Keberadaan Lembaga Pembiayaan Mikro bagi Usaha Mikro dan Kecil di Masa Pandemi

 
 
Keberadaan Lembaga Pembiayaan Mikro (LPM) tidak terlepas dari perkembangan Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Peranan UMK di masa pandemi diharapkan mampu bangkit untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional. Bagi Lembaga Pembiayaan, khususnya yang bersentuhan langsung dengan penyaluran kredit mikro bagi UMK, mengindikasikan adanya sejumlah problematika yang di hadapi LPM pada saat pandemi COVID-19 berlangsung. Untuk mengetahui temuan kaji cepat kondisi LPM, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melalui Pusat Penelitian Ekonomi  akan menyelenggarakan webinar bertajuk Potret Lembaga Pembiayaan Mikro di Masa Pandemi COVID-19: Mitigasi dan Adaptasi, pada Selasa, 13 Oktober 2020 melalui aplikasi zoom meeting dan live Streaming di kanal Youtube  pukul 09.00 WIB.
 
Jakarta, 12 Oktober 2020. Sektor paling populer saat pandemi ini adalah pemberian kredit modal kerja untuk pelaku bisnis UMK. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemasyarakatan LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti, mengatakan, beberapa keunggulan usaha mikro dan kecil sudah teruji saat menghadapi krisis ekonomi. Menyikapi hali ini, pemerintah melalui Kementerian Keuangan RI.telah mengeluarkan  kebijakan stimulus fiskal. “Kebijakan makroekonomi berupa pemberian insentif disektor fiskal ini diterapkan pemerintah pada saat menghadapai krisis ekonomi”, tegasnya
 
Nuke menyebutkan, stimulus fiskal, antara lain relaksasi atau restrukturisasi kredit UMK di Bank, Bank Perkreditan Rakyat, dan perusahaan pembiayaan dalam rangka mendorong pemulihan ekonomi. “Kebijakan tersebut memberikan angin segar pada sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya yang secara legal formal memenuhi kriteria untuk menyalurkan insentif tersebut,” imbuhnya. “Sementara itu, masih banyak sektor keuangan non-bank lainnya yang secara praktis turut andil dalam memacu pertumbuhan ekonomi melalui jasa kredit mikro namun tidak menjadi bagian dalam implementasi kebijakan tersebut,” tambahnya. 
 
“Seiring dengan kebutuhan pembiayaan yang dihadapi oleh pelaku UMK yang semakin berat, inisiatif LIPI melalui Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) telah melakukan kajian cepat (rapid assessment) terhadap LPM, khususnya yang bersentuhan langsung dengan penyaluran kredit mikro bagi UMK,” terang Nuke. Tujuannya, Ia menyebutkan, mengkaji dampak pandemi terhadap kinerja LPM serta menganalisis kebijakan, strategi mitigasi dan adaptasi LPM.
 
Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Tuti Ermawati, menerangkan bahwa LPM adalah lembaga yang menyalurkan kredit/pembiayaan kepada usaha mikro dan kecil, diantaranya: BPR/BPRS, koperasi simpan pinjam/ LKM/LKMS/BMT, PNM Mekaar, Pegadaian. “Pelaksanaan rapid assessment melalui survei online dan FGD, telah dilaksanakan pada 1 Agustus - 10 September 2020, kepada 698 responden dan yang memenuhi syarat untuk dianalisis ada 277 responden,” paparnya.
 
Tuti menyimpulkan, dari hasil rapid assessment menunjukan bahwa secara umum COVID-19 memengaruhi LPM, khususnya kinerja keuangan. “Secara spesifik terjadi penurunan jumlah simpanan dan nasabah yang menabung, jumlah pinjaman yang disalurkan dan nasabah yang meminjam, Noan Performing Loan (NPL) naik, net cash flow dan laba bersih turun; serta jumlah SDM tetap,” ungkap Tuti.
 
Sebagai informasi, pada penyelenggaraan webinar ini, P2E LIPI melakukan kolaborasi kerja sama dengan Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) dan Asosiasi Koperasi Simpan Pinjam Indonesia (Askopindo). Pemateri  akan menyajikan potret lembaga keuangan, baik bank maupun non-bank dari perspektif ilmiah maupun praktis sehingga membuka jalan bagi pengembangan kebijakan yang inklusif di sektor keuangan. (mtr/ed:drs)


Sivitas Terkait : Dr. Tri Nuke Pudjiastuti M.A.
Diakses : 332    Dibagikan :