LIPI: Status Terkini Terumbu Karang Indonesia 2018

 
 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) menyatakan bahwa penelitian dan pemantauan terumbu karang terhadap 1067 site di seluruh Indonesia  menunjukkan bahwa terumbu karang dalam kategori jelek sebanyak 386 site (36.18%), kategori cukup sebanyak 366 site (34.3%), kategori baik sebanyak  245 site (22.96%) dan kategori sangat baik sebesar 70 site (6.56%). Secara umum, terumbu karang dalam kategori baik dan cukup mengalami tren penurunan, namun sebaliknya kategori sangat baik dan jelek mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk mengungkap status kondisi terumbu karang saat ini akan di sampaikan pada Diskusi Publik tentang Potensi Stok Terumbu Karang Indonesia, tanggal 28 November 2018, di Ruang Seminar Besar, Widya Graha LIPI, Jakarta.
 
Jakarta, 28 November 2018. Ketersedian data set terumbu karang diperoleh dari hasil penelitian dan monitoring  P2O LIPI yang telah dilakukan dalam rentang waktu 25 tahun serta didukung oleh data-data dari institusi lain. Pengukuran tersebut didasarkan pada kriteria persentase tutupan karang hidup yaitu sangat baik dengan tutupan 76-100%, baik (tutupan 51-75%), cukup  (tutupan 26-50%) dan jelek (tutupan 0-25%). Hasil pengukuran terkini melalui pemetaan citra satelit, luas terumbu karang Indonesia mencapai 25.000 km2 (COREMAP-CTI LIPI, 2016) atau sekitar 10% dari total terumbu karang dunia yaitu seluas 284.300 km2 (Spalding et al. 2001) dengan penyumbang terbesar adalah coral triangle yang menyumbang sekitar 34% (luas 73.000 km2) terhadap total luas terumbu karang dunia  (Burke et al. 2014). “Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai pusat segitiga karang dunia yang memiliki kekayaan jenis karang paling tinggi yaitu 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku (Suharsono, 2014) atau sekitar 70 % lebih jenis karang dunia dan 5 jenis diantaranya merupakan jenis yang  endemik,” jelas Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko.

Meningkatnya prosentase terumbu karang kategori jelek lebih banyak disebabkan oleh faktor alami seperti perubahan iklim yang mengakibatkan coral bleaching (pemutihan karang), dan hama/penyakit. Faktor antropogenik seperti sedimentasi, pencemaran dan eutrofikasi hingga pengeboman dan pengambilan karang yang berlebihan juga berkontribusi pada penurunan tren. Penyampaian status terkini terumbu karang Indonesia merupakan kontribusi P2O-LIPI sebagai Walidata Terumbu Karang Indonesia. “Informasi mengenai status terumbu karang tahun 2018 ini diharapkan dapat digunakan semua pihak dalam penyusunan kebijakan, pengelolaan dan konservasi terumbu karang nasional, serta dapat memberikan prediksi kondisi terumbu karang di Indonesia pada masa yang akan datang,” ujar Handoko.
 
Disamping mandat sebagai walidata Terumbu karang Indonesia yang harus menyampaikan perbaruan status setiap tahunnya, LIPI juga mempunyai tanggung jawab sebagai Scientific Authority untuk menilai potensi sumberdaya dan pemanfaatan biota laut, baik pemanfaatan melalui pengambilan dari alam ataupun budidaya. Salah satu pemanfaatan sumberdaya karang yang potensial adalah transplantasi karang. Kegiatan transplantasi karang dapat menyediakan lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal dan mengurangi pengangguran karena menyerap tenaga kerja hingga 12.000 orang. “Oleh karena itu layak bagi Indonesia untuk memelihara dan mengelola terumbu karang yang kita miliki secara berkelanjutan,” ujar Dirhamsyah, Kepala P2O.
 
Lebih jauh, Dirham mengatakan bahwa pengambilan karang alami yang dilakukan oleh nelayan atau pengusaha karang telah memenuhi NDF (Non Detrimental Finding) yang ditetapkan oleh CITES. Berdasarkan hasil kajian Puslit Oseanografi yang dilakukan di beberapa provinsi tempat pengambilan karang, kegiatan tersebut ternyata tidak menyebabkan terjadinya kerusakan maupun penurunan yang signifikan terhadap populasi karang di alam. “Namun demikian, LIPI sangat merekomendasikan agar pemanfaatan sumberdaya karang dapat dilakukan  melalui budidaya dengan cara transplantasi karang baik in-situ maupun ex-situ demi mencapai pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan dan lestari,” ungkap Dirham.
 
  Keterangan Lebih Lanjut:
  •  Dr. Dirhamsyah  (Kepala Pusat Penelitian Oseanografi  LIPI )
  •  Dewi Nuryaningsih  (Staf Bagian Humas, Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI)
penulis:puslit oseanografi/dnh
editor:dig
Sumber : Biro Kerjasama, Hukum dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Dirhamsyah M.A.
Diakses : 170    Dibagikan :