Eksplorasi Riset Kekayaan Hayati Laut Pulau Lombok

 
 
Pulau lombok, diperkirakan memiliki kekayaan biota laut yang tinggi.  Salah satu biota laut yang memiliki keanekaragaman tinggi adalah krustasea. Biota ini merupakan komponen terbesar kedua setelah moluska yang ditemukan di laut. Kemudian keanekaragaman jenis timun laut dan fitoplankton yang ditemukan di perairan dangkal Lombok. Seiring dengan tingginya minat masyarakat terkait pengetahuan dan informasi biodiversitas dan kekayaan hayati Indonesia,  Studi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah melakukan pengembangan dan penerapan dan teknologi  budidaya biota laut di Indonesia. Untuk mengetahui lebih dalam terkait studi ini, LIPI melalui Balai Bio Industri Laut akan menyelenggarakan Webinar Series 2 dengan tema ”Biodiversitas dan Kekayaan Hayati Laut Pulau Lombok”, pada Selasa, 24 Agustus 2021 pukul 13.00 - 15.00 WIB, secara virtual.

Jakarta, 23 Agustus 2021. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ocky Karna Radjasa mengatakan bahwa wilayah Indonesia sebagian besar adalah laut yang mempunyai berbagai macam habitat dan ekosistem. ”Habitat yang beragam dengan iklim yang selalu hangat menjadikan perairan Indonesia kaya akan keanekaragaman jenis biota laut yang dapat di eksplor,” ungkap Ocky.  

Menurut Ocky, Kekayaan laut Indonesia juga terlihat dari keanekaragam hayati biota laut. ”Penelitian kekayaan  hayati laut pulau Lombok telah dilakukan Balai Bio Industri Laut (BBIL) LIPI sejak berdiri 1997 sudah melakukan  pengembangan dan penerapan teknologi budidaya berbagai biota laut ekonomis penting. “Hasil-hasil kajian budidaya biota laut yang dikembangkan oleh BBIL – LIPI sebagian telah siap untuk dimanfaatkan dan dikembangkan di masyarakat,” jelasnya.

Kepala Balai Bio Industri Laut (BBIL) LIPI, Ratih Pangestuti mengungkapkan pengembangan budidaya biota laut tersebut adalah sotong buluh (Sepioteuthis lessoniana), tiram mutiara (Pinctada maxima), teripang hitam (Holothuria atra), abalon tropis (Haliotis asinina), siput mata bulan (Turbo chrysostomus), teripang pasir (Holothuria scabra), dan lobster karang (Panulirus spp.). Adapun penelitian biota laut lainnya adalah jenis krustasea (Brachyura, Anomura), timun laut jenis teripang susu putih (Holothuria fuscogilva), dan Fitoplankton.”

Studi dari ketiga biota laut ini yang akan dipaparkan pada webinar series dua kali ini,” ulas Ratih. Dengan tujuan untuk menyampaikan informasi kepada publik mengenai hasil kegiatan pengembangan budidaya yang sudah dan sedang dilaksanakan di BBIL-LIPI Lombok.

Profesor Riset yang baru saja memperoleh penghargaan LIPI Sarwono Award XIX, Peneliti BBIL LIPI, Dwi Listyo Rahayu menyampaikan pengalamannya melakukan riset biota laut di Pulau Lombok. “Keanekaragaman jenis biota laut di Lombok sangat tinggi, sehingga kita perlu menjaga kelestariannya dan mempelajari kegunaannya untuk manusia,” tegas Dwi. Menurutnya, Krustasea merupakan biota laut yang mempunyai kekayaan jenis tinggi kedua setelah moluska dan menempati berbagai ekosistim, baik litoral maupun laut dalam. “Walaupun sebagian besar krustasea yang dapat dikonsumsi telah diketahui jenisnya tetapi berbagai jenis krustasea yang sangat berperan untuk keseimbangan ekologi di alam masih memerlukan perhatian,” lanjutnya. Dirinya mengungkapkan ada sekitar 500 spesies krustasea Brachyura (kepiting) ditemukan di perairan Indonesia, sedangkan untuk Anomura (kelomang dan anomura lain) sekitar 300 species. Di perairan Lombok sampai saat ini hanya sekitar 150 spesies yang telah tercatat.

Sementara, Peneliti Oseanografi LIPI, Ismiliana Wirawati, mengatakan potensi kekayaan hayati yang dapat dimanfaatkan,lainnya yaitu jenis  timun laut memiliki kemampuan bertahan hidup terhadap variasi perubahan suhu dan salinitas yang besar. “Potensi timun laut terutama teripang sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan oleh manusia dengan tetap memperhatikan konservasinya agar keberlanjutan pemanfaatan timun laut tersebut dapat berlangsung lama,” terang Ismi. Tercatat dari 31 jenis ditemukan 23 jenis merupakan timun laut yang dipanen dari alam dan diperdagangkan.

Kemudian jenis biota lainnya, peneliti BBIL LIPI, Varian Fahmi menyebutkkan beberapa jenis fitoplankton yang hidup di perairan memiliki peran dalam jaringan makanan dan proses biogeokimia di laut. “beberapa jenis fitoplankton dapat menguntungkan manusia namun sebagian lainnya dapat merugikan. Oleh karena itu penting untuk mengetahui jenis-jenis fitoplankton di laut, khususnya yang berada di Teluk Kodek, Lombok Utara,” tutup Varian.

 


Sivitas Terkait : Prof. Dr. Ocky Karna Radjasa M.Sc
Diakses : 2276    Dibagikan :