Hasil Survei Dampak Pandemi Covid-19 pada Pekerja

 
 
Pandemi Covid-19 bukan hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, namun menyerang hampir seluruh sektor kehidupan termasuk sektor ekonomi. Kebijakan pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar rumah sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19 telah menimbulkan dampak besar terhadap keberlangsungan penghidupan pekerja di Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia melakukan survei online terkait dampak pandemi Covid-19 terhadap pekerja di Indonesia.

Jakarta, 2 Mei 2020. Sejak ditetapkannya Covid-19 sebagai bencana nasional Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Covid-19 Sebagai Bencana Nasional, pemerintah secara bertahap meminta masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah melalui kebijakan physical distancing, karantina wilayah hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diikuti dengan pemberlakuan belajar dan bekerja dari rumah. “Pada praktiknya, tidak semua sektor pekerjaan memungkinkan untuk melakukan pekerjaan dari rumah, ” ujar Herry Yogaswara, Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI.

Survei yang dilakukan terhadap 1112 pekerja menunjukkan 65% responden terdampak Covid-19 dapat bekerja di rumah, namun 15% pekerja mengalami Pemutusan Hubungan Kerja tanpa pesangon. “Hanya dua persen yang di-PHK dengan pesangon,” terang Ngadi dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI.

Survei yang dilakukan terhadap 1112 pekerja menunjukkan 65% responden terdampak Covid-19 dapat bekerja di rumah, namun 15% pekerja mengalami Pemutusan Hubungan Kerja tanpa pesangon. “Hanya dua persen yang di-PHK dengan pesangon,” terang Ngadi dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI.

Data survei menunukkan lapangan pekerjaan yang paling terdampak PHK adalah sektor perdagangan, rumah makan dan akomodasi dengan persentase 24% diikuti jasa kemasyarakatan sebesar 1 %. Berdasarkan jenis pekerjaannya, sebanyak 32 % korban PHK berasal dari tenaga usaha jasa; 22% tenaga profesional/teknisi; 15% tenaga tata usaha; 13% tenaga produksi operator alat angkutan dan pekerja kasar; dan 9% tenaga usaha penjualan. “Sedangkan dari tingkat pendidikannya, 52 persen merupakan lulusan SLTA/sederajat, 30 persen tamat perguruan tinggi setingkat sarjana, dan 11 persen lulusan diploma,” ujar Ngadi.

Responden yang mengalami PHK sendiri didominasi oleh laki-laki sebanyak 61,3%. Dari segi pendapatan, 43% masih memiliki pendapatan tetap. “Namun 20 persen responden mengalami pengurangan pendapatan sampai 30 persen, 16 persen tidak ada pendapatan, 10 persen pendapatannya berkurang sampai 50 persen, dan 11 persen berkurang 30 samoai 50 persen,” jelasnya. Terkait sumber pendapatan, sebanyak 68% responden mengandalkan pendapatan dari pekerjaan saat ini untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. “Hanya dua persen yang menjadikan bantuan pemerintah sebagai sumber pendapatan utama,” jelas Ngadi.

Sebagai salah satu upaya memfasilitasi kebutuhan masyarakat, pemerintah menerbitkan kartu Prakerja. Sebanyak 76% responden telah terinformasi mengenai Kartu Pra Kerja meskipun baru 24% yang telah mendaftar dengan alasan terbanyak mencoba peluang yang ditawarkan pemerintah (52%).

Dari segi optimisme pencari kerja, 48,5% responden pencari kerja mengaku kurang optimis. “25,8 persen mempunyai sikap optimis,” jelas Ngadi. Menurut Ngadi, optimisme muncul karena 43,8% responden mengaku sudah diterima bekerja dan tinggal menunggu panggilan, memiliki keterampilan yang dibutuhkan pemberi kerja (32,1%), serta 15,5% percaya pandemi akan segera berakhir. “Selain itu 8,6 persen responden mengaku percaya pemerintah menjamin kondisi perekonomian akan kembali pulih,” pungkasnya.

Sebagai informasi, survei ini diikuti responden berusia 15 tahun ke atas dengan presentase 44,1% perempuan dan 55,9% laki-laki. Sebanyak 31,91 % merupakan tenaga profesional teknisi dan sejenisnya; 15,64% tenaga tata usaha dan sejenisnya; 14,10% tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan; 8,19% tenaga usaha jasa; 7,45% tenaga produksi, operator alat angkutan dan pekerja kasar; 5,34% tenaga usaha penjualan; 1,55% tenaga usaha pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan; serta 15% adalah pekerjaan umum lainnya.

Berdasarkan distribusi responden menurut tempat tinggal, 75,7% merupakan penduduk pulau Jawa dan distribusi responden menurut tempat bekerja pun 75,1% didominasi pulau Jawa dengan dan persentase 37,7% bekerja di DKI Jakarta; 16% di Jawa Barat dan 6,7% di Jawa Tengah. Sisanya 8,5% bekerja di Sumatera; 4% di Kalimantan, 3,8% di Sulawesi; 2,2% Maluku dan Papua; serta 6,4% bekerja di Bali dan Nusa Tenggara.
 


Sivitas Terkait : Ngadi M.Si
Diakses : 3740    Dibagikan :