Memperkuat Kebangsaan: Perlunya Kembali ke Pendidikan Nasional

 
 
Tindakan intoleransi dan bahkan menjurus kepada radikalisme belakangan ini cukup marak terjadi di Indonesia dan mulai mengusik rasa kebangsaan. Benih intoleransi muncul karena berbagai faktor, salah satunya tingkat pemahaman nilai kebangsaan yang sempit maupun penanaman nilai agama yang eksklusif di sekolah. Dari sini bisa dilihat bahwa proses pendidikan di negeri ini belum optimal membentuk warga negara yang dapat mewujudkan suatu keadaban bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta belum mampu mengkreasi manusia Indonesia seutuhnya. Oleh karena itu, perlu kembali pada filosofi pendidikan nasional sejak kelahirannya.  
 
Jakarta, 11 Juli 2017. Beberapa hasil penelitian telah menunjukkan bahwa kekhawatiran tumbuh kembangnya radikalisme didukung oleh adanya kecenderungan penguatan intoleransi di lembaga pendidikan. Tilik saja indikasinya bahwa anak-anak muda sebagai generasi penerus dan harapan bangsa masih terjerat berbagai persamasalahan, mulai dari tawuran antar pelajar, tindak kekerasan di sekolah, serta masalah pornografi. Adanya tindak kekerasan pelajar dengan intensitas yang meningkat, brutal dan bahkan sampai tidak takut menghilangkan nyawa orang lain telah melemahkan sendi-sendi yang ada. Kondisi tersebut bila tidak ditanggulangi dengan bijak akan berpotensi menjadi “bibit” bagi tindakan radikal yang menjurus hilangnya rasa toleransi dan kebangsaan.
 
Untuk mencegahnya, pendidikan multikultural menjadi salah satu solusinya. Makmuri Sukarno dan Titik Handayani, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan, pendidikan harus mampu menumbuhkan kesempatan pengembangan karakter yang mampu mengaktualisasikan kebangsaan sehingga mengurangi anomie intoleransi dan radikalisme. “Dengan demikian, rasa kebangsaan dengan sendirinya akan dibangun dan diinternalisasi kepada generasi muda Indonesia melalui pendidikan,” lanjutnya.
 
Makmuri dan Titik melihat proses pendidikan merupakan media strategis untuk persemaian dan revitalisasi kebangsaan dan arena penting untuk menginternalisasikan semangat kebangsaan dan perilaku toleran. “Membangun nilai-nilai kebangsaan melalui pendidikan harus terus diupayakan. Pendidikan nilai kebangsaan bagi bangsa Indonesia merupakan  suatu keniscayaan, karena keanekaragaman jika tidak dilandasi dengan semangat kebangsaan yang tangguh dan landasan pandangan hidup yang kukuh, maka akan mengendurkan ikatan kebangsaan dan bahkan berpotensi menjadikannya terlepas,” jelasnya.
 
Tidak hanya melalui pendidikan formal saja, kata Makmuri dan Titik, pendidikan informal dalam keluarga, dunia kerja, dan masyarakat mempunyai peran penting dalam menginternalisasikan nilai-nilai kebangsaan. Sebagaimana dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa pada tanggal 11 Juli 2017 merupakan hari kependudukan dunia yang mengambil tema Family Planning: Empowering People, Developing Nations. Pemberdayaan masyarakat dan membangun rasa kebangsaan dapat dicapai melalui perencanaan dan pembangunan keluarga yang berkualitas termasuk pendidikan informal dalam keluarga. Sebab saat ini, institusi keluarga pun menghadapi berbagai tantangan dan pergeseran peran akibat globalisasi.
 
Menyikapi kondisi dan persoalan sebagaimana telah disampaikan, dalam konteks pendidikan untuk memperkuat kebangsaan, Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI melalui Pusat Penelitian Kependudukan berupaya mendiskusikan dan mencari solusinya dengan menggelar Dialog Kebangsaan Ke-2 bertema “Pendidikan Memperkuat Kebangsaan”. Dari kegiatan itu, diharapkan memberikan masukan dan gagasan yang dapat menjadi salah satu kontribusi dalam menyelesaikan beragam persoalan pendidikan dan kebangsaan. Kegiatan ini merupakan seri kedua dari Dialog Kebangsaan yang dilakukan untuk memeringati HUT ke-50 LIPI dan Hari Kependudukan Dunia 2017.
 
Adapun narasumber yang menyampaikan gagasan pemikirannya adalah Yudi Latif, Ph.D. (Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP)/Pemikir Kebangsaan), Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE (Akademisi UIN Jakarta/Cendikiawan Muslim), dan Dr. Makmuri Sukarno, MA (Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI). Dan, moderator yang memandu dialog tersebut adalah Aiman Witjaksono (Kompas TV).


Keterangan Lebih Lanjut:
- Makmuri Sukarno (Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)
- Titik Handayani (Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)
- Haning Romdiati (Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI)
- Isrard (Kepala Bagian Humas, Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)


Sumber: Pusat Penelitian Kependudukan
Penulis: pwd
Editor: isr


Siaran pers ini disiapkan oleh Humas LIPI
 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dra. Titik Handayani M.S.