Optimalkan Pangan Tradisional, LIPI Kenalkan Teknologi Pengalengan untuk Makanan Tradisional

 
 
Keberadaan bahan alam tradisional merupakan  keunggulan Indonesia pengembangan pemenuhan bahan  pangan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) yang berlokasi di  Gading, Playen, Gunungkidul, Yogyakarta terus melakukan upaya pengembangan teknologi dalam  pemaksimalkan potensi bahan alam. Upaya ini ditujukan agar kebutuhan pangan masyarakat industri dapat terpenuhi.
 
Yogyakarta, 22 November 2019. Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman sumber daya alami juga kebudayaan. Keanekaragaman budaya ini tercermin kepada keanekaragaman produk pangan tradisional. “Bahan-bahan alam kita memiliki potensi luar biasa sebagai bahan pangan dan obat. Teknologi berperan mengemas potensi tersebut agar sampai dan dapat dinikmati masyarakat.” tutur Mego Pinandito, Deputi Jasa Ilmiah LIPI.

Beberapa produk unggulan BPTBA LIPI antara lain adalah teknologi pengalengan makanan. Teknologi ini membuat makanan tradisional seperti gudeg yang memiliki masa konsumsi pendek dapat bertahan lebih lama. “Teknik pengawetan yang digunakan yakni secara fisika sehingga bahan benar-benar alami tanpa ada campuran bahan kimia,” jelas Mego.

Mego menjelaskan, pengalengan makanan tradisional Indonesia membuka luas potensi kuliner Indonesia untuk masuk pasar internasional dan dapat menjadi alternatif menjaga ketersediaan pangan di Indonesia. “Dengan masa konsumsi yang lebih panjang dan pengemasan yang aman, makanan tersebut dapat didistribusikan ke seluruh pelosok negeri. Hal tersebut sebagai solusi kita yang selama ini mengalami kendala penyediaan makanan di area terpencil Indonesia,” jelas Mego.

Beberapa produk makanan tradisional yang telah dikalengkan dengan teknologi LIPI diantaranya adalah gudeg, mangut lele, sayur lombok ijo, dan tempe kari.

LIPI juga telah mengembangkan dan membantu budidaya kakao hingga pengolahan pasca panen. Bantuan melalui sinergi bersama ini diberikan kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) “Kumpul Makaryo” di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Salah satu wujud nyata bantuan itu adalah sarana dan prasarana berupa peralatan dan pembangunan rumah produksi atau showroom yang diberi nama Griya Coklat Nglanggeran.

Griya Coklat Nglanggeran  saat ini menyediakan sejumlah varian, di antaranya Cocomix Original, Cocomix Kopi, Cocomix Susu Kambing Etawa, Cocomix Ice, Cookies Kombinasi Tepung Mocaf dan Cokelat, pisang salut, bubuk cokelat, dan cokelat batang. “Griya Coklat tersebut menampung produk hasil pengolahan tanaman kakao di Nglanggeran yang dilakukan oleh warga setempat. Dengan ini, produk olahan coklat lokal diharapkan dapat meningkatan perekonomian masyarakat setempat," tutup Mego.
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Satriyo Krido Wahono S.T.
Diakses : 76    Dibagikan :