Menyambut Inovator dan Peneliti Remaja Indonesia 2020

 
 
Pelaksanaan Indonesia Science Expo (ISE) 2020 yang telah berlangsung sejak 10 November 2020, akan memasuki penghujung acara pada 19 November 2020. Dalam penutupan ISE 2020 akan dilaksanakan pengumuman pemenang kompetisi ilmiah remaja Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-52 dan National Young Inventors Award (NYIA) ke-13 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan penganugerahan LIPI Young Scientist Award (LYSA). Tahun ini, terdapat total 39 projek penelitian LKIR dari bidang hayati, teknik, kebumian, dan sosial yang lolos tahap seleksi untuk masuk ke sesi penjurian. Sementara kompetisi NYIA diikuti oleh 41 projek penelitian. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan secara virtual pada 19 November 2020 bertepatan dengan penutupan Indonesia Science Expo (ISE) 2020.
Jakarta, 19 November 2020. Sejak tahun 1969 LIPI telah melaksanakan pembinaan ilmiah melalui LKIR. Dalam proses penelitian finalis LKIR, mereka dibimbing oleh mentor yang merupakan peneliti LIPI. Selain itu, finalis LKIR dapat menggunakan fasilitas laboratorium LIPI untuk menguji penelitian mereka. NYIA sendiri merupakan ajang yang menampilkan kreativitas dan inovasi remaja dalam teknologi yang membantu kehidupan sehari-hari. Sedangkan LYSA merupakan salah satu bentuk apresiasi LIPI bagi peneliti-peneliti muda dengan usia di bawah 40 tahun yang berprestasi dan konsisten dalam melakukan penelitian.
Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengungkapkan, generasi muda selalu menajdi bagian dari upaya kita dalam memajukan bangsa dan negara. “Program LIPI salah satunya meningkatkan kecintaan terhadap sains, riset, dan inovasi, serta mencetak SDM dan generasi muda yang berani berfikir berbeda dan berkreasi menciptakan hal-hal baru,” jelasnya, Handoko melanjutkan, inovasi dan krativitas adalah kunci transformasi untuk mengahasilkan energi perubahan sebagai solusi mengatasi permasalahan dalam mengahdapi era kompetisi. “Kita melihat bagaimana inovasi dan kraativitas menjadi penting untuk mengatasi pandemi ini. Pandemi adalah bencana, tetapi mari ambil hikmahnya. Di balik bencana selalu ada kesempatan. Ajang ini merupakan wadah menciptakan kesempatan untuk menagsah kapasitas dan kompetensi adik-adik untuk masa depan,” paparnya.
Meskipun dalam situasi pandemi COVID-19 tidak menghalangi para finalis untuk berkarya. “Karya-karya finalis NYIA tahun ini sangat inspiratif dan memiliki nilai hak kekayaan intelektual termasuk patentabilitas yang tinggi untuk kategori teknologi. Dalam kondisi pandemi COVID-19, semua peserta dapat menyampaikan karyanya dengan sangat apik dan profesional serta menguasai teknologi IT,” jelas ketua dewan juri NYIA sekaligus peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI, Nurul Taufiqu Rochman.
“Kompetisi LKIR telah beberapa hasil penelitian finalis yang telah melalui review oleh para mentor siap dipublikasikan  pada jurnal nasional bahkan dapat menjadi  jurnal global. Finalis-finalis LKIR cukup berani untuk melakukan penelitian yang cukup rumit dan sulit untuk level pelajar,” jelas ketua dewan juri LKIR dan peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI I Made Sudiana.  Made juga menjelaskan beberapa penelitian sudah menggunakan analisis statistika, modelling dan bioinformatika yang cukup rumit. Finalis Kompetisi LKIR di bidang kajian sosial,  telah mampu meningkatkan kepekaannya terhadap lingkungan. Mereka berhasil memasukkan kajian budaya tradisional dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat.
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.
Diakses : 342    Dibagikan :