Bunga Bangkai Amorphophallus titanum Siap Mekar di Kebun Raya Bogor

 
 
Bunga bangkai (Amorphophallus titanum) merupakan tumbuhan asli Indonesia. Populasinya hanya ditemukan di hutan-hutan Sumatera. Saat ini habitatnya di alam banyak mendapat tekanan dan gangguan dari pengambilan ilegal di hutan, kerusakan habitat, dan penurunan jumlah serangga penyerbuk serta binatang penebar biji. Kegiatan konservasi dan penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya berperan penting dalam mengupayakan pembudidayaan bunga bangkai untuk pemanfaatan berkelanjutan dan lestari. Saat ini individu bunga bangkai di Kebun Raya Bogor siap untuk mekar. Dari pemantauan terakhir, tinggi bunga mencapai 194 centimeter dan diperkirakan akan mekar pada Sabtu, 4 Januari 2020. 
 
Bogor, 4 Januari 2020. Bunga bangkai termasuk suku talas-talasan (Araceae) sehingga memiliki umbi. Umbinya juga berukuran raksasa, beratnya dapat mencapai 117 kilogram. “Umbi dari individu yang akan mekar ini diperoleh dari kerjasama LIPI dengan Kebun Raya Liwa, Lampung,” ujar Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, R. Hendrian.

Dirinya menjelaskan, konservasi jenis-jenis tumbuhan terancam di Indonesia akan menjadi salah satu fokus utama kegiatan penelitian LIPI di tahun ini. “Beberapa kegiatan eksplorasi juga akan dilakukan untuk meningkatkan secara signifikan jumlah jenis tumbuhan terancam yang terkonservasi secara ex-situ di Kebun Raya Indonesia,” terangnya. Dirinya menambahkan, fasilitas penelitian di Kebun Raya Bogor terus dioptimalisasi dan direvitalisasi. “Awal tahun ini pembangunan rumah kaca dan laboratorium anggrek segera dimulai.”

Peneliti bunga bangkai Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, Dian Latifah menjelaskan Amorphophallus titanum berbeda dengan Rafflesia meski keduanya dikenal masyarakat dengan sebutan bunga bangkai. “Rafflesia merupakan tumbuhan parasit dengan pohon inang Tetrastigma spp. atau anggur hutan ,” ujar Dian. 

Dian menjelaskan, Amorphophallus titanum memiliki fase daun dan fase bunga yang tidak bersamaan. “Fase daun dapat mencapai satu sampai dua tahun. Setelah itu umbi akan memasuki masa istirahat atau dorman yang bisa lebih dari satu setengah tahun, kemudian berbunga,” ujar Dian. Dirinya menjelaskan, perbungaan Amorphophallus titanum merupakan sekelompok bunga kecil jantan dan betina yang menempel di bagian dasar tongkol. “Tongkol atau spadiks yang berwarna kuning dikelilingi oleh seludang bunga yang berwarna merah keunguan. Tinggi spadiks dapat mencapai tiga meter menjadikan Amorphophallus titanum dijuluki Bunga Raksasa,” ujar Dian.  

Dirinya menjelaskan, bunga jantan dan betina tidak masak bersamaan. “Bunga betina masak di malam hari dan mengeluarkan bau busuk seperti bangkai. Pada proses ini terjadi peningkatan suhu di bagian tongkolnya sehingga kadangkadang dapat mengeluarkan asap,” papar Dian. Sementara bunga jantan, tambah Dian, masak keesokan harinya. “Secara alami bunga bangkai sulit menyerbuk sendiri. Penyerbukan dapat terjadi dengan bantuan serangga penyerbuk atau manusia,” terangnya.

LIPI saat ini telah meneliti kandungan umbi bunga bangkai. “Umbinya bermanfaat karena kandungan glucomannan yang memiliki kegunaan sebagai zat pengental, jelly kaya serat (dietary fibers) dan suplemen untuk diet kolesterol, gula darah, dan agen control berat badan,” pungkas Dian.

Amorphophallus titanum sendiri masuk dalam kategori tumbuhan langka berdasarkan klasifikasi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan keberadaannya dilindungi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Poerba dan Yuzammi (2008), kelestariannya memerlukan bantuan manusia dalam bentuk pembibitan massal dan cepat, misalnya kultur jaringan, dan diikuti reintroduksi di alam. 


Sivitas Terkait : Dr. R. Hendrian M.Sc.
Diakses : 281    Dibagikan :