LIPI Simpan Karya dan Data Ilmiah Lembaga Riset Indonesia

 
 
Repositori Ilmiah nasional (RIN) merupakan sistem pengelolaan dan  penyimpanan karya ilmiah dan data primer yang dihasilkan oleh para peneliti di  Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) tengah membangun dan mengembangkan “Sistem Repositori Ilmiah Nasional”. RIN menjamin ketersediaan, akses, dan mendorong peningkatan pemanfaatan karya ilmiah. Untuk mendorong hal tersebut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan Seminar Nasional “Research Data Management to Increase Research Quality” pada Rabu, 9 Mei 2018  yang mengupas tentang peranan manajemen data penelitian dan fungsi Repositori Ilmiah Nasional.
 
Jakarta, 8 Mei 2018. Penguasaan dan pemanfaatan iptek menuntut bangsa Indonesia untuk dapat mengelola karya ilmiahnya dengan baik. Pengelolaan karya ilmiah yang didukung oleh teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terkini akan dapat memperkuat dokumentasi data dan karya ilmiah, yang selanjutnya akan menjamin terakses dan terdiseminasinya data dan karya ilmiah tersebut ke seluruh lapisan masyarakat. Hal ini akan mendorong terciptanya masyarakat yang mandiri dan berkualitas serta mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dan kemajuan pembangunan
 
Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Mego Pinandito, menjelaskan bahwa Sistem Repositori Ilmiah Nasional ini akan digunakan untuk mengelola hasil penelitian berupa karya dan data ilmiah yang dihasilkan oleh para peneliti di Lembaga riset seluruh Indonesia. “Karya dan data ilmiah ini merupakan aset lembaga dan produk penting dari kegiatan penelitian. Bagaimana data tersebut harus dicatat, disimpan, dipelihara, dan dilestarikan menjadi perhatian LIPI agar seluruh kegiatan riset di Indonesia dapat tersimpan dalam sistem RIN ini,” katanya.
 
Data hasil penelitian masih tersebar di masing-masing peneliti atau kelompok penelitian. Hal ini menyebabkan akses data menjadi terbatas. Data rentan hilang karena kendala kapasitas penyimpanan, perangkat lunak yang sudah usang dan back-up data yang tidak teratur. Oleh sebab itu, data perlu dikelola oleh lembaga dalam sebuah repositori data agar dapat diakses dan dimanfaatkan kembali.
 
Mego juga menambahkan bahwa repositori data bermanfaat sebagai sumber data untuk reproduksi penelitian (reproduce) dan pemanfaatan kembali data (reuse). Hasil penelitian dapat direproduksi jika tersedia data sehingga dapat dilakukan penelitian kembali dengan metodologi yang sama untuk mendapatkan hasil yang sama. Reproduksi penelitian (reproduce) bertujuan untuk menguji validitas dan memperbaiki hasil penelitian. Sementara itu, pemanfaatan kembali data (reuse) adalah penggunaan data yang sama dengan metodologi yang berbeda untuk mencari pemecahan masalah yang optimal. “Penelitian yang berkualitas merupakan dampak dari ketersedian data yang berkualitas juga,” tutupnya.
 
Sebagai informasi, seminar kali ini menghadirkan Sonia Barbosa dan Philip Durbin dari Institute for Quantative Social Science – Havard University sebagai pembicara utama, serta pembicara dari Center for International Forestry Research (CIFOR) – Indonesia dan pemakalah dari LIPI terkait Repositori Ilmiah Nasional sebagai Manajemen Data Penelitian dan Sarana Analisis.
 
Keterangan Lebih Lanjut:
  • Dr. Mego Pinandito (Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI)
  • Dwie Irmawaty Gultom, Ph.D. (Kepala Bagian Humas, Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI)

Sumber: PDII LIPI
Penulis: dig
Editor: dig

Siaran Pers ini disiapkan oleh Humas LIPI


 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI diolah dari PDII LIPI

Sivitas Terkait : Ir. Sri Hartinah M.Si.