Membentuk Generasi Ilmiah Cinta Lingkungan melalui Webforum Hari Hutan Sedunia

 
 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui program Bina Ilmiah menyelenggarakan webforum Hari Hutan Internasional 2021 dalam rangkaian peringatan hari hutan sedunia pada Minggu (28/3) pukul 08.30-11.30 WIB. Sesuai dengan tema hari hutan sedunia yang dirilis oleh PBB yaitu "Forest restoration: a path to recovery and well-being", webforum ini khusus membicarakan tentang hutan, masyarakat, dan  keanekaragaman hayati. Webforum ini ditujukan bagi pelajar SMA untuk menumbuhkan jiwa cinta lingkungan dan menambah inspirasi riset para generasi ilmiah Indonesia.
 
Jakarta. 28 Maret. Memperingati Hari Hutan Sedunia yang jatuh pada setiap 21 Maret, LIPI menggelar Webforum Hari Hutan Internasional 2021. Webforum ini ditujukan untuk pelajar usia Sekolah Menengah Atas (SMA) yang merupakan generasi ilmiah dan kader ilmuwan masa depan.  Para pelajar SMA yang sedang menyiapkan diri untuk Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI (LKIR-LIPI) diharapkan dapat mendulang inspirasi riset dari web forum ini.  
 
Kepala Biro Kerja Sama Hukum dan Humas LIPI, Mila Kencana mengatakan bahwa dalam pelestarian hayati, selain membangun kawasan konservasi, pewarisan pengetahuan dan sikap konservasi melalui Pendidikan juga memegang peran penting dalam pencapaian program-progam pembangunan berkelanjutan.  “LIPI memberikan kontribusi nyata dalam estafet transfer pengetahuan dan sikap konservasi bagi generasi muda melalui program Bina Ilmiah. Melalui program ini, LIPI ingin membudayakan pola berpikir ilmiah dan bersikap kritis,” ungkap Mila.
 
Peneliti ahli utama konservasi keanekaragaman hayati dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hendra Gunawan mengungkapkan pentingnya aksi-aksi lokal dalam penyelamatan keanekaragaman hayati melalui kegiatan menanam pohon di Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk menggantikan hutan-hutan yang hilang karena telah berubah fungsi menjadi permukiman, perkotaan, industri, jalan raya, lahan pertanian, dan lain-lain. 
 
“Agar dapat memberikan fungsi sebagaimana hutan, RTH sebaiknya dibangun dengan konsep keanekaragaman seperti ekosistem hutan. Contohnya seperti Kebun Raya, Taman Kehati, Arboretum, dan Kebun Botani,” papar Hendra.  Hingga kini sudah ada 43 unit kebun raya dengan luas total 8.850,6 Ha.  Ada pula 29 unit Taman Kehati  dengan luas total 1.863,55 Ha.
 
Hendra juga mengatakan bahwa Taman Kehati sangat cocok sebagai laboratorium lapangan dan wahana pembelajaran bagi siswa sekolah, juga untuk memberikan pengetahuan dan pembentukan watak cinta lingkungan. “Para pelajar SMA yang akan mengikuti LKIR juga dapat melakukan penelitian di taman kehati.  Banyak aspek yang dapat digali, seperti ekologi, konservasi, hidrologi, botani, sosial, ekonomi, tanaman obat, pangan, hingga peran tumbuhan sebagai peredam kebisingan dan pencemaran.”
 
Peneliti etnobotani dan ekologi manusia dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Fathi Royyanni banyak memberikan gambaran interaksi manusia dengan alam, khususnya hutan, di berbagai pelosok nusantara.  Ia menjelaskan bahwa sejak dahulu kala masyarakat tradisional telah mempraktikkan cara-cara mengelola dan memperlakukan alam dengan bijak, sehingga hidup harmonis dengan alam.  “Banyak nilai-nilai luhur dapat dipetik oleh masyarakat sekarang, khususnya generasi muda, untuk mengelola alam secara lestari.  Diharapkan pula para pelajar SMA yang mengikuti webforum ini dapat memperoleh inspirasi bagi proyek riset LKIR nya,” terang Fathi.
 
Heri Yunarso, senior CSR PT. Tirta Investama Ciherang, menyampaikan bahwa melalui Program Aqua lestari, perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dengen merk Aqua tersebut memiliki komiten terhadap kelestarian lingkungan. “Beberapa upaya yang kami lakukan di antaranya melalui aksi-aksi nyata seperti penanaman pohon di hulu daerah aliran sungai, pembangunan taman keanekaragaman hayati di sekitar pabrik dan mata air, pemanenan air hujan, dan penggunaan energi surya untuk operasional pabrik.  Sehingga produk air mineral yang dihasilkan telah melalui proses yang ramah lingkungan,” papar Heri.
 
Webforum yang dihadiri oleh sekitar 150 pelajar dari berbagai daerah ini diakhiri dengan virtual tour Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain) untuk mengenal lebih dekat kekayaan alam dan budaya Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan hutan dan keanekaragaman hayati.
 


Sivitas Terkait : Mila Kencana S.IP., M.A.
Diakses : 1035    Dibagikan :