LIPI Kembangkan Super Konduktor dan Elektroda Baterai Lithium Berbahan Baku Lokal

 
 
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, konsumsi listrik Indonesia pada tahun 2017 mencapai 1.012 Kilowatt per Hour (KWH)/kapita, naik 5,9 persen dari tahun sebelumya. Pada tahun ini  pemerintah menargetkan konsumsi listrik masyarakat akan meningkat menjadi 1.129 kwh/kapita. Indonesia sendiri memiliki berbagai sumber daya mineral yang dapat dimanfaatkan dalam bidang kelistrikan, namun ketergantungan Indonesia masih banyak bergantung pada impor material maju. Untuk itu, perlu adanya nilai tambah bagi sumber daya mineral dalam negeri dalam bentuk pengembangan material berbahan baku lokal. Berkaitan dengan  hal tersebut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah melakukan penelitian terkait super konduktor berbahan baku lokal dan elektroda baterai lithium berbahan baku tempurung kelapa. Dalam rangka menyambut Hari Listrik Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Oktober, LIPI menyelenggarakan Media Briefing terkait kedua penelitian ini pada Jumat, 26 Oktober 2018 di Media Center LIPI, Jakarta.
 
Jakarta, 26 Oktober 2018. Sejak tahun 2010, permintaan superkonduktor di pasar global naik secara signifikan, khususnya superkonduktor tipe High Temperature Superconductors (HTS). Hal ini karena penerapan material superkonduktor dapat mengurangi energy loss dan ramah lingkungan. “Salah satu material maju yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia sebagai bahan pendukung teknologi maju adalah HTS ini,” ungkap peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI, Agung Imaduddin.

Agung menjelaskan, bahan baku HTS yang memiliki nilai TC (critical temperature) tinggi dan berbahan baku yang banyak dimiliki oleh Indonesia adalah superkonduktor jenis Bi-Sr-Ca-Cu-O atau disebut BSCCO. “LIPI telah melakukan penelitian mengenai superkonduktor sejak tahun 2006 dengan menggunakan bahan Nb3Sn, Bi-Sr-Ca-Cu-O, MgB2, dan FeSeTe. Hasilnya berupa prototype kawat superkonduktor,” terangnya.

Lebih lanjut Agung mengatakan, aplikasi kawat superkonduktor terutama dilakukan pada bidang penghantar dan penyimpanan energy listrik, transformer dan motor listrik, serta alat kesehatan (MRI). “Namun, masih diperlukan kerjasama untuk pengembangan ke skala industri untuk dapat membuat kawat superkonduktor dengan skala yang lebih panjang untuk aplikasi trafo dan kabel transmisi listrik tegangan tinggi”, pungkasnya.

Sementara itu, Achmad Subhan dari Pusat Penelitian Fisika LIPI saat ini tengah mengembangkan baterai lithium dengan elektroda dari tempurung kelapa. “Tempurung kelapa memiliki bahan karbon aktif yang digunakan sebagai aditif dalam proses pembuatan elektroda. Bahan aditif karbon ini digunakan untuk meningkatkan nilai konduktifitas listrik baik ionik maupun elektronik,” jelasnya.

Achmad menambahkan, penggunaan karbon aktif yang optimum seperti tempurung kelapa sebagai komponen elektroda baterai lithium, dapat meningkatkan nilai kapasitas dan kemampuan daya baterai yang lebih tinggi. “Dengan biaya yang lebih rendah dapat menghasilkan produk elektroda yang lebih tinggi performanya,” paparnya.

Senada dengan Agung, ia memaparkan, proses pembuatan karbon aktif yang sesuai untuk kebutuhan industri baterai sangat berpotensi untuk dikembangkan.  “Pengembangan dari proses biomas menjadi karbon aktif dalam skala industri perlu dilakukan agar sesuai dengan kebutuhan apliklasinya dalam proses fabrikasi baterai lithium,” pungkasnya.
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Agung Imaduddin