Pengelolaan Keanekaraman Hayati Indonesia untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan

 
 
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan selama tahun 2000 hingga 2015 lebih dari seperlima lahan di bumi berkurang. Berkurangnya lahan tadi merupakan imbas diversifikasi pengembangan lahan pertanian serta urbanisasi. Dalam momentum  Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang rutin diperingati tanggal 5 November di setiap tahunnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan kegiatan Seminar “Pengelolaan Keanekaraman Hayati Indonesia Mendukung Revolusi Industri 4.0 dan Sustainable Development Goals (SDGs)” pada Selasa, 5 November di Bogor, Jawa Barat.
 
Bogor, 5 November 2019. Berkurangnya lahan mempengaruhi pengurangan produktifitas yang signifikan terhadap lahan hijau dan bertambahnya daftar merah (red list) pada International Union of Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). “Kemajuan industri harus terintegrasikan dengan lingkungan untuk memastikan kinerja lingkungan berjalan dengan baik. Teknologi 4.0 harus memperhatikan teknologi yang dapat melindungi biodiversitas yang menjadi tempat vital dalam menjaga keberlanjutan jangka panjang ekosistem,” ujar Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Atit Kanti.
 
Atit menjelaskan, pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistem yang sehat merupakan sumber daya penting untuk meningkatkan ketahanan dan mengurangi risiko dan kerusakan terkait dampak perubahan iklim.“Keanekaragaman hayati Indonesia berhubungan erat pada target pencapaian SDGs terutama poin 14 tentang ekosistem lautan dan poin 15 mengenai ekosistem daratan.”
 
Dirinya menjelaskan, target pembangunan berkelanjutan direalisasikan dengan memberi perlindungan dan restorasi serta menginisiasi pemanfaatan ekosistem lautan dan daratan yang berekelanjutan. “Tujuan utama SDGs poin 14 tahun 2019 yaitu mengurangi tingkat keasaman air laut, menyokong ketersediaan ikan serta meregulasi penangkapan ikan secara ilegal dan menyediakan akses kepada nelayan skal kecil dalam mendapatkan sumber daya, layanan dan pasar,” terangnya.

Sedangkan pada poin 15 lebih berkonsentrasi pada perlindungan hutan yang berkelanjutan, mengurangi diversifikasi, serta mencegah dan merehabilitasi degradasi lahan dan kehilangan keanekaragaman hayati.
 
Kegiatan seminar ini sendiri bertujuan untukmeningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional serta untuk menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan manusia. Bertindak sebafgai narasumber diantaranya adalah Direktur Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. “Kegiatan ini juga bentuk kepedulian dan peran serta LIPI sebagai salah satu institusi yang berfokus pada konservasi flora dan fauna ditengah perkembangan industri teknologi 4.0 yang berbasis otomasi dan data,” tutup Atit.
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Atit Kanti S.Si., M.Sc.
Diakses : 155    Dibagikan :