​Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati untuk Pembangunan Berkelanjutan

 
 
Keanekaragaman hayati adalah elemen penting bagi kehidupan manusia, sehingga perlu dilestarikan, dipulihkan, dan dimanfaatkan untuk pembangunan berkelanjutan. Namun, ancaman deforestasi, penambangan mineral dan bahan bakar fosil, serta spesies invasif berpengaruh besar pada keberlanjutan biodiversitas di masa depan, hingga dapat mengakibatkan kerugian yang besar bagi Indonesia. Untuk menggali lebih dalam kondisi serta pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia, LIPI menyelenggarakan International Webinar on Indonesian Biodiversity “Mainstreaming biodiversity conservation, bioprospection, and bioeconomy for sustainable livelihood” dalam rangka memperingati HUT LIPI ke 53 dan 25 tahun Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HARTEKNAS) yang akan diselenggarakan secara daring pada Rabu (16/9) melalui Zoom Meeting dan Live Youtube LIPI Channel.
 
Jakarta, 15 September 2020. Indonesia adalah negara dengan kekayaan biodiversitas terrestrial tertinggi kedua di dunia, dan bila digabungkan dengan keanekaragaman hayati di laut maka Indonesia menjadi yang pertama. Indonesia juga merupakan salah satu dari 17 the world’s megadiverse countries atau negara-negara yang kaya akan keanekaragaman hayati. Komitmen dan upaya pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia pun harus terus dikembangkan dan diarahkan untuk pembangunan yang berkelanjutan, sehingga pemanfaatannya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah pengarusutamaan keanekaragaman hayati.

“Pengarusutamaan keanekaragaman hayati bertujuan untuk mengintegrasikan atau memasukkan tindakan terkait konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan pada setiap tahapan kebijakan, rencana, program dan siklus proyek dari setiap tingkat pemangku kepentingan,” terang Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko.

Handoko menuturkan bahwa dalam jangka panjang, upaya pengarusutamaan keanekaragaman hayati akan membawa perubahan paradigma kolektif pelestarian dan peningkatan status keanekaragaman hayati serta menghasilkan kesejahteraan manusia baik dalam segi ekonomi maupun sosial. “Untuk mendorong hal tersebut, diperlukan kepemimpinan kuat yang dapat memprakarsai kegiatan bioekonomi, membuka infrastruktur dan akomodasi, serta memberikan motivasi dan insentif yang mengikutinya,” terang Handoko.

Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Atit Kanti menyampaikan, kegiatan eksplorasi keanekaragaman hayati adalah kegiatan penting dan mendasar untuk mengungkap keanekaragaman hayati Indonesia. Pusat Penelitian Biologi LIPI berperan penting dalam menjaga koleksi keanekaragaman hayati Indonesia yang tersimpan di pusat depositori koleksi ilmiah berstandar internasional seperti Museum Zoologicum Bogoriense (2.792.611 koleksi fauna), Herbarium Bogoriense (958.299 koleksi tumbuhan), dan Indonesian Culture Collection (4993 koleksi mikroba). Selain itu sebagai institusi yang mengkoordinir program riset nasional di bidang keanekaragaman hayati, Atit menekankan pentingnya mengelola data keanekaragaman hayati.

Dengan potensi pemanfaatanya yang begitu besar, keanekaragaman hayati Indonesia dapat menjadi sumber ekonomi yang menjanjikan dalam jangka panjang. “Bioekonomi merupakan alternatif dalam mengangkat nilai tambah keanekaragaman hayati sehingga dapat menghasilkan berbagai produk dan jasa untuk pembangunan berkelanjutan,” jelas Atit.

Selain itu, kekayaan hayati Indonesia sendiri memiliki potensi bioprospeksi yang besar, salah satunya pengembangan obat herbal. Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI) telah berhasil mengembangkan immunomodulator dari tanaman asli Indonesia untuk menanggulangi Covid-19. “Immunomodulator merupakan bahan asli dari keanekaragaman hayati Indonesia yang memiliki potensi. Jika menjadi fitofarmaka, maka produk ini dapat diproduksi massal dengan harga relatif jauh lebih murah karena formula dan bahan baku lokal,” ujar Atit.

Webinar ini akan dihadiri oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, Ph.D., dan  berbagai pembicara dan pembahas yang ahli dalam bidang konservasi, bioprospeksi dan bioekonomi keanekaragaman hayati yang berasal dari LIPI, Bappenas, Universitas Padjajaran, University of California Berkeley (UC Berkeley), University of California Davis (UC Davis), University of Alaska, diaspora dari Oregon State University serta Lancaster University. Acara ini juga diikuti oleh peserta dari berbagai negara antara lain India, United Kingdom, United State of America, Japan, Australia, Belanda, Thailand, Jerma, dan Timor Leste.

Sivitas Terkait : Dr. Atit Kanti S.Si., M.Sc.
Diakses : 354    Dibagikan :