LIPI Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture XX:Peran Riset COVID-19 untuk Indonesia Maju

 
 
Selama lebih dari setengah abad Lembaga Ilmu PengetahuanIndonesia (LIPI) terus berkontribusi untuk memajukan serta memasyarakatkan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Sebagai tradisi keilmuan sekaligus puncak rangkaian acara peringatan Hari Ulang Tahun ke-53, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)memberikan kehormatan kepada Prof. dr. Herawati Supolo-Sudoyo, Ph.D., dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkmanuntuk memberikan orasi ilmiah “Peran Riset COVID-19 untuk Indonesia Maju” di LIPI Sarwono Prawirohardjo Memorial LectureXX yang akan diadakanpada Jumat, 28 Agustus 2020 secara virtual melalui tautan http://s.id/SMLXXdan live streamingdi kanal Youtube LIPI.

Jakarta, 27 Agustus 2020. Kuliah ilmiah yang telah berlangsung sejak tahun 2001 ini merupakan salah satu bentuk penghargaan LIPI terhadap prestasi ilmiah dan dedikasi anak bangsa dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Penggunaan nama “Sarwono” dimaksudkan untuk mengenang jasa Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo, Kepala LIPI yang pertama, atas dedikasinya dalam membangun dan melembagakan ilmu pengetahuan di Indonesia. “Pandangan dan serta pengalaman panjang Prof. Herawati dalam bidang biologi molekuler serta penelitian dasar mengenai SARS-CoV-2 akan memberikan inspirasi bagi peneliti-peneliti Indonesia, baik dari sisi ilmiah maupun sebagai panduan bagi kita untuk menghadapi tantangan wabah COVID-19 yang menjadi permasalahan berbagai bangsa di dunia,” jelas Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko.

Herawati Supolo-Sudoyo saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekul Eijkman. Dirinya juga mengemban tugas sebagai Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).

Hera, begitu perempuan kelahiran Pare, Kediri 2 September 1951 ini biasa disapa, merupakan salah satu pemrakarsa Asosiasi Genetika Manusia Asia Pasifik (APSHG), pemrakarsa dan presiden pertama Asosiasi Biorisiko Indonesia, serta anggota dari berbagai perkumpulan internasional seperti Pan Asian SNP Initiativeyang memetakan pertama kali genetik manusia Asia.

Dalam bidang publikasi ilmiah, saat ini Hera telah mencatatkan 1901 sitasi terindeks Scopus dan 2495 sitasi di Google Scholar. Setelah memperoleh gelar dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia(UI), Hera melanjutkan studi Magister Sains di almamaternya tersebut. Gelar Ph.D dalam bidang Biokimia/Biologi Molekul diraih tahun 1990 dari Monash University, Melbourne, Australia. Proyek penelitian doktoralnya berfokus pada penyakit yang disebabkan oleh kelainan organel sel yang disebut mitokondria.

Peraih Habibie Award untuk Ilmu Kedokteran dan Teknologi ini melanjutkan ketertarikannya dalam bidang genetika molekul menggunakan genom mitokondria sebagai marka populasi. Dengan memanfaatkan keragaman populasi etnik Indonesia, kegiatan riset diperluas dengan fokus mempelajari keanekaragaman genetik yang berkaitan dengan ketahanan maupun kerentanan terhadap penyakit dalam proyek besar Indonesian Genome Diversity Project (IGDP).

Lembaga Eijkman juga terlibat dalam proyek kolaborasi Genom Asia, menggunakan whole genome sequencingyang mengarah pada pengembangan kedokteran presisi di masa depan,” pungkas Hera.


Sivitas Terkait : Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.
Diakses : 1273    Dibagikan :