Pemerintah Diharap Bebaskan Pajak untuk Literasi

 
 
Indonesia saat ini tengah menghadapi dua masalah besar yakni darurat penerbitan dan darurat literasi. Mengapa demikian? Sebab, negeri ini memiliki produksi buku per kapita yang relatif lebih rendah dibandingkan negara berkembang lainnya. Kemudian, tingkat minat baca masih rendah dan ditambah lagi dengan harga buku yang cenderung naik. Khusus persoalan harga buku yang meningkat ini, faktor utama penyebabnya adalah adanya beban pajak yang melekat dengan besaran yang relatif tinggi. Oleh karena itu, pemerintah pun diharapkan membebaskan pajak untuk literasi tersebut agar kondisi perbukuan dan literasi nasional menjadi lebih baik lagi.
 
Jakarta, 20 Desember 2017. Dua masalah besar yaitu darurat penerbitan dan darurat literasi menjadi gambaran kondisi makro perbukuan di Indonesia. “Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Apalagi buku merupakan sumber ilmu pengetahuan yang akan memajukan bangsa ini,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bambang Subiyanto.
 
Menurutnya, dua permasalahan besar di dunia perbukuan tidak terlepas dari kondisi produksi buku di Indonesia yang rendah. Ditambah lagi dengan rendahnya minat membaca buku dan kemampuan untuk melakukan pemaknaan atas bacaan buku. Hal ini sekaligus mencerminkan budaya literasi Indonesia yang masih relatif lemah. “Kondisi itu pun masih diperburuk lagi dengan harga buku di Indonesia yang cenderung meningkat dan hal ini juga dibebani dengan besaran pajak buku yang juga relatif tinggi,” ungkap Bambang.
 
Bambang melanjutkan, kondisi perbukuan nasional tambah kurang baik lagi dengan kebijakan royalti bagi penulis yang juga kurang ‘bersahabat’. Protes keras yang dilakukan oleh novelis best seller Tere Liye terhadap pajak yang tinggi bagi penulis, telah mendapat perhatian besar dari pemerintah. “Pajak yang seharusnya menjalankan fungsi mengatur (cregulerend) ternyata telah menjadi dis-insentif bagi penulis,” ujar Bambang.
 
Hal ini tentu akan mengganggu potensi pertumbuhan kreativitas bidang penerbitan buku di masa depan. Pekerjaan penerbitan adalah suatu kegiatan kolektif dan terjadi saling ketergantungan (interdependency) antar semua pelaku. “Namun demikian, interaksi diantara para pelaku belum terbangun sinergitas, bahkan ada kesan perilaku “predator” terjadi diantara mereka,” tutur Bambang.
 
Pada sisi lain, Maxensius Tri Sambodo, peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, mengatakan bahwa penerbit mengeluhkan akan lesunya penjualan buku cetak. Turunnya jumlah buku yang dicetak berdampak pada kenaikan harga buku. “Perpustakaan sebagai agen penting yang dapat menumbuhkan permintaan buku, juga tidak dapat berbuat banyak karena pengurangan besar-besaran anggaran untuk membeli buku,” jelas Maxensius.
 
            Belum tampak kelembagaan dan organisasi perbukuan yang bertanggung jawab untuk membina dan mengembangkan dunia perbukuan. “Bahkan dunia perbukuan dianggap sebagai “anak yatim”, pemerintah daerah pun nampaknya belum melihat buku sebagai komoditas strategis yang harus dibangun guna meningkatkan literasi didaerahnya,” lanjutnya.
 
            Dia menuturkan, perlu terobosan untuk membuka dan juga meneguhkan pentingnya melakukan “re-thinking” kebijakan perbukuan yang ada saat ini. Buku mampu memberikan manfaat besar bagi upaya pencerdasan kehidupan bangsa dan menciptakan peluang-peluang dalam pengembangan ekonomi, sosial, dan budaya. “Dengan demikian, buku selayaknya dilihat sebagai suatu gagasan tidak bertepi. Sebab buku adalah gagasan, maka penting untuk memperlakukan pemilik gagasan dengan sebaik-baiknya dengan memberikan penghargaan kepada para penulis dan pelaku perbukuan lainnya yang mampu berkontribusi bagi perkembangan peradaban bangsa,” pungkas Maxensius.
 
Keterangan Lebih Lanjut:
  • Maxensius Tri Sambodo (Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI)
  • Dwie Irmawaty Gultom (Kepala Bagian Humas, Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI)

Sumber: Pusat Penelitian Ekonomi
Penulis: dnh
Editor: pwd, dig

Siaran pers ini disiapkan oleh Humas LIPI

 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI diolah dari Pusat Penelitian Ekonomi LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Maxensius Tri Sambodo S.E, MIDEC.