Banjir dan Longsor Landa Satuan Kerja LIPI di Bali dan Bitung

 
 
Banjir dan tanah longsor melanda dua satuan kerja di lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dua satuan kerja tersebut adalah Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) Kebun Raya ”Eka Karya” Bali dan Loka Konservasi Biota Laut (LKBL) Bitung, Sulawesi Utara. Kejadian bencana di BKT Kebun Raya “Eka Karya” Bali terjadi pada Kamis (9/2) malam, sedangkan kejadian di LKBL Bitung terjadi pada Sabtu (11/2). LIPI pun berharap kondisi di dua satuan kerjanya ini segera pulih seperti sedia kala.
 
Jakarta, 13 Februari 2017. Kejadian banjir dan longsor di kedua satuan kerja LIPI ini membawa dampak kerugian yang cukup signifikan. Selain itu, kejadian bencana itu mengharuskan dua satuan kerja tersebut untuk sementara waktu berhenti beraktivitas dan berfokus pada pemulihan kondisi.
 
BKT Kebun Raya “Eka Karya” Bali LIPI sudah menutup aktivitas kebun dari kunjungan masyarakat umum sejak Jumat (10/2) hingga Senin (13/2) ini. Penutupan itu terpaksa dilakukan karena beberapa titik di area Kebun Raya tertutup lumpur dan dua jembatan putus. “Kami sedang melakukan pembersihan jalan yang tertutup lumpur, batu dan kayu. Kami upayakan melakukan pemulihan kondisi sesegera mungkin,” ungkap Bayu Adjie, Kepala BKT Kebun Raya “Eka Karya” Bali LIPI.
 
Bayu menjelaskan, pada Minggu (12/2), dua tim dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), yakni Direktorat Jenderal Bina Marga dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air meninjau lokasi kejadian. Dan juga, tim survei dari Kementerian PUPR tersebut sudah pula melakukan pengukuran untuk membangun kembali beberapa jembatan yang putus dan mendesain ulang saluran air. Saluran tersebut membentang dari Kawasan Cagar Alam Batukaru (kawasan hulu), melewati Kebun Raya dan menuju daerah hilir yang salah satunya akan bermuara di Danau Beratan. Setelah diukur, panjang saluran kurang lebih 5 km, dan diperkirakan memerlukan biaya sekitar Rp. 30-35 Miliar.
 
“Dari hasil pertemuan kami pada Jumat (10/2) dan hari ini (Minggu (12/2), red), upaya yang sudah dilakukan Kementerian PUPR saat ini adalah pertama, membersihkan sisa material batu, tanah, lumpur, dan batang kayu dengan alat berat. Kedua yakni membuat saluran air sementara (dengan mengeruk tanah selebar 2 meter) dengan harapan limpasan air tidak mengalir di badan jalan. Dan ketiga, tim survei sudah melakukan pengukuran lokasi,” jelas Bayu.
 
Dia berharap, dengan segala bantuan dari berbagai pihak, Kebun Raya “Eka Karya” Bali segera pulih dan dapat beraktivitas kembali seperti sedia kala. “Dan, kunjungan dari para wisatawan bisa normal dan terjadwalkan dengan baik,” sambungnya.
 
Selain Kebun Raya “Eka Karya Bali”, LKBL Bitung juga terlanda bencana longsor yang menyebabkan sejumlah bangunan kantor tertimbun longsor dan rusak. Kejadian ini disebabkan karena hujan yang deras dalam dua hari terakhir pada Sabtu-Minggu (11-12/2). “Hujan yang turun terus-menerus mengakibatkan talud atau tanggul longsor dan menimpa rumah dinas dan laboratorium kami,” kata Petrus Christianus Makatipu, Kepala Loka Konservasi Biota Laut Bitung LIPI, Sulawesi Utara.
 
Petrus menuturkan, pihaknya saat ini tengah melakukan pembersihan dan perbaikan berbagai sarana dan prasarana yang rusak. Pihaknya juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat dan berbagai pihak terkait untuk melakukan perbaikan tersebut.
 
 
Keterangan Lebih Lanjut:
  • Bayu Adjie (Kepala Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Bali LIPI)
  • Petrus Christianus Makatipu (Kepala Loka Konservasi Biota Laut Bitung LIPI, Sulawesi Utara)
  • Isrard (Kepala Bagian Humas, Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI)

Penulis: pwd (berbagai sumber)
Editor: isr

Siaran pers ini dibuat oleh Humas LIPI

 
Sumber : Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Bayu Adjie M.Sc.
Diakses : 327    Dibagikan :