Banjir di Masa Covid-19, Kesiapsiagaan, Mitigasi, dan Pengelolaan Bencana

 
 
Setiap tahun ketika musim hujan tiba, Indonesia selalu menghadapi permasalahan banjir yang berdampak terhadap sektor ekonomi, sosial maupun kesehatan masyarakat. Ditambah terjangan pandemi COVID-19, hal ini makin memperparah kondisi masyarakat yang tinggal di wilayah rentan banjir. Untuk memahami permasalahan fundamental, koordinasi serta solusi terkait permasalahan banjir dan dampaknya di masa pandemi COVID-19, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Asia Pacific Centre for Ecohydrology (APCE) – UNESCO Category II Centre, bekerjasama dengan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung - Cisadane – Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI, serta Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Dinas Sumber Daya Air – Propinsi DKI Jakarta, dan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang – Kabupaten Bogor menyelenggarakan webinar regional “Banjir Di Masa Covid 19: Kesiapsiagaan, Mitigasi Dan Pengelolaan Bencana”, pada Rabu 9 September 2020.
 
Cibinong, 8 September 2020. Air hujan pada dasarnya bukan sumber bencana tetapi merupakan berkah musiman. Namun akan menjadi masalah ketika limpahan air hujan tersebut mengakibatkan bencana banjir dan berdampak pada sektor-sektor kehidupan masyarakat seperti sector ekonomi, sosial, maupun kesehatan. Dampak bencana banjir yang besar ini membuat banjir perlu mendapat perhatian serius baik dari segi kesiapsiagaan, mitigasi, maupun pengelolaan bencana.
 
Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan banjir merupakan salah satu bencana rutin yang selalu melanda berbagai daerah di tanah air. “Dampak dari bencana banjir sangat berat bagi masyarakat yang terkena. Terlebih di era pandemi ini, banjir akan memperburuk kondisi masyarakat terdampak. Banjir akan menurunkan kemampuan masyarakat mematuhi protokol kesehatan untuk pencegahan penularan virus SARS-CoV-2,” jelasnya. “Untuk itu LIPI berupaya mengembangkan protokol dan mitigasi baru bencana banjir di tengah pandemi COVID-19,” imbuh Handoko.
 
Direktur Eksekutif APCE – UNESCO C2C, Prof. Dr. Ignasius Dwi Atmana Sutapa, MSc. menjelaskan, beberapa faktor utama yang dapat menjadi penyebab terjadinya banjir adalah: curah hujan yang tinggi akibat perubahan iklim, berkurangnya daerah tangkapan air, perubahan tata guna lahan, saluran air atau drainase tidak memadai serta perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan seperti membuang sampah sembarangan. “Berbagai kendala yang dihadapi untuk menangani permasalahan bencana banjir diantaranya: kebijakan desentralisasi, pengelolaan sumber daya yang tidak optimal serta tumpang tindih kewenangan antar sektor dan tingkatan,” ungkap Ignas. Dirinya menjelaskan rendahnya koordinasi antara pihak-pihak terkait dalam upaya menangani permasalahan banjir juga menjadi penyebab sulitnya mengatasi problem tersebut.
 
Menurutnya, Pandemi Covid-19 menambah tantangan dalam pengelolaan banjir. “Pada situasi tanpa bencana banjir saja, hingga tanggal 3 September 2020 jumlah terkonfirmasi positif di Indonesia mencapai 184.268 orang. Jumlah yang meninggal dunia 7.750 dan yang sembuh 132.055. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum dapat memprediksikan kapan pandemi ini akan berakhir. Dirinya menerangkan, tantangan terbesar dari pandemi COVID-19 dalam situasi banjir terkait penerapan jarak fisik (physical distancing) yang akan lebih sulit dilakukan dan kekurangan air bersih pada situasi banjir.
 
Di sisi lain, dampak COVID-19 dari sisi perekonomian masih belum selesai, akan diperparah dengan situasi banjir yang akan mengganggu jalannya kegiatan perekonomian masyarakat. “Upaya komprehensif harus dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, maupun pemangku kepentingan yang lain, dalam rangka meningkatkan awareness, kemampuan, dan kesiapsiagaan untuk antisipasi dan mitigasi terhadap bencana banjir di Indonesia di masa pandemi COVID-19,” tegas Ignas. “Peran lembaga penelitian/riset dan inovasi menjadi sangat penting untuk memberikan rekomendasi dan solusi terhadap permasalahan kebencanaan banjir maupun pandemic COVID-19 di Indonesia,” tandasnya.
 

Sivitas Terkait : Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.
Diakses : 1443    Dibagikan :