Membedah Tiga Aspek Survei Sosial Demografi Dampak COVID-19

 
 
Angka sebaran Covid-19  berdampak pada perilaku dan produktivitas penduduk. Untuk mendapatkan informasi sosial demografi masyarakat dalam situasi ini,   Badan Pusat Statistik (BPS) telah melakukan “Survei Sosial Demografi dampak COVID-19”. Hasil survey akan dibahas oleh Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI), dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), dalam penyelenggaraan webinar “Membedah Hasil survei Sosial Demografi Dampak COVID-19: Pengaruhnya pada Perilaku dan Produktivitas Penduduk”, Sabtu, 13 Juni 2020 yang dapat diikuti melalui tautan kanal streaming Youtube: bit.ly/livesosdemcovid mulai pukul 14.00 WIB.
 
Jakarta, 13 Juni 2020. Hasil survei yang dilakukan oleh BPS merupakan upaya untuk mengambil peran dalam menyikapi situasi genting saat ini dengan memproduksi statistik tambahan guna mendukung upaya percepatan penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia. “Kegiatan ini bertujuan memberikan masukan kepada pemerintah, berdasarkan hasil survei dan kajian yang mendalam melalui pembahasan oleh praktisi, peneliti dan akademisi,” jelas Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Yogaswara.

Herry menyebutkan, paparan pembahasan akan mengungkap berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat sebaran COVID-19 dan pengaruhnya terhadap penduduk. “Survey sosial demografi memperlihatkan pentingnya berbagai keberagaman penduduk berdasarkan usia, gender, pekerjaan, dan kategori sosial-ekonomi lainnya terhadap dampak maupun pencegahan pandemi COVID-19 secara lebih rinci dan mendalam, sehingga kebijakan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan kategori-kategori tersebut,” terang Herry.

Terhadap survey tersebut, Peneliti Utama Bidang Ekologi Manusia LIPI, Deny Hidayati, menyoroti tiga aspek penting yang terkait dengan dampak COVID-19 yaitu sosial demografi, perilaku penduduk, dan produktivitas penduduk. “Bahasan terkait pada aspek sosial demografi,” ujar Deny.

Menurut Deny, variabel yang dominan disajikan dalam buku adalah jenis kelamin dengan membandingkan antara laki-laki dan perempuan, baik terkait dengan perilaku maupun produktivitas penduduk. Sedangkan variable sosial demografi yang lain, terutama kelompok umur dan pendidikan penjelasannya sangat terbatas. “Padahal, kelompok umur sangat penting ketika membahas dampak COVID-19, karena berdasarkan data situs resmi pemerintah menyebutkan kelompok usia 60 tahun ke atas merupakan kelompok umur yang paling rentan dengan presentase kematian yang paling tinggi. Sedangkan kelompok umur 31-44 dan 45-59 merupakan dua kelompok umur yang terkonfirmasi positif COVID-19 dengan persentasenya tinggi,” ungkap Deny.

Mengenai studi terhadap produktivitas penduduk, Deny menyebutkan, ada indikasi terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 2,52 persen responden dan sebagian besar responden 60,74 persen sementara dirumahkan. “Persentase responden yang terkena PHK dari hasil survei ini cukup kecil, jika dibandingkan dengan hasil survei lain,” ungkap Deny. “Contoh,  hasil survei dampak darurat virus corona yang dilakukan oleh konsorsium LIPI, Kemnaker dan UI sebesar 15,6 persen, dan hasil survei keempat Tim Panel Ilmu Sosial Kebencanaan Puslit Kependudukan LIPI sebesar 17,3 persen. Survey keempat tersebut terkait pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan dampaknya terhadap ketahanan masyarakat,” paparnya.

Deny juga menyebutkan, pemilihan sampel untuk kondisi pekerja yang diambil hanya di sektor jasa transportasi dan pergudangan, sementara sektor lain, seperti pertanian, perkebunan dan perikanan tidak disajikan datanya. “Padahal sektor pertanian sangat penting dalam menopang ketersediaan pangan nasional. Selain itu jumlah petani yang terdampak COVID-19 juga sangat besar,” tutup Deny.


Sivitas Terkait : Dr. Ir. Deny Hidayati
Diakses : 1036    Dibagikan :