Uji Klinik Herbal Indonesia untuk Pengobatan Komplementer COVID-19

 
 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai salah satu pelaksana penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan riset dan inovasi untuk percepatan penanganan COVID-19 telah membentuk Gugus Tugas Pelaksana Riset dan Inovasi Percepatan Penanganan COVID-19 sejak tanggal 23 Maret 2020. Hingga saat ini, salah satu dari satuan Gugus Tugas yang telah dibentuk oleh LIPI tersebut sedang mengembangkan Bahan Baku Obat (BBO) herbal yang berasal dari kekayaan biodiversitas Indonesia. yang akan dibahas pada acara Sci-Binar Talk to Scientists “COVID-19, Peneliti, dan Dokter” pada hari Senin 18 Mei 2020 secara live streaming di saluran YouTube LIPI.
 
Cibinong, 18 Mei 2020. Penelitian dan pengembangan terhadap produk BBO Indonesia ini difokuskan pada kegiatan uji klinik terhadap komoditas herbal asli dari biodiversitas Indonesia, dan/atau komoditas herbal yang sudah dapat dikultivasi di Indonesia, sebagai kandidat immunomodulator (pengatur sistem kekebalan tubuh). Target dari uji klinik ini adalah pasien yang memiliki indikasi positif COVID-19 dengan pneumonia ringan, dan telah dikonfirmasi dengan menggunakan uji Real-Time Reverse-Transcription Polymerase Chain Reaction (Real-Time RT-PCR). “Tujuan utama dari uji klinik ini adalah untuk mengetahui efektivitas dan keamanan, atau ada tidaknya kejadian yang tidak diinginkan dari kombinasi herbal Indonesia sebagai kandidat imunomodulator dengan dosis yang sesuai untuk pasien COVID-19,” jelas Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko.
 
Handoko menyebutkan agenda penelitian pada bulan Maret hingga April 2020 adalah pengkajian ilmiah terhadap beberapa komoditas herbal Indonesia yang diperkirakan memiliki aktivitas imunomodulator. Kegiatan pengkajian ilmiah ini dikerjakan oleh tim peneliti LIPI, UGM dan PT. Kalbe Farma Tbk. “Selanjutnya, hingga bulan Juni nanti akan dilaksanakan uji klinik oleh Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Badan Litbang Kesehatan, dan tim dokter Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet, serta pendampingan regulasi dari BPOM," terang Handoko. Dirinya juga menjelaskan Badan Nasional Penanganan Bencana sangat mendukung penyusunan protokol bersama tersebut dan rencana pelaksanaan uji klinis di RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran untuk percepatan penanganan COVID-19 sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
 
Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI sekaligus koordinator dari Gugus Tugas Pengembangan Imunomodulator berbasis Herbal Indonesia, Masteria Yunovilsa Putra, menjelaskan bahwa saat ini kombinasi herbal Indonesia yang diharapkan mampu untuk mengatasi COVID-19 ini sudah diformulasikan, sehingga sudah ada prototipe dan data stabilitasnya. “Nantinya, akan ada dua produk untuk diuji cobakan dan kedua produk tersebut telah memiliki nomor izin edar BPOM,” jelasnya.
 
Sesuai dengan timeline pada protokol yang diajukan, uji klinik terhadap produk herbal Indonesia sebagai kandidat imunomodulator untuk pasien COVID-19 ini akan dilaksanakan pada bulan Juni 2020, dan diharapkan pada bulan Juli atau Agustus nanti sudah analisis hasil dan ada laporan hasil sementara. “Yang sangat membanggakan salah satu produk yang akan diujikan nanti merupakan produk kombinasi herbal asli dari Indonesia. Proses kultivasi, ekstraksi dan produksi dilakukan di Indonesia dan nantinya akan di produksi oleh PT. Kalbe Farma,” tutupnya.

Sivitas Terkait : Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.
Diakses : 600    Dibagikan :