Jejaring ISIS: Tantangan Regional dan Global

 
 
Kehancuran basis terkuat Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Mosul dan Raqqa pada Juli 2017 lalu, menjadi babak baru dalam melihat aksi terorisme global. Alih-alih melemahkan atau menghancurkan pergerakan organisasi yang mendeklarasikan kekhalifahannya pada 29 Juni 2014 silam, kehancuran ini justru menjadi tantangan baru seiring ideologi radikal yang terus tersebar dan telah membentuk sel-sel baru. Lalu, bagaimana politik luar negeri Indonesia merespon upaya counter terrorism di tingkat global dan regional, serta bagaimana ASEAN menggalang kerja sama negara-negara di kawasan dalam upaya menghambat perluasan pengaruh ISIS di Asia Tenggara? Pembahasan lebih lanjut akan disajikan dalam seminar yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Politik (P2P) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Senin, 11 September 2017 di Ruang Seminar PDII LIPI lt. 2, Jakarta.
 
Jakarta, 11 September 2017. Sebagaimana laporan PBB yang dikutip dari The Independent (Agustus 2017), diperkirakan terdapat 25.000 militan asing dari lebih 100 negara di dunia, yang telah bergabung dengan ISIS di Suriah. Jumlah simpatisan yang cukup besar dan berasal dari berbagai kawasan di dunia ini pada akhirnya menjadi kekuatan baru bagi ISIS ketika pusat kekuasaan de facto mereka di Raqqa mengalami pukulan telak. Kembalinya militan asing ke wilayah asal mereka menjadi ancaman baru bagi kawasan, tak terkecuali Asia Tenggara. Indonesia dan Filipina adalah dua negara di Asia Tenggara yang mengalami serangkaian aksi teror bom oleh jaringan teroris ISIS sepanjang 2017.
 
Serangan di Marawi, Filipina pada Mei 2017 menjadi contoh nyata bagaimana ISIS menggunakan jaringan ekstremis lokal di Filipina Selatan, seperti kelompok Maute dan Abu Sayyaf, yang sebelumnya memang telah menyatakan afiliasinya kepada ISIS. Selain itu, krisis Marawi juga membuka fakta adanya kerjasama antara jaringan ekstremis lokal di kawasan ini. Dalam serangan di Marawi ini terungkap, terdapat tiga orang warga negara Indonesia dan satu orang warga negara Malaysia yang dipercaya merupakan anggota Jemaah Islamiyah yang berbasis di Indonesia. Rentannya wilayah Asia Tenggara terhadap aksi-aksi terorisme global semacam ini tidak dapat dilepaskan dari fakta bahwa upaya-upaya penanganan terorisme dan penegakan hukum yang masih tergantung pada legislasi nasional masing-masing negara, di samping persoalan instabilitas domestik dan celah pengamanan di wilayah perbatasan, khususnya antara Indonesia-Malaysia-Filipina, yang seringkali menghambat efektivitas kerja sama penanganan terorisme di tingkat regional.
 
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, dalam Press Briefing di sela ASEAN Ministerial Meeting di Filipina, Agustus 2017, menyebut kejadian di Marawi sebagai “wake-up call” bahwa regionalisasi dari pengaruh ISIS di kawasan Asia Tenggara telah dimulai. Serangan ISIS di Asia Tenggara tidak berakhir di Marawi. Ancaman serangan serupa di wilayah Asia Tenggara lainnya tidak bisa diabaikan, mengingat banyaknya simpatisan ISIS yang berasal dari kawasan ini dan kelompok militan lokal yang menyatakan afiliasinya ke ISIS. Oleh karena itu, penanganan jaringan teroris ISIS membutuhkan kerja sama yang efektif pada level regional dan global.
 
Keterangan Lebih Lanjut:
- Siswanto (Plt. Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI)
- Isrard (Kepala Bagian Humas, Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)


Sumber: Pusat Penelitian Politik
Penulis: msa
Editor: isr

Siaran pers ini disiapkan oleh Humas LIPI

 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Siswanto M.Si