Tantangan dan Solusi Penyediaan Biofuel untuk Energi dan Transportasi di ASEAN

 
 
Biofuel merupakan bahan bakar nabati yang disebut dapat menjadi pengganti untuk bahan bakar berbasis fosil karena lebih ramah lingkungan. Potensi biofuel cair generasi pertama di kawasan ASEAN menjadi bagian penting pasokan energi baru dan terbarukan. Saat ini Filipina, Thailand, Malaysia, dan Indonesia tengah mengembangkan kebijakan khusus terkait penggunaan biofuel. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan dukungan ASEAN Science Technology and Innovation Fund menggelar workshop untuk mengeksplorasi berbagai solusi dalam tantangan penyediaan biofuel untuk energi dan transportasi dalam Workshop on Higher Blending of Biofuels for Transportation in ASEAN Countries: Testing and Strategy yang akan diselenggarakan di Bali pada Selasa, 3 September 2019
 
Bali, 3 September 2019. Bahan bakar nabati (biofuel) adalah sumber energi terbarukan dan lebih ramah lingkungan. Dua bentuk umum biofuel adalah bioetanol dan biodiesel. Biotenol terbuat dari bahan baku utama tebu dan singkong, sedangkan biodiesel terbuat dari bahan baku utama minyak kelapa sawit dan kelapa. Saat ini, Thailand dan Filipina memproduksi bioetanol dan biodiesel, sedangkan Malaysia dan Indonesia merupakan produsen biodiesel.

Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand memiliki target kebijakan khusus terkait pengembangan penggunaan biofuel. Pada 2030, Malaysia bertujuan untuk mengganti 5% diesel dalam transportasi jalan, sedangkan Filipina bertujuan untuk menggantikan 15% diesel dan 20% bensin dengan biofuel. Sementara itu pada 2021 Thailand bertujuan menyimpan 44% minyak oleh biofuel.

Kepala Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI, Purwoko Adhi menjelaskan, dalam memenuhi target kebijakannya setiap negara harus menyeimbangkan keamanan energi dan manfaat lingkungan dengan implikasi potensial lainnya, terutama dalam ketahanan pangan, deforestasi, keanekaragaman hayati dan penanganan masalah sosial yang mungkin akan timbul. “Dalam waktu dekat, Masyarakat Ekonomi ASEAN akan meliberalisasi pasar biofuel yang telah dimulai sejak tahun 2016. Di dalamnya diharapkan terdapat keterkaitan antar pasar untuk menyerap kelebihan pasokan yang disebabkan oleh kebijakan dan target masing-masing negara,” ujar Purwoko.

Workshop on Higher Blending of Biofuels for Transportation in ASEAN Countries: Testing and Strategy sendiri diikuti oleh ilmuwan, praktisi industri, serta perwakilan unsur pemerintah dari negara-negara anggota ASEAN seperti Brunei Darussalam, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia. “Kegiatan ini bertujuan untuk membangun jejaring yang kuat di antara para peneliti di ASEAN. Hal tersebut penting untuk mendorong kebijakan dan peraturan pemerintah yang mendukung penelitian dan pengembangan energi terbarukan,” terang Purwoko.

Dirinya menjelaskan, workshop tersebut juga mendiskusikan hal yang mencakup status pemanfaatan biofuel, kendala penerapan, regulasi dan strategi, serta rencana pengembangan selanjutnya. “Pertemuan ini menjadi platform yang ideal untuk mempertemukan para ilmuwan, praktisi industri, dan pemerintah untuk membahas masalah tersebut,” tutupnya.  
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Purwoko Adhi Dipl.Ing.,D.E.A.
Diakses : 609    Dibagikan :