Riset Optimalkan Popularitas Pangan Fungsional

 
 
Pangan fungsional mengandung nutrisi yang tinggi, sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita. Popularitasnya harus didukung dengan perkembangan riset, agar pemanfaatannya lebih optimal. Sebagai lembaga penelitian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah melakukan banyak riset dalam bidang pangan, salah satunya riset pangan fungsional. Bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Internasional atau World Food Day yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober, LIPI mempersembahkan Science Webinar “Talk to Scientists” dengan  tema “Popularitas Pangan Fungsional” pada Jumat, 16 Oktober 2020 melalui aplikasi Zoom Webinar dan Live Streaming di kanal Youtube LIPI pukul 08.30 – 11.30 WIB.
 
Jakarta, 14 Oktober 2020. Kandungan pangan fungsional sangat diperlukan untuk metabolisme tubuh, sehingga popularitasnya tidak diragukan. Pangan fungsional pun mudah ditemui, karena sebagian besar berasal dari bahan pangan lokal. Peneliti Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna LIPI, Achmat Sarifudin menyebutkan, pangan fungsional merupakan pangan yang memiliki fungsi fisiologis khusus yang bermanfaat untuk meningkatkan fungsi metabolisme tubuh sehingga bermanfaat bagi kesehatan. “Manfaat pangan fungsional biasanya berasal dari kandungan zat aktif di dalamnya. Berbagai jenis pangan fungsional dapat dengan mudah kita jumpai yang berasal dari berbagai rempah-rempah, buah-buahan dan biji-bijian. Salah satu jenis pangan fungsional yang sudah sering kita konsumsi adalah yang berasal dari golongan karbohidrat,” ungkapnya.

Dirinya menyatakan, karbohidrat umumnya merupakan hasil fotosintesa tumbuhan dan berfungsi sebagai sumber energi bagi makhluk hidup. “Contoh karbohidrat yang sering kita konsumsi adalah pati yang berasal dari beras dan agar-agar atau rumput laut. Selain fungsinya sebagai sumber energi bagi tubuh, beberapa golongan karbohidrat mempunyai fungsi fisiologis lainnya yang dapat meningkatkan kesehatan tubuh, sehingga golongan karbohidrat ini bisa digolongkan kedalam pangan fungsional,” jelas Achmat.

Senada dengan achmat, Yusuf Andriana peneliti dari Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna LIPI menyatakan, pangan fungsional dapat diartikan sebagai makanan atau bahan pangan yang memberikan manfaat bagi tubuh selain memenuhi asupan gizi. “Pangan fungsional bermanfaat bagi kesehatan, dikarenakan keberadaan komponen aktif menjadi isu yang cukup penting mengingat penggunaan obat kimiawi yang memberikan efek negatif,” paparnya. “Contoh produk yang dikembangkan Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna LIPI antara lain permen dan jus ciplukan, bakso daun kelor, dan cookies hanjeli yang diharapkan dapat dirilis dalam beberapa tahun ke depan,” lanjut Yusuf.

Melalui teknologi, peran pangan fungsional pun tidak hanya memenuhi nutrisi bagi tubuh, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi bahan pangan alternatif bagi penderita penyakit tertentu. Anastasia Wheni Indrianingsih, anggota Kelompok Penelitian Teknologi Pangan Fungsional, Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam LIPI telah melakukan penelitian dalam upaya penyediaan pangan fungsional bagi penderita penyakit degenerative.

“Beberapa penelitian telah kami lakukan dengan memanfaatkan umbi-umbian lokal sebagai sumber prebiotik dan serat pangan,” paparnya. “Di sisi lain, kami juga melakukan riset dalam pemanfaatan isolat probiotik bakteri asam laktat yang mempunyai aktifitas inhibitor alfa glukosidase sebagai pangan fungsional bagi penderita diabetes tipe-2,” pungkas Anastasia.
 


Sivitas Terkait : Achmat Sarifudin M.Sc.
Diakses : 261    Dibagikan :