Peran Keluarga sebagai Pondasi Masa Depan Indonesia

 
 
Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tantang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, mengamanatkan penduduk sebagai modal dasar pembangunan. Penguatan keluarga adalah salah satu upaya untuk mencapai sasaran pembangunan nasional melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membedah isu-isu keluarga mulai dari pola konsumsi, aspek komunikasi untuk mencegah perundungan (bullying) pada remaja, serta pentingnya literasi digital dalam Diskusi Publik “Peran Keluarga sebagai Pondasi Masa Depan Indonesia” yang akan diselenggarakan di Jakarta pada Rabu, 15 Mei 2019. 
 

Jakarta, 15 Mei 2019. Salah satu indikator kualitas sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan negara adalah human capital index (HCI). Bank Dunia baru saja merilis Laporan Bank Dunia tahun 2018 menempatkan HCI Indonesia sebesar 0,53. Stunting karena kurang gizi kronis yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dikhawatirkan menjadi salah satu masalah dalam pengembangan human capital. 

“Pencegahan stunting bisa dimulai dari pola  konsumsi pangan keluarga yang beragam, bergizi seimbang, dan aman,” jelas peneliti Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna LIPI, Ainia Herminiati. Menurut Ainia, ibu hamil dan menyusui harus mencukupi konsumsi karbohidrat, protein, dan mikrogizi. “Juga untuk Makanan Pendamping Asi bagi bayi usia 6-24 bulan,” terang Ainia. 

Terkait pola asuh dan komunikasi, orang tua dituntut memahami kebutuhan anak sesuai dengan usia dan perkembangan zaman. Sesuai data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia tahun 2017, pengguna internet kelompok usia remaja (13-18 tahun) mencapai hampir 24 juta atau sekitar 16,68 persen dari total pengguna internet di Indonesia. “Sayangnya, keterampilan teknis anak maupun remaja dalam mengakses internet dan beragam media digital belum sejalan dengan kemampuannya mengapropriasi teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup, termasuk dalam proses belajar,” ungkap peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Aulia Hadi. 

Ia menjelaskan, tantangan terbesar dari literasi digital ini adalah pengasuhan dalam keluarga yang tidak saja memberikan keterampilan teknis. “Literasi digital juga mencakup kecakapan emosional dalam bermedia untuk masa depan digital yang semakin kompleks.”

Penelitian Pusat Penelitian Kependudukan LIPI di Medan, Mataram, dan Surabaya menunjukkan sebagian besar orang tua merasa kesulitan dalam berkomunikasi secara intensif dengan anak berusia remaja. “Kesenjangan akses media digital antara remaja dan orang tua mempersulit orang tua dalam menjalin komunikasi dengan anak,” ujar peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Augustina Situmorang.

Menurut Augustina. remaja cenderung memilih informasi yang baik-baik saja ketika bercerita dengan orang tua. “Remaja cenderung merasa reaksi orang tua terlalu berlebihan dan tidak memberikan solusi jika remaja bercerita hal-hal negatif, salah satunya perundungan (bullying). Remaja biasanya menjauh dari orang tua dan menunjukan eksistensi lewat kelompok sebaya, yang punya pengaruh kuat,” pungkasnya.

Diskusi Publik “Peran Keluarga sebagai Pondasi Masa Depan Indonesia” diselenggarakan untuk memperingati Hari Keluarga Internasional yang diperingati setiap tanggl 15 Mei. Peringatan tahunan Hari Keluarga Internasional mencerminkan pentingnya keluarga dan peran mereka dalam pembangunan.


Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Yani Ruhyani
Diakses : 309    Dibagikan :