Perkuat Perekonomian Indonesia, LIPI Kembangkan Bioproduk Berbasis Lignoselulosa

 
 
Data Asian Productivity Organization (APO) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 tercatat sebesar 5.8% dan hanya 0,1% saja yang bersumber dari total factor productivity (TFP) jika dibandingkan dengan total modal kapital dan modal tenaga kerja. Hal ini menggambarkan masih sangat minimnya kemampuan adopsi terhadap teknologi dan inovasi untuk memberikan nilai tambah pada suatu produk terutama yang berbasis sumber daya alam. Saat ini Lembaga Iomu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  mengembangkan berbagai macam bioproduk dari bahan lignoselulosa yang merupakan komponen utama kayu yang akan ditampilkan dalam kegiatan Seminar  “Inovasi Berkelanjutan Bioproduk Berbasis Lignoselulosa untuk Peningkatan Nilai Tambah di Era Industri 4.0” pada Rabu, 30 Oktober 2019 di Cibinong, Jawa Barat.
 
Cibinong, 30 Oktober 2019. Bioproduk merupakan material yang berasal dari sumberdaya hayati (bio-based material) yang diproses dengan teknologi menjadi produk baru yang mempunyai nilai tambah dari segi ekonomi. Contoh bioproduk antara lain biokomposit, biopestisida, bioetanol, biosurfaktan, perekat alam ramah lingkungan dan sediaan sumber pangan fungsional melalui rekayasa teknologi. “Bioproduk menerapkan metode dan proses berkelanjutan, terbarukan, dan mengutamakan aspek proses yang ramah lingkungan,” jelas Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati. 

Berbicara kayu, Enny menjelaskan saat ini Indonesia merupakan eksportir kayu terbesar akan tetapi belum menjadi eksportir kayu olahan terbesar di dunia. “Dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ditunjang inovasi berkelanjutan tantangan ini optimis dapat diwujudkan lewat berbagai macam bioproduk yang bersumber dari bahan lignoselulosa,” ujar Enny.
 
Kepala Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Iman Hidayat menjelaskan saat ini LIPI melakukan penelitian dan pengembangan bahan lignoselulosa melalui serangkaian proses-proses mekanik, fisika, kimia, maupun biologi untuk menghasilkan produk-produk yang terus dikembangkan menjadi material maju dan produk-produk pendukung material maju. “Selain itu pada tahun ini juga akan segera terwujud laboratorium bioproduk terintegrasi atau iLab yang diharapkan mampu mendukung program pemerintah dalam mengembangkan industri kreatif, membantu produk lokal melalui inovasi dan pengembangan produk supaya dapat bersaing pada kancah industri nasional maupun internasional,” ungkap Iman.
 
Menurut Iman iLaB dapat menjadi mitra strategis dengan pihak industri dan pemerintah terkait dengan pembuatan standar bioproduk ataupun pengembangan bioproduk yang diinginkan industri dan masyarakat. “Kami juga akan menggagas pembentukan Pusat Kajian Nanoselulosa,” jelasnya. Dirinya berharap lewat kegiatan ini dapat melakukan kolaborasi dengan semua pihak untuk penguatan inovasi berbasis bahan lignoselulosa sebagai material hijau ramah lingkungan.

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Enny Sudarmonowati
Diakses : 150    Dibagikan :