LIPI Dan Provinsi NTB Prioritaskan Pariwisata Yang Inklusif dan Berdaya Saing

 
 
Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan wilayah yang berbasis sektor pariwisata dengan kontribusi terhadap PDRB sebesar 20%. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Provinsi NTB, jumlah wisatawan NTB meningkat tiap tahunnya, dengan realisasi 2017 sebanyak 3.508.903 wisatawan yang telah melampaui target tahunan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Ekonomi, Pusat Penelitian Biologi, dan Pusat Penelitian Oseanografi melaksanakan Diseminasi Iptek tentang Pembangunan Berkelanjutan Di Sektor Pariwisata Provinsi NTB Yang Inklusif dan Berdaya Saing pada Jumát 30 Nopember 2018 di Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Lombok, 30 Nopember 2018. Pada tahun 2018, NTB menargetkan sebanyak 4 juta wisatawan. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sejak tahun 2014, dengan pertumbuhan 5,82% untuk Provinsi NTB (5,02% untuk nasional) pada tahun 2016.

Witjaksono, Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI mengatakan bahwa pariwisata telah menjadi sektor prioritas di Provinsi NTB dengan kawasan wisata unggulan meliputi KEK Mandalika, Kawasan Teluk Saleh, Pulau Moyodan Tambora, Cagar Biosfer Gunung Rinjani, Pantai Sanggigi, dan Gili-gili. Provinsi NTB memiliki kekayaan seni budaya, sejarah, dan industri kerajinan dengan potensi yang sangat besar.

Dengan banyaknya destinasi serta keragaman budaya dan hayati tersebut, maka banyak wisatawan yang berkunjung, termasuk ke Cagar Biosfer Gunung Rinjani. “Cagar biosfer seluas 41 ha tersebut diresmikan dan diakui keberadaannya oleh dunia internasional sejak tahun 2018, dengan hutan primer sebanyak 40% dan memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi,” ujar Witjaksono. Menurut Witjaksono, LIPI memiliki peran yang penting dalam penetapan kawasan tersebut, sebagai kawasan ekosistem yang harus dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan.

 “Dalam pengembangan sektor pariwisata, diperlukan kawasan yang berdaya saing dalam aspek infrastruktur,kesiapan SDM, pembiayaan, dan tata kelola kawasan yang baik,” jelas Witjaksono. Selain itu, kawasan tersebut juga perlu memiliki backward and forward linkage yang positif terhadap masyarakat sehingga dapat mewujudkan inklusivitas perekonomian daerah. “LIPI dalam hal ini memiliki fokus penelitian kawasan pariwisata di NTB yang mengaitkan ke empat aspek tersebut, yang hasilnya diharapkan menjadi dasar rekomendasi kebijakan untuk mendorong perekonomian daerah yang inklusif dan berdaya saing,” ungkap Witjaksono.

Dengan adanya berbagai penelitian yang berlokasi di Provinsi NTB dalam kaitannya dengan Cagar Biosfer dan sektor pariwisata, maka penting untuk dilakukan Forum Dialog sebagai salah satu wadah komunikasi dan upaya meningkatkan sinergitas antara peneliti dan pemangku kepentingan.
 
  Keterangan Lebih Lanjut:
  •  Dr. Ir. Witjaksono, M. Sc   (Kepala Pusat Penelitian Biologi  LIPI)

penulis: dnh
editor:dig

Sumber : Biro Kerjasama, Hukum dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Ir. Witjaksono M.Sc.
Diakses : 82    Dibagikan :