Enam Rekomendasi LIPI untuk Mitigasi Longsor di Pejagoan dan Kedungwinangun Kebumen

 
 
 
Peneliti Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Teknisi Litkayasa yang bertugas di Balai Informasi dan Konservasi Kebumian (BIKK) Karangsambung LIPI melakukan kegiatan pengkajian tanggap bencana gerakan tanah atau longsor yang terjadi di Desa Pejagoan dan Desa Kedungwinangun, Kabupaten Kebumen dari November 2020 hingga Januari 2021. Kajian ini dilakukan bersama dengan BPBD, PUPR dan OPD terkait lainnya di Kabupaten Kebumen. Kajian dilakukan berdasarkan aspek geologi, geohidrologi, geoteknik, dan sondir untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya longsor dan peluang mitigasinya. Hasil kajian tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen, Rabu (3/2).
 
Karangsambung, 3 Februari 2021. Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto mengatakan bahwa pada konteks bencana geohidrometeorologi, khususnya tanah longsor, peningkatan ancaman terjadi salah satunya sebagai efek dari perubahan iklim, namun terdapat peningkatan yang dipengaruhi kerentanan masyarakat  “Risiko bencana  tanah longsor mengalami peningkatan akibat meningkatnya kerentanan masyarakat. Pembangunan infrastruktur dan pilihan tindakan masyarakat yang lebih mengedepankan pemenuhan terhadap tuntutan ekonomi semata mengakibatkan meningkatnya tekanan terhadap lingkungan,” ujar Eko.
 
Kepala BIKK Karangsambung LIPI, Indra Riswadinata mengatakan bahwa pengkajian tanggap bencana gerakan tanah atau longsor penting dilakukan untuk memperoleh kajian ilmiah yang akan digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan pemerintah melalui BPBD Kabupaten Kebumen dalam memitigasi bencana longsor tersebut. “Untuk menekan risiko bencana tanah, kebijakan pembangunan khususnya alih fungsi lahan dengan kemiringan tinggi harus dibuat berdasarkan Kajian Risiko Bencana tanah longsor,” tambah Indra.  
 
Menjelaskan tentang kajian yang sudah dilakukan itu, Ketua Tim Tanggap Bencana BIKK LIPI, Sueno Winduhutomo mengatakan bahwa bencana longsor sering terjadi di wilayah Kebumen, terutama di daerah dengan lereng curam pada musim hujan, karena adanya penggunaan lahan yang tidak sesuai peruntukan lahan yang seharusnya.
 
Sueno menambahkan, secara geologis, lokasi longsor tersebut masuk ke dalam jenis tanah aluvium (Qa), atau jenis tanah yang terdiri dari lapisan lempung, pasir, kerikil, dan krakal hasil dari pengendapan sungai yang berumur 10 ribu tahun (holosen) dan masih aktif hingga sekarang (resen). Di bawah tanah aluvium tersebut, terdapat Formasi Halang sebagai lapisan terdekat di lokasi kejadian. Formasi Halang sendiri merupakan susunan batupasir, batugamping, napal dan tuf (batu putih) dengan sisipan breksi.
 
Susunan tanah tersebut merupakan lapisan batuan muda, sehingga mudah terkena erosi air. “Merujuk pada aspek geohidrologi dan geoteknik, gerakan air tanah ditambah adanya tanah jenuh air juga menjadi faktor pemicu bencana longsor di lokasi bencana,” ujar Peneliti Geoteknologi LIPI tersebut.
 
Dari hasil pengkajian, Tim Tanggap Bencana BIKK LIPI merumuskan rekomendasi yang dapat dilakukan untuk mitigasi bencana longsor di desa Pejagoan dan Kedungwinangun, Kebumen. Enam rekomendasi tersebut adalah: 1) Masyarakat terdampak bencana dihimbau agar segera mengungsi ke lokasi yang lebih aman; 2) Masyarakat yang berada atau tinggal dekat lokasi bencana perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan atau mengungsi sementara ke lokasi yang lebih aman, terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama; 3) Pengelolaan dan pengaturan drainase dimulai dari pemukiman; 4) Mengurangi kemiringan tebing sungai; 5) Penyelamatan tebing sungai dengan bronjong; dan 6) Mengurangi arus turbulensi.

Sivitas Terkait : Dr. Eko Yulianto
Diakses : 298    Dibagikan :