Pemanfaatan Teknologi dan Potensi Sumber Daya Hayati Indonesia untuk Pencegahan Kanker

 
 
Jumlah penderita kanker di seluruh dunia terus meningkat signifikan. Laporan terbaru yang dirilis oleh International Agency for Research on Cancer, World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat 18,1 juta kasus kanker baru dan 9,6 juta kematian yang terjadi pada tahun 2018. Peringatan Hari Kanker Sedunia menjadi  momentum tepat untuk menyebarluaskan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kanker. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memadukan pemanfaatan teknologi dan potensi sumber daya hayati Indonesia sebagai solusi untuk pencegahan penyakit kanker yang akan disampaikan dalam media briefing “Pemanfaatan Teknologi dan Potensi Sumber Daya Hayati untuk Pencegahan Kanker” yang akan diadakan di Jakarta pada Senin, 4 Februari 2019. 
 
Jakarta, 4 Februari 2019. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi kanker meningkat dari 1.4 % pada tahun 2013 menjadi 1.8 % di tahun 2018. Beragam obat antikanker telah tersedia, namun sejak tahun 1980an, sekitar 80% dari obat antikanker yang tersedia di pasar adalah produk alami atau sintesis dari produk alami.
 
Sebagai negara kepulauan, perairan Indonesia memilki kekayaan biota laut seperti spons laut, kelinci laut, tunikata, karang lunak, rumput laut, sampai moluska. ”Organisme laut tadi adalah sumber senyawa bioaktif yang dapat  digunakan sebagai kandidat agen antikanker,” jelas peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Ratih Pangestuti.
 
Menurut Ratih, LIPI melalui Pusat Penelitian Oseanografi berkomitmen untuk meneliti dan mengembangkan bahan aktif dari organisme laut sebagai agen antikanker serta sumber pangan untuk mencegah penyakit kanker. ”Konsep pangan tersebut didefinisikan sebagai pangan atau komponen makanan yang berfungsi untuk meningkatkan kondisi ketahanan tubuh dan mengurangi resiko terjangkitnya berbagai macam penyakit antara lain kanker,” ungkap Ratih. Saat ini LIPI bekerjasama dengan perusahaan farmasi asal Spanyol, Pharma Mar untuk pengembangan bahan baku obat dari organisme laut.
 
Terkait deteksi dini penyakit kanker, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI telah mengembangkan Kit Deteksi Biomarker Kanker Payudara Her-2. Pada kanker payudara terdapat 3 gen yang menjadi penyebab muculnya kanker yakni estrogen receptor, progresteron receptor dan human epidermal growth factor receptor 2 (HER2) receptor. ”Deteksi ini untuk  mendapatkan langkah selanjutnya ke arah penentuan pasien untuk terapi tertarget dengan trastuzumab,”tegas Desriani.
 
Dirinya menjelaskan, penelitian yang dilakukan di LIPI adalah pembuatan protein interferon alfa-2a non fusi dan interferon alfa-2a fusi dengan human serum albumin. ”Protein ini memiliki aktivitas penghambatan terhadap pertumbuhan sel kanker,” pungkas Desriani. 

penulis: rdn
editor: fza
 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Yani Ruhyani
Diakses : 833    Dibagikan :