Diagnosis Ekonomi Nasional Terhadap Kinerja UMKM di Pandemi COVID-19

 
 
Kekhawatiran krisis ekonomi akibat pelemahan ekonomi global sebagai imbas pandemi COVID-19 telah menjadi ancaman besar bagi kelangsungan perekonomian nasional. Hasil simulasi LIPI per Maret 2020 memproyeksi pertumbuhan ekonomi nasional hanya sebesar 1,9 -2,2 persen. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang terpuruk  akibat pandemi ini. Untuk mengetahui dampak pandemi terhadap kinerja UMKM, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui  Pusat Penelitian Ekonomi telah melakukan survei on-line pada Mei lalu yang hasilnya akan disampaikan pada webinar “Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Kinerja UMKM: Mitigasi dan Pemulihan”, Senin, 29 Juni 2020 melalui live streaming Youtube di tautan  https://s.id/live-p2elipi  mulai pukul 10.00 WIB.
 
Jakarta, 28 Juni 2020. Dalam situasi krisis, UMKM yang  merupakan salah satu penggerak ekonomi domestik dan menyerap tenaga kerja telah mengalami kegoncangan.  “UMKM telah menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Berkaca dari krisis ekonomi 1997 lalu, UMKM bahkan menjadi penyelamat ekonomi masyarakat,” jelas Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti.
 
Dirinya menjelaskan, situasi krisis saat ini berbeda dengan krisis ekonomi sebelumnya. “Krisis yang terjadi saat ini tidak hanya menghantam sisi permintaan tetapi juga sisi penawaran,” ujar Nuke. Dirinya menyebutkan, hasil studi ini akan secara langsung disampaikan kepada Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19
 
Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho menjelaskan pelaksanaan survei sosial dilakukan secara on-line pada 1-20 Mei 2020 terhadap 676 responden di 24 provinsi yang mayoritas berdomisili di pulau Jawa. “Mayoritas responden berada pada skala usaha ultra-mikro dan mikro memiliki keterbatasan sumber daya sehingga akan terdampak serius pada kondisi pandemi,” papar Agus.
 
Studi memperlihatkan 94,69% UMKM mengalami penurunan penjualan dimana sektor terdampak paling besar yaitu sektor pengolahan, penyediaan akomodasi makanan minuman dan perdagangan. Di sisi produksi, tekanan UMKM terbesar selama pandemi berasal dari kenaikan biaya bahan baku dan upaya mempertahankan tenaga kerja. “Dengan segala daya upayanya, hampir 72,02 persen UMKM menyatakan tidak dapat mempertahankan usahanya hingga Oktober 2020,” jelasnya.
 
Dirinya berharap hasil studi ini bisa mendiagnosis seberapa besar daya tahan UMKM dalam menghadapi pandemi dan identifikasi strategi pemulihan kinerja. Juga memetakan masalah dan upaya menyelamatkan UMKM yang terdampak. “Hal ini dilakukan agar sumber pendapatan dan kesejahteraan masyarakat  dari sektor UMKM sebagai penopang produksi nasional dapat terpenuhi,” tutup Agus. 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Agus Eko Nugroho S.E.M.Appl.Econ.
Diakses : 1617    Dibagikan :