan dalam hubungan antar bangsa. Akibatnya, komunikasi global seolah-olah didominasi oleh negara yang maju dalam bidang teknologi,” ujar Plt. Kepala LIPI, Bambang Subiyanto. Menyikapi hal tersebut, Science Diplomacy dapat menawarkan mekanisme untuk membangun kepercayaan, menciptakan dialog dan memungkinkan akses antar negara melalui ilmu pengetahuan. “Melalui Science Diplomacy, konektivitas antara para peneliti - akademisi - pembuat kebijakan sebagai instrumen kunci diplomasi sains di luar batas-batas politik dapat terbangun,” ujarnya.
 
LIPI sendiri telah menggelar pelatihan Science Diplomacy sejak tahun 2006. “Dengan pelatihan ini, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kerja sama internasional dengan negara-negara lain, baik secara individu maupun kelembagaan, karena sains memegang peran penting dalam konteks geopolitik dan geostrategi negara,” tutur Bambang. Secara spesifik, LIPI merupakan lembaga ilmiah yang paling banyak mengirimkan peneliti ke luar negeri, yaitu sekitar 500 orang setiap tahunnya. Sehingga, dengan adanya Workshop on Science Diplomacy ini, diharapkan mampu memberi bekal wawasan dalam bentuk etika hubungan internasional khususnya bagi para peneliti.
 
Sementara itu, Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas menambahkan, keminderan peneliti Indonesia dapat berakibat pada melemahnya posisi negara dalam daya saing global. “Kita tentu harus memperbaiki ini, agar di masa mendatang posisi Indonesia lebih kuat lagi dalam pergaulan internasional,” tutupnya.
 
Sebagai informasi, Workshop on Science Diplomacy yang tahun ini mengambil tema Developing Strategic Partnership and Leadership akan menghadirkan pembicara-pembicara dari Kementerian Luar Negeri seperti Duta Besar senior Makarim Wibisono, Yayan G.H Mulyana, perwakilan kedutaan Perancis, perwakilan kedutaan Amerika Serikat, serta peneliti senior LIPI. Kegiatan ini akan berlangsung pada 12-13 Maret mendatang di Century Park Hotel Senayan, Jakarta.
 
 
Keterangan Lebih Lanjut:
  • Nur Tri Aries Suestiningtyas (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)
  • Dwie Irmawaty Gultom (Kepala Bagian Humas, Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI)

Sumber: BKHH LIPI
Penulis: msa
Editor: dig

Siaran pers ini disiapkan oleh Humas LIPI
Sumber : Biro Kerjasama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Rr Nur Tri Aries Suestiningtyas S.IP., M.A.
Diakses : 423    Dibagikan :