Melacak Jejak Konservasi Tumbuhan dari Prasasti Batu Tulis Hingga Kebun Raya Bogor

 
 
Dengan kekayaan koleksi tumbuhan yang tak ternilai dan nilai sejarah yang tinggi, Kebun Raya Bogor yang berada di bawah pengelolaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah diusulkan untuk ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) UNESCO. Inisiasi pengusulan Kebun Raya Bogor menjadi Situs Warisan Dunia dimulai sejak 25 September 2017. Sebagai upaya untuk menggalang dukungan publik dalam pengusulan Kebun Raya Bogor sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, LIPI bekerja sama dengan Kompas Gramedia mengadakan Talkshow “500 Tahun Konservasi Tumbuhan : Batu Tulis Hingga Kebun Raya Bogor” pada Jumat, 14 Februari 2020 di Jakarta.
 
Jakarta, 14 Februari 2020. Sejak didirikan pada 18 Mei 1817, Kebun Raya Bogor berkembang dari sebuah tempat aklimatisasi tumbuhan tropika menjadi pusat riset botani tropika dunia yang juga melahirkan lembaga-lembaga penelitian lainnya di Indonesia. Sebelum disebarluaskan ke seluruh dunia dan menjadi komoditas perkebunan yang penting, awalnya kelapa sawit diaklimatisasi terlebih dahulu di Kebun Raya Bogor. Selain itu, Kebun Raya Bogor diduga berasal dari kawasan hutan Samida. Saat ini Kebun Raya Padova di Italia tercatat sebagai Kebun Raya tertua di dunia dengan usia 475 tahun. “Pengungkapan keberadaan hutan Samida merupakan tantangan. Apalagi usianya jelas lebih tua dibandingkan dengan Kebun Raya Padova.” jelas Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, R. Hendrian.
 
Hendrian menjelaskan, Kebun Raya Bogor tidak hanya penting dari sudut pandang penelitian, konservasi tumbuhan, pendidikan, wisata & jasa lingkungan. “Kebun Raya Bogor juga sarat dengan aspek sejarah, budaya, ekonomi dan bahkan juga tata kota. Pembicaraan tentang Kebun Raya, terutama Kebun Raya Bogor, adalah pembicaraan yang tanpa akhir dan akan selalu menarik,” ujarnya.
 
Peneliti etnobotani Pusat Penelitian Biologi LIPI, M. Fathi Royyani menjelaskan bahwa pada masa kerajaan Tarumanegara Raja Purnawarman meletakkan pondasi kebijakan pembangunan yang mempertimbangkan aspek ekologi dan konservasi lingkungan. “Sebagian daerah rawa-rawa boleh ditimbun oleh masyarakat untuk dijadikan tempat tinggal. Sebagian tidak boleh dibangun, terutama rawa-rawa yang berada di tepi pantai, karena sebagai daerah resapan,” paparnya. Fathi menjelaskan, sejak itu kawasan tersebut menjadi kawasan hutan lindung dan daerah resapan yang dilindungi oleh kerajaan.
 
Sementara pada masa kerajaan Pajajaran, pelestarian lingkungan dilakukan dengan cara menanam jenis-jenis yang dianggap penting pada saat itu, yakni untuk memenuhi ritual tradisi. “Mereka menanam jenis-jenis pohon yang digunakan untuk ritual di kawasan yang disebut Samida yang lokasinya sekarang diduga terletak di Kebun Raya Bogor,” ujar Fathi. Samida, jelas Fathi, merupakan hutan buatan yang didirikan oleh Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) dan menjadi warisan abad ke-14 dari Kerajaan Pakuan Pajajaran. “Pendirian Samida ini tercatat dalam prasasti Batu Tulis yang didirikan oleh Surawisesa putra Sri Baduga,” jelas Fathi.
 
Dikutip dari Sutaarga (1966: 32), dalam prasasti tersebut disebutkan Sri Baduga membuat tanda peringatan gugunungan, mendirikan balai, membuat Samida, dan membuat Sang Hiyang Talaga Rena Mahawijaya. Beberapa sumber lain menyebutkan, Samida merupakan hutan tertentu yang kayu-kayunya diperuntukkan bagi upacara-upacara persembahan. “Sumber lain juga menyebutkan keberadaan Samida ditujukan untuk keperluan kelestarian lingkungan dan sebagai tempat memelihara benih-benih kayu yang langka,” jelas Fathi.
 
Sebagai informasi Talkshow “500 Tahun Konservasi Tumbuhan : Batu Tulis Hingga Kebun Raya Bogor” akan menghadirkan narasumber Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto; Rektor Universitas Media Nasional dan wartawan senior Harian Kompas, Ninok Leksono; Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, R. Hendrian; peneliti etnobotani Pusat Penelitian Biologi LIPI, M. Fathi Royyani; serta peneliti ekologi manusia Eko Baroto Waluyo.
 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. R. Hendrian M.Sc.
Diakses : 217    Dibagikan :