Dampak Industri Kelapa Sawit Terhadap Pemenuhan Kepentingan Terbaik Anak

 
 
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang berperan besar dalam pertumbuhan perekonomian nasional. Akan tetapi, perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia masih dihadapkan pada permasalahan perburuhan anak di tingkat swadaya kelapa sawit skala kecil. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Kependudukan bersama Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) telah melakukan penelitiantentang kehidupan pekebun sawit swadaya skala kecil sebagai bagian dari “rantai pasok” globaldan dampak industri kelapa sawit terhadap pemenuhan kepentingan terbaik bagi anak. Hasil penelitian akan disampaikan dalam Webinar Ketahanan Keluarga dan Pemenuhan Kepentingan Terbaik Bagi Anak pada Masyarakat Perkebunan Kelapa Sawit” pada Rabu, 26 Agustus 2020.

Jakarta, 25 Agustus 2020. Indonesia merupakan salah satu negara produsen kelapa sawit terpenting di dunia dengan proyeksi 51,44 juta ton di tahun 2019. Kelapa sawit pun telah menjadi salah satu komoditas penting dalam pertumbuhan perekonomian nasional sebagai salah satu penyumbang devisa terbesar.

“K
elapa sawit sebagai entitas industri yang sangat mumpuni dalam mengurangi tingkat kemiskinan, terutama terhadap sebagian besar masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ekonomi kelapa sawit,” ujar Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Yogaswara.

Namun, Herry menyebut
bahwa melimpahnya penerimaan negara atas keberhasilan industri kelapa sawit di Indonesia masih meninggalkan beberapa permasalahan, antara lain kerusakan ekologis, proletarisasi pekebun, ketimpangan agraria, dan masalah perburuhan kelapa sawit “Teras industri yang padat karya ini masih dipenuhi dengan rangkaian permasalahan.

Salah satu permasalahan yang belum memiliki solusi memadai adalah tentangrantai pasok perekonomian kelapa sawit yang berdampak terhadap ketahanan keluarga dan pemenuhan kepentingan terbaik bagi anak,” terang Herry.Pusat Penelitian Kependudukan LIPI bekerja sama dengan Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) telah melakukan penelitian untuk menggali lebih dalam tentang adanya praktik perburuhan anak dalam swadaya kelapa sawit skala kecil.

Penelitian ini merupakan bentuk komitmen LIPI dan PKPA untuk andil mewujudkan RoadmapIndonesia Bebas Pekerja anak tahun 2022 dengan visi “Masa Depan Tanpa Pekerja Anak”.

Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Mochammad Wahyu Ghani menyatakan adanya praktik perburuhan anak di lingkungan perkebunan kelapa sawitdi salah satu desa di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. “Di beberapa tempat, terminologi pekerja anak berubah menjadi praktik perburuhan anak. Tekanan ekonomi keluarga memanglah menjadi salah satu alasan mengapa masih ada pekerja anak di lingkungan kelapa sawit,ujar Ghani.

Ghani menjelaskan, keluarga memang tidak terlepas dari berbagai tantangan yang menyebabkan terganggunya ketahanan keluarga. Namun, sudah selayaknya anak tidak dilibatkan dalam berbagai kesulitan, terutama himpitan ekonomi yang dihadapi sebuah keluarga,ujar Ghani.

Dirinya menjelaskan,
anak-anak masih saja menjadi pihak yang rentan untuk dilanggar hak-haknya. Salah satunya seperti terlibat dalam praktek ekonomi, khususnya dalam keluarga petani sawit skala kecil,” tutup Ghani.

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Herry Jogaswara MA
Diakses : 847    Dibagikan :