LIPI: Ekohidrologi untuk Ketersediaan Air Bersih Yang Berkelanjutan di Indonesia

 
 
Air bersih merupakan salah satu kebutuhan mendasar manusia untuk memenuhi standar kehidupan secara sehat. Masyarakat yang tercukupi kebutuhan air bersih akan terhindar dari penyakit yang menyebar lewat air, dapat hidup secara sehat dan menjadi manusia yang berkualitas. Namun, Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan terkait rendahnya akses terhadap air bersih dan sanitasi layak. Berdasarkan itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengulas lebih lanjut tentang aplikasi konsep ekohidrologi dalam Media Briefing “Pola Hidup Bersih: Aplikasi Ekohidrologi untuk Ketersediaan Air Bersih yang Berkelanjutan di Indonesia”, pada 25 Mei 2018 di Media Center LIPI Pusat Jakarta. 
 
 
Jakarta, 25 Mei 2018. Negara-negara di kawasan Asia Pasifik masih menghadapi permasalahan air yang didominasi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah  rendahnya akses terhadap air dan sanitasi bersih, yang kerap kali berujung pada munculnya penyakit-penyakit yang berkaitan dengan air. Selain itu, faktor lainnya adalah banjir dan kekeringan yang kerap melanda kawasan tersebut.
 
Ignasius Dwi Sutapa, Peneliti dari Pusat Penelitian Limnologi LIPI, menekankan konsep ekohidrologi sebagai solusi. Ekohidrologi merupakan pendekatan dalam pengelolaan sumber daya air terpadu yang menawarkan pendekatan pembangunan berkelanjutan dalam memahami lingkungan dan sistem sumber daya air melalui pemahaman interdepensi proses dan komponen siklus hidrologi di ekosistem darat dan perairan. “Pendekatan ekohidrologi mampu meningkatkan kualitas sumber daya air dengan mempertimbangkan unsur ekologi, hidrologi, ekoteknologi dan budaya”, ujarnya.
 
Secara spesifik, prinsip ekologi adalah terkait peningkatan kapasitas penyerapan dari ekosistem. Prinsip hidrologi sebagai kerangka kerja untuk proses kuantifikasi. Prinsip ekoteknologi dalam penggunaan properti ekosistem sebagai alat manajemen. Terakhir, prinsipbudaya untuk meningkatkan hubungan yang dinamis antara sistem hidrologi, sosial, dan ekologi.
 
Rachmat Fajar Lubis, peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI menambahkan, aplikasi terbaru dari konsep Ekohidrologi ini adalah untuk mengurangi dampak musim kemarau, yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada bulan Agustus-September tahun  ini. Dalam upaya pengelolaan sumber daya air terpadu, konsep ekohidrologi meliputi informasi dasar ekologi-potensi sumber daya air, aplikasi teknologi yang tepat guna serta ramah lingkungan lokal dan berbasiskan partisipasi masyarakat. “Aplikasi konsep dan teknologi ini telah dilakukan pada beberapa wilayah di Indonesia dengan hasil pengurangan dampak kekeringan yang nyata,” jelasnya.
 
Menurut Ignasius, ketersediaan air yang terjangkau dan berkelanjutan menjadi bagian terpenting bagi setiap individu, baik yang tinggal di perkotaan maupun di perdesaan. Air yang tidak sehat akan mengakibatkan diare pada anak balita dan  menurunkan berat badannya sehingga berpengaruh pada status gizi bersifat akut (BB/U). “Pendekatan ekohidrologi dapat meningkatkan kualitas air, yang pada akhirnya dapat menunjang perbaikan tingkat layanan air bersih Indonesia. Secara spesifik, ketersediaan air bersih dapat menurunkan water borne disease, menurunkan stunting, dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sekaligus dapat meningkatkan perekonomian masyarakat”, pungkasnya. 
 
Dari kacamata ilmu sosial, Herry Yogaswara, Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, menyampaikan bahwa sebenarnya ada kemampuan masyarakat untuk menyediakan air bersih dengan mempergunakan modal sosialnya sendiri terkait dengan jejaring kerja serta hubungan saling percaya (trust). Penyediaan air dengan cara mengkonservasi ekosistem tertentu dengan nilai-nilai tradisional masih hidup pada beberapa kelompok masyarakat adat. Contohnya saja, konsep-konsep tradisional seperti hutan larangan, lubuk larangan, sirah cai (mata air) dan berbagai konsep lainnya. Nilai-nilai tersebut bukan hanya bersifat mitos dan supra-natural, melainkan hidup dalam keseharian. “Tidak hanya itu, beberapa komunitas di pedesaan dan perkotaan juga sudah  mempergunakan modal sosialnya untuk penampungan dan pendistribusian air bersih. Intinya, ketersediaan air tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, melainkan masyarakat pun mempunyai daya upayanya sendiri”, tutup Herry.
 
Keterangan Lebih Lanjut:
  • Dr. Ignasius Dwi Atmana Sutapa (Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI)
  • Dr. Sci. Rachmat Fajar Lubis (Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI)
  • Dr. Herry Yogaswara (Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)
  • Dewi Nuryaningsih (Analis Dokumentasi dan Informasi/Staf Humas LIPI)
Sumber: Berbagai Sumber
Penulis: dnh
Editor: dig

Siaran Pers ini disiapkan oleh Humas LIPI

 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dwie Irmawaty Gultom S.I.P., M.Si.