International Symposium on Coastal and Marine Biodiversity (ISCOMBIO) 2020: Status Terkini dan Masa Depan Biodiversitas Laut dan Pesisir Indonesia sebagai Harta Karun Nasional untuk Kesejahteraan Umat Manusia dan Pelestarian Alam

 
 
Peningkatan tekanan lingkungan, kerusakan alam akibat ulah manusia, serta pemanfaatan sumber daya laut yang berlebih menjadi ancaman besar bagi kelestarian keanekaragaman hayati pesisir dan laut Indonesia. Oleh karenanya, pengetahuan dan pemahaman nilai dan potensi sumber daya laut dan pesisir penting sebagai dasar pelaksanaan tata kelola. Memperingati HUT LIPI ke 53 dan 25 tahun Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HARTEKNAS), LIPI melalui Pusat Penelitian Oseanografi  dan Pusat Penelitian Laut Dalam bekerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional menggelar International Symposium on Coastal and Marine Biodiversity (ISCOMBIO) 2020 “Present and Future of Indonesian Coastal and Marine Biodiversity as a National Treasure” pada Kamis, 17 September 2020 pukul 08.30 WIB secara daring melalui Media Zoom Meeting dan Live Youtube LIPI Channel.
 
Jakarta, 16 September 2020. Sebagai salah satu negara maritim terbesar di dunia yang sebagian besar wilayahnya terletak di kawasan segitiga terumbu karang atau Coral Triangle Area, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati pesisir dan laut yang begitu kaya. Sebagai negara kepulauan, perairan laut Indonesia meliputi 20% total ekosistem terumbu karang dunia, 5% ekosistem padang lamun, dan 20% ekosistem hutan bakau serta dikelilingi oleh berbagai ekosistem laut tropis termasuk laguna, teluk, selat, laut terbuka, laut dalam, bahkan diapit dua samudera besar yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
 
Ekosistem laut dan pesisir Indonesia merupakan yang terbesar di dunia dan merupakan habitat bagi 75% spesies terumbu karang dan 37% spesies ikan dunia. Namun demikian, kehidupan dari laut begitu misterius dan masih banyak yang belum tergali dan terpetakan. karena perkembangan sains dan teknologi di bidang kelautan dan kemaritiman masih rendah jika dibandingkan dengan di wilayah daratan. Padahal upaya pemanfaatan yang berkelanjutan harus dibekali dan dibarengi dengan kemampuan serta kesiapan sains dan teknologi yang mumpuni.  
 
“Sebagai megabiodiversity dunia, dan dengan total luas perairan 2/3 atau 70% dari total wilayah negara, potensi eksplorasi, pemanfaatan, dan pelestarian sumberdaya laut dan pesisir Indonesia sangatlah besar dan menjanjikan bagi devisa negara. Namun masih banyak yang belum terungkap dan bersifat misteri serta belum dikelola dengan maksimal berbasis Sains dan Teknologi. Untuk itu, ke depan pengungkapan misteri dan penggalian pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir perlu menjadi fokus perhatian bangsa Indonesia,” ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko.
 
Handoko mengungkapkan riset memiliki peran penting sebagai landasan dalam identifikasi, pengelolaan serta pemanfaatan keberlanjutan sosial, ekonomi dan lingkungan sumber daya pesisir dan laut. Menurutnya, eksplorasi ilmiah dibutuhkan untuk memahami secara utuh struktur kompleks proses bioekologi di berbagai ekosistem laut Indonesia. “Masih banyak eksplorasi ilmiah yang diperlukan dalam pengembangan model yang ideal dan representatif. Hal itu untuk pengelolaan sumber daya laut yang berbasis sains dan teknologi, baik untuk saat ini dan di masa depan,” jelas Handoko
 
Dalam hal ini, Handoko menegaskan, perhatian besar dinilai perlu diarahkan pada masalah peningkatan tekanan lingkungan baik oleh aktifitas bencana alam maupun oleh ulah manusia yang secara eksponensial mengancam kelestarian ekosistem pesisir dan laut Indonesia, serta mengancam keberlangsungan hidup berbagai biota laut yang menghuni ekosistem tersebut. “Pemanasan global yang disebabkan oleh karbon, pengasaman laut, sampah laut, dan IUU Fishing pun menjadi beberapa fokus utama pemerintah dan peneliti,” tandasnya.
 
Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Augy Syahailatua mengatakan bahwa penting untuk memahami value ekosistem pesisir dan laut untuk memprediksi dan mengukur secara moneter terkait ancaman tersebut. “Kita juga perlu mengetahui seberapa besar insentif yang dapat diperoleh dari pelestarian ekosistem ini. Pengetahuan ini penting bagi pemerintah dan masyarakat pesisir dalam pengelolaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Selain menyoroti status keanekaragaman hayati pesisir dan laut Indonesia serta perannya di masa depan, symposium ini sekaligus menginformasikan beberapa temuan spesies baru dari hasil ekspedisi The South Java Deep Sea Biodiversity Expedition (SJADES) pada tahun 2018 yang telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dengan LHKCM-National University of Singapore (NUS). “Telah berhasil ditemukan beberapa spesies baru biota laut dalam ekspedisi SJADES 2018. Spesies-spesies baru yang ditemukan merupakan kekayaan nasional yang perlu dijaga dan dilestarikan,” terang Augy.
 
Turut hadir dalam International Symposium on Indonesian Biodiversity Menteri Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, Ph.D., serta berbagai pembicara yang ahli dalam bidang konservasi, bioprospeksi dan bioekonomi keanekaragaman hayati kelautan yang berasal dari LIPI, Kemenristek/BRIN, Universitas Hasanuddin, University of Queensland, Fisheries and Aquaculture Department FAO, ISEM-IRD France, University of California Los Angeles (UCLA), UMR-IRD France serta MARBEC-IRD France.

Sivitas Terkait : Dr. Ir. Augy Syahailatua M.Sc.
Diakses : 1173    Dibagikan :